Pada 15 Desember, jurnalis Al Jazeera Samer Abudaqa dan Wael Dahdouh melaporkan dari sekolah Farhana di Khan Younis ketika Israel melancarkan serangan udara. Dahdouh terluka di lengan, tetapi berhasil melarikan diri ke rumah sakit. Sementara itu, Abudaqa tidak bisa bergerak dan tim penyelamat kesulitan menjangkaunya karena serangan terus berlanjut. Meski ada seruan agar Israel mengizinkan bantuan medis masuk, Abudaqa akhirnya meninggal setelah lima jam terluka tanpa pengobatan.
Sejak 7 Oktober 2023, Reporters Without Borders (RSF) mencatat setidaknya 130 jurnalis dan pekerja media terbunuh di Gaza akibat serangan Israel. Sumber lain memiliki jumlah yang berbeda, namun Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan 173 korban tewas berasal dari kalangan jurnalis. Hampir setahun setelah perang dimulai, Israel masih membunuh jurnalis, berupaya menciptakan situasi agar militer Israel menjadi satu-satunya pihak yang dapat mengontrol narasi informasi di Gaza.
Banyak jurnalis terjebak di Gaza, sementara yang berhasil keluar tidak bisa kembali. Situasi ini menjadikan profesi jurnalis di Gaza salah satu yang paling berbahaya, dengan angka kematian lebih dari 10 persen untuk pekerja media di sana. Antara 7 Oktober dan akhir 2023, 75 persen dari jurnalis yang tewas di dunia berada di Gaza. Pada Desember 2023, hanya dua bulan setelah serangan dimulai, Komite Perlindungan Jurnalis mengatakan zona perang di Gaza adalah yang “paling berbahaya” bagi wartawan.
RSF melaporkan lebih dari 130 jurnalis terbunuh, dan ada 31 kasus yang dikonfirmasi menargetkan jurnalis secara langsung karena profesinya. Peneliti menduga bahwa Israel sengaja menargetkan jurnalis dan menghancurkan infrastruktur media di Gaza untuk menciptakan pola serangan yang terlihat konsisten selama perang berlangsung.
Salah satu jurnalis yang menjadi korban adalah salah satu pendiri Ain Media, yang bekerja sama dengan Forensic Architecture untuk menyelidiki jejak rekan-rekannya yang hilang. Beberapa bulan kemudian, pendiri Ain Media ini terbunuh dalam serangan udara Israel yang menargetkan rumahnya.
Wartawan bukan satu-satunya sasaran agresi Israel. Israel juga menargetkan kantor-kantor tempat media beroperasi. Pada awal serangan Israel ke Gaza, Israel menghancurkan sejumlah gedung tinggi di Kota Gaza, tempat sebagian besar kantor media berada. “Ketika mereka menargetkan menara tertentu, mereka akan menghancurkan lebih dari 80 atau 100 lembaga media untuk menghancurkan konsentrasinya,” kata Mohammed Othman, seorang koresponden di Skeyes Center for Media and Cultural Freedom dari Gaza.
Seperti orang lain di Gaza, wartawan terpaksa meninggalkan wilayah yang diserang Israel. Beberapa media telah berhenti beroperasi sama sekali. “Ada sekitar 15 atau 16 stasiun radio di Jalur Gaza, semuanya berhenti,” kata Othman.
“Ada pola Israel yang menargetkan jurnalis Palestina selama 10 bulan terakhir dan melarang organisasi media atau jurnalis lain memasuki Gaza, kecuali dalam beberapa kasus langka ketika jurnalis ditawan,” kata Mohamad Bazzi, Direktur Pusat Kevorkian untuk Studi Timur Dekat di Universitas New York, kepada Al Jazeera.
Jonathan Dagher, kepala Reporters Without Borders (RSF) kawasan Timur Tengah, mengatakan banyak jurnalis menjadi takut menyalakan kamera “karena Anda tahu hal ini akan mengubah Anda menjadi target”. Penargetan jurnalis dan pembunuhan karakter mereka, penghancuran outlet media, pelarangan media asing dan pemblokiran masuk kembali bagi jurnalis Palestina yang telah pergi semuanya mengarah pada suatu pola bagi militer Israel, menurut para ahli dan sumber yang diwawancarai Al Jazeera.
“Penargetan dan pembatasan terhadap semua media di Gaza dan kemudian penempatan yang ditargetkan (militer Israel) menunjukkan adanya kampanye pemblokiran media guna membatasi liputan dan meredakan kritik tentang apa yang dilakukan militer Israel,” kata Dagher.
Sumber: https://www.aljazeera.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








