Ratusan korban tanah gerak yang terdiri atas 43 keluarga di Desa Tumpuk, Ponorogo, Jawa Timur sampai saat ini masih bertahan di pengungsian. Hal itu karena tempat tinggal mereka sudah tidak layak huni, sementara janji relokasi belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Surono di Ponorogo, mengatakan bahwa pihaknya telah meminta para pengungsi untuk bersabar, sebab harus berlebaran di posko pengungsian sementara di TK Dharma Wanita Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo.
Surono melanjutkan, proses relokasi kini masih dalam tahap melengkapi administrasi yang diperlukan. Mulai ke pihak Perhutani, Gubernur Jawa Timur, hingga lampiran surat rekomendasi yang diterbitkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung. “Sebenarnya koordinasi relokasi ini sudah clear, hanya saja surat dari Perhutani belum keluar. Setelah itu, disposisi gubernur, baru disiapkan lahannya,” katanya, Rabu (12/4).
Ia memperkirakan pengungsi masih akan bertahan di tenda-tenda pengungsian sekitar dua bulan. Selama itu, proses administrasi ke beberapa pemangku kepentingan itu diharapkan sudah rampung sehingga tahap pembangunan hunian dapat secepatnya dikerjakan. Sebelumnya Pemerintah Kabupaten Ponorogo memilih petak Lunggur Mojo milik Perhutani sebagai lokasi pembangunan huntara yang berjarak dua kilometer dari lokasi tanah retak. Pemilihan lokasi tersebut setelah mempertimbangkan aspek keselamatan serta akses jalan di tanah seluas 4.000 meter persegi tersebut. “Nominalnya sekitar Rp 2,1 miliar oleh provinsi, akan dibangun 43 unit rumah berukuran 5×7 meter,” kata Surono.
Peristiwa tanah bergerak terjadi pada 26 Februari dini hari di Desa Tumpuk, Ponorogo. Diperkirakan bencana alam ini akibat hujan intensitas sedang-tinggi terjadi di wilayah Kabupaten Ponorogo. Surono menjelaskan kronologi bencana tanah bergerak berawal di tanggal 14 Februari yang hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Sawoo. Hal tersebut berdampak terjadinya tanah gerak di Dukuh Sumber RT/RW 01/01 Desa Tumpuk, Kecamatan Sawoo. “Awalnya, lebar retakan antara 5 Cm di beberapa titik lokasi yang berbeda, kemudian pada 21–26 Februari tanah mengalami pergerakan dan penurunan yang signifikan,” ungkapnya.
Sumber:
https://rejogja.republika.co.id
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








