Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan bahwa ketidakbahagiaan seorang ibu hingga mengalami gangguan mental saat hamil atau pascapersalinan dapat meningkatkan potensi bayi stunting atau tengkes. “Penyebab stunting tidak hanya oleh faktor fisik semata, namun juga karena gangguan mental yang menyebabkan ketidakbahagiaan seorang ibu dalam mengasuh bayinya,” kata Ketua Komunitas Wanita Indonesia Keren, Maria Stefani Ekowati dalam keterangan resmi BKKBN di Jakarta, Senin (19/6).
Maria menambahkan, gangguan kesehatan mental pada orang tua berdampak terhadap tumbuh kembang anak, terutama pada seribu hari pertama kehidupan (HPK). Berdasarkan sebuah penelitian skala nasional yang ia kutip, sebanyak 50 hingga 70 persen ibu di Indonesia mengalami gejala minimal hingga gejala sedang baby blues. Jumlah tersebut, lanjut Maria, merupakan angka tertinggi ketiga di kawasan Asia.
“Penelitian HCC di Pekan ASI Sedunia tahun 2022 membuktikan 6 dari 10 ibu menyusui di Indonesia tidak bahagia. Anak yang terlahir dari ibu dengan stres postpartum, diketahui sebanyak 26 persen mengalami stunting,” kata Maria. Ia menyebut, penelitian yang dilakukan Andriati pada 2020 menunjukkan, 32 persen ibu hamil mengalami depresi dan 27 persen depresi postpartum. Sementara itu, penelitian di Lampung menunjukkan bahwa 25 persen ibu mengalami gangguan depresi setelah melahirkan.
“Itu sebabnya kami meyakini perlu adanya model promosi kesehatan mental di komunitas dan secara strategis model ini diimplementasikan di tingkat Posyandu dan Tim Pendamping Keluarga,” kata Maria.
Di sisi lain, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengungkapkan, pihaknya memiliki tugas utama untuk mengubah pola perilaku masyarakat dalam rangka mempercepat penurunan stunting. Menurut Hasto, mengubah pola perilaku masyarakat merupakan tantangan tersulit yang harus dihadapi pemerintah dalam melindungi anak dari stunting. Menurutnya, perilaku reproduksi dalam keluarga masih minim karena banyak keluarga yang baru menikah tidak paham pentingnya merencanakan kehamilan atau cara menjaga kesehatan reproduksi.
Ia pun menekankan pentingnya menjaga jarak antar-kelahiran (birth to birth interval) dalam keluarga. Dengan menjaga jarak kelahiran, ibu bisa beristirahat, baik secara fisik maupun mental, serta memaksimalkan pemberian pola asuh yang baik kepada anak-anaknya.
“Saya kira kemampuan keluarga baru untuk hidup berkeluarga yang sehat masih minim dan itu tantangan. Kemampuan mereka masih sebatas mengadakan pesta atau beli make up. Jadi, bukan bagaimana hamil sehat, bukan bagaimana menyiapkan kehamilan yang baik,” kata Hasto dalam Rapat Pakar Formulasi Model Promosi Nutrisi dan Kesehatan Mental pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan Berbasis Posyandu dan Pendamping Keluarga di Jakarta Timur, Sabtu (17/6).
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








