Sebagian besar pengungsi di Rafah adalah mereka yang terpaksa mengungsi beberapa kali sejak Oktober karena serangan Israel, yang secara bertahap memperluas invasinya di seluruh Gaza.
Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperkirakan bahwa setidaknya 395 pengungsi internal yang tinggal di tempat penampungan UNRWA telah terbunuh dan setidaknya 1.379 lainnya terluka sejak 7 Oktober, demikian disampaikan dalam pernyataannya.
Nadia Hardman, peneliti di Human Rights Watch, mengatakan bahwa orang-orang sudah berjuang untuk bertahan hidup di area kecil tempat mereka dipaksa dan diungsikan. Hardman mengatakan kepada Al Jazeera bahwa orang-orang yang dia ajak bicara, beberapa di antaranya telah mengungsi hingga 10 kali. Mereka khawatir dengan kemungkinan invasi darat di daerah tersebut.
“Satu pertanyaan yang terus mereka tanyakan adalah ‘Ke mana kita harus pergi?’ Mereka telah melarikan diri ke daerah yang dulunya dianggap aman. Janji Israel untuk memberikan jalur aman harus dianalisis dengan mempertimbangkan bahwa Israel secara konsisten gagal melakukannya,” kata Hardman.
Direktur Eksekutif Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), Catherine Russell, mengatakan bahwa warga sipil di Rafah harus dilindungi tanpa terkecuali.
“Warga sipil yang terdesak, hidup di jalan-jalan, atau di tempat penampungan. Mereka harus dilindungi. Mereka tidak punya tempat aman untuk pergi,” tulis Russell di X, menambahkan bahwa daerah tersebut dipenuhi oleh anak-anak dan keluarga.
“Rafah memiliki hampir setengah dari jumlah penduduk Gaza. Sejak awal perang di Gaza, orang-orang telah melarikan diri ke Rafah mengikuti perintah evakuasi Israel.” Nebal Farsakh, juru bicara Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS), mengatakan kepada Al Jazeera.
“Tidak ada tempat yang aman sama sekali, dan tidak ada cara untuk evakuasi. Di samping itu, infrastruktur hancur total, dan kurangnya transportasi juga membuatnya tidak mungkin bagi masyarakat untuk mencari jalan ke mana pun,” tambah Farsakh. “Kami meminta agresi perang dihentikan karena telah berlangsung begitu lama,” pungkasnya.
Hingga kini, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 28.340 warga Palestina terbunuh oleh Israel sejak 7 Oktober. Lebih dari 67.984 warga Palestina juga terluka, tambah kementerian tersebut. Dalam 24 jam terakhir, pasukan Israel membunuh setidaknya 164 orang dan lebih dari 200 orang terluka, demikian disampaikan dalam pernyataan kementerian di Telegram.
sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








