Resolusi-resolusi PBB tidak menghentikan ekspansi kolonial Israel atau kekerasannya–juga tidak akan menghentikan genosida Israel di Gaza. Selama komunitas internasional memecah pelanggaran Israel menjadi peristiwa-peristiwa terpisah dengan cara yang sama seperti pelaporan berita, tidak ada yang akan menghentikan genosida tersebut.
Pada Selasa (28/5), Aljazair mengusulkan rancangan resolusi untuk menghentikan serangan Israel di Rafah, menuntut gencatan senjata segera. AS sebelumnya telah memveto resolusi-resolusi dan tidak ada alasan kuat untuk berpikir bahwa hal itu akan mengubah rekam jejaknya, mengingat meskipun semua yang telah terjadi di Rafah, AS masih bersikeras bahwa Israel tidak melewati garis merah apa pun, bahkan setelah lebih dari 36.000 warga Palestina terbunuh, ribuan disiksa, terluka dan ditawan, serta hampir seluruh populasi terpaksa mengungsi.
Dengan mengutip putusan Mahkamah Internasional, rancangan resolusi tersebut menyoroti Rafah. Israel tentu akan mengabaikan resolusi apa pun, tetapi permainan diplomatik tetap stabil: meminta Israel menghentikan satu pelanggaran tertentu untuk jangka waktu tertentu, atau pelanggarannya dibatasi di satu wilayah tertentu. Seluruh konteks apartheid negara kolonial pemukim dan genosida secara nyaman diabaikan. Hal yang sama terjadi ketika Dewan Keamanan PBB mengesahkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata saat memasuki Ramadan lalu. Namun, sebenarnya hal seperti itu merupakan sebuah ejekan yang pernah ada, yaitu dengan memberikan sedikit jeda kepada penduduk Gaza dari pengeboman lalu mereka kembali dibom setelah puasa berakhir.
Apakah komunitas internasional mengikuti narasi Israel tentang tujuan akhirnya di Rafah? Jika Israel berhenti mengebom Rafah, apa yang menghentikan pasukan pendudukan untuk mengebom daerah lain di Gaza? Para pengungsi terus melarikan diri dari satu daerah ke daerah lain, sementara Israel mengebom apa saja yang bergerak, bahkan di “zona aman” yang mereka tetapkan sendiri.
Selama narasi Israel tetap tidak ada yang menentang maka tidak ada harapan bagi Gaza. Setiap resolusi yang menargetkan pelanggaran tertentu hanya memberi Israel lebih banyak ruang untuk memanipulasi skenario lainnya, sambil tetap bertindak dengan impunitas penuh.
Seperti yang bisa diduga, AS menolak resolusi Aljazair, dengan menyebutnya tidak memiliki pengaruh. Wakil Duta Besar AS Robert Wood mengatakan, “Resolusi lain tidak selalu akan mengubah apa pun di lapangan.” Ironisnya, justru AS tidak melakukan apa pun untuk mengubah situasi brutal yang terjadi di lapangan.
Di sisi lain, Wakil Duta Besar Palestina Majed Bamya menganggap rancangan resolusi itu penting karena untuk memaksa Israel menghentikan serangan militernya dan menarik pasukan pendudukannya serta memastikan gencatan senjata segera. Para pejabat Palestina tetap berpegang pada narasi internasional yang ilusif untuk menghentikan Israel, meskipun mereka tahu bahwa hanya ada satu cara untuk menghentikan Israel, yaitu memaksa dekolonisasi pada entitas kolonial pemukim.
Tentu saja, rakyat Palestina membutuhkan bantuan internasional, tetapi resolusi tidak membantu. Mereka hanya membantu Israel, baik diadopsi maupun tidak. Satu-satunya cara untuk menghentikan genosida Israel adalah dengan “men-de-Zionisasi” Palestina yang diduduki dan membubarkan negara Zionis kolonial pemukim.
Hak Israel untuk eksis di tanah orang lain adalah klaim yang dibuat oleh Zionis. Dunia tidak hanya menerima klaim itu, tetapi sekarang juga mendukung hak Israel untuk melakukan genosida, karena lembaga-lembaga internasional melindungi para penjahat perang.
Sumber: https://www.#
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








