Dunia aktivis kemanusiaan diguncang oleh berita tragis terbunuhnya Aysenur Ezgi Eygi di tangan pasukan Israel di Tepi Barat. Kematiannya telah memicu perbincangan baru tentang Pendudukan Palestina, perjuangan rakyat Palestina, dan peran aktivis internasional yang mendukung mereka.
Eygi merupakan aktivis berkewarganegaraan Turki-Amerika yang berdedikasi lebih dari sekadar peserta protes. Ia mewujudkan solidaritas global yang telah lama memicu perlawanan terhadap penindasan di wilayah tersebut. Kehidupan, kata-kata, dan pengorbanannya yang terakhir mengungkap realitas penjajahan yang mengerikan dan kebutuhan mendesak akan intervensi internasional.
Lahir di Turki, Eygi memiliki keyakinan yang kuat, dan aktivitasnya merupakan cerminan komitmennya terhadap prinsip keadilan, kesetaraan, dan ketundukan kepada Allah. Dalam tulisannya, ia menekankan pentingnya konsep ummah, komunitas Muslim global, sebagai entitas kolektif yang melampaui batas negara dan perjuangan pribadi.
“Umat itu penting, saya perlu mendukung perjalanan saya dengan ketundukan penuh kepada Allah,” tulisnya suatu hari, yang mengungkap landasan spiritual aktivitas kemanusiannya. Keyakinannya yang teguh pada kekuatan komunitas Muslim untuk melakukan perubahan, ditambah dengan tekadnya untuk melawan penindasan, menjadikannya sebagai tokoh populer dalam gerakan pro-Palestina di Turki.
Komitmen yang ditunjukkan oleh Eygi membawanya ke garis depan penjajahan Israel atas Palestina. Di Tepi Barat ia menyaksikan kengerian yang dialami warga Palestina setiap hari di bawah pendudukan dan di sana pula ia menemui ajalnya yang tragis, dibunuh oleh pasukan Israel saat memperjuangkan hak asasi manusia secara damai. Kematiannya kini menjadi seruan bagi para aktivis di seluruh dunia, yang menyoroti bahaya besar yang dihadapi oleh mereka yang berani menentang pendudukan Israel.
Aysenur Ezgi Eygi, (26 tahun) ditembak mati pada Jumat lalu (6/9) dalam sebuah pawai protes di Beita, sebuah desa dekat Nablus, tempat warga Palestina berulang kali diserang oleh pemukim Yahudi sayap kanan.
Militer Israel mengatakan pada Selasa (10/9) bahwa penyelidikan awal menemukan kemungkinan besar pasukannya telah melepaskan tembakan yang membunuhnya secara tidak disengaja, dan pihaknya menyuarakan penyesalan yang mendalam.
Keluarga Eygi menyebut penyelidikan awal Israel “sangat tidak memadai” dan menuntut penyelidikan AS secara independen. Hamid Ali, suami Eygi mengatakan bahwa kematian istrinya “bukanlah kecelakaan dan para pembunuhnya harus bertanggung jawab.”
“Gedung Putih belum berbicara dengan kami. Selama empat hari, kami menunggu Presiden Biden mengangkat telepon dan melakukan hal yang benar,” kata Ali.
Dalam sebuah pernyataan, militer Israel mengatakan komandannya telah melakukan penyelidikan awal atas insiden tersebut dan menemukan bahwa tembakan itu tidak ditujukan kepadanya, melainkan kepada individu lain yang disebutnya sebagai “penghasut utama kerusuhan.”
“Insiden tersebut terjadi selama kerusuhan berdarah ketika puluhan tersangka Palestina membakar ban dan melemparkan batu ke arah pasukan keamanan di Persimpangan Beita,” klaim pihak Israel.
Namun sebenenarnya, warga Beita sedang menggelar unjuk rasa mingguan setelah salat Jumat untuk menentang permukiman ilegal Israel di Avitar, yang dibangun di puncak Gunung Sbeih. Masyarakat menuntut pemindahan permukiman ilegal tersebut, yang mereka anggap sebagai pelanggaran hak atas tanah mereka.
Pada periode yang sama, di Tepi Barat, Israel telah membunuh setidaknya 691 orang dan lebih dari 5.700 lainnya terluka akibat tembakan Israel, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Kematian Aysenur Ezgi Eygi adalah pengingat nyata tentang harga yang harus dibayar untuk menegakkan keadilan dalam menghadapi kekuatan yang luar biasa. Namun, kerja kerasnya sepanjang hidup tidak sia-sia. Di Turki dan sekitarnya, warisannya sebagai pendukung yang bersemangat untuk perjuangan Palestina terus menginspirasi generasi aktivis baru. Ia dikenang bukan hanya karena keberaniannya, tetapi juga karena rasa tanggung jawabnya yang mendalam terhadap umat dan komitmennya yang teguh terhadap prinsip-prinsip Islam.
Di tingkat internasional, kematian Eygi telah memicu seruan baru agar Israel dan pihak-pihak yang terlibat bertanggung jawab atas kematiannya. Organisasi hak asasi manusia, termasuk Amnesty International dan Human Rights Watch, telah mengutuk pembunuhannya dan mendesak masyarakat global untuk mengambil tindakan lebih kuat guna melindungi para aktivis di Wilayah Pendudukan Palestina.
Ada juga tekanan yang semakin besar terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengambil tindakan yang lebih tegas, dengan beberapa pihak menyerukan sanksi terhadap Israel atas pelanggaran hukum internasional yang terus dilakukannya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin pada Selasa (9/10) menuntut perombakan perilaku militer Israel di Tepi Barat yang diduduki dalam menanggapi kematian Eygi. Blinken dan Austin, dalam komentar paling keras mereka hingga saat ini, mengkritik Israel dan menggambarkan pembunuhan Eygi sebagai tindakan yang “tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan”. Mereka secara terpisah mengatakan bahwa Washington akan mendesak pemerintah Israel agar membuat perubahan terhadap cara pasukan Israel beroperasi di Tepi Barat.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








