Palestina dan segala persoalan di dalamnya yang tidak kunjung selesai dari waktu ke waktu menimbulkan masalah yang semakin besar di berbagai aspek kehidupan. Agresi dan penyerangan yang terus menerus dilancarkan oleh Zionis membuat penduduk Palestina kehilangan hak-hak dasar mereka untuk hidup, tak terkecuali hak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas.
Kondisi Palestina yang semakin memprihatinkan dari waktu ke waktu seringkali membuat dunia memandang Palestina sebagai negara yang “terbelakang” dan selalu bergantung pada bantuan dari donatur. Tetapi mereka salah, Palestina adalah negara yang melahirkan jiwa-jiwa tangguh, baik itu laki-laki maupun perempuan, mulai dari usia balita hingga lansia. Berikut adalah salah satu kisah perempuan tangguh Palestina yang di usia senja tetap memilih untuk menempuh pendidikan formal hingga tuntas.
Baca juga kisah perempuan Palestina berprestasi lainnya dalam adararelief.com
Wafaa Salam adalah seorang perempuan Palestina yang membuktikan bahwa menuntut ilmu tidak pernah dibatasi oleh usia. Ia sama sekali tidak malu meskipun memulai perjalanan pendidikannya di usia yang tidak lagi muda. Ia memperoleh ijazah sekolah menengah pada usia 48 tahun, kemudian meraih gelar sarjana pada usia lebih dari 50 tahun, dan meraih gelar master dan praktik profesi hukum pada usia melebihi 60 tahun. Kesuksesannya dalam menyelesaikan pendidikan formal membuat hidupnya menjadi lebih baik. Usai lulus, ia mampu memulai karir kehidupan ilmiah baru setelah pensiun dari pekerjaan lamanya, sehingga kisah suksesnya menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Senyum cerah Wafaa (64), menghiasi wajahnya saat dia berbicara kepada Women for Palestine ketika sesi wawancara. Ia dengan bangga menceritakan karir ilmiahnya setelah baru-baru ini memperoleh sertifikat praktik hukum. “Saya masih belajar pada tahun pertama sekolah menengah ketika saya menikah. Saya kemudian melahirkan sepuluh orang anak. Saya merasa bahwa anak-anak saya adalah tanggung jawab besar yang harus saya didik dengan cara yang terbaik.”
Wafaa juga menceritakan pengalamannya dalam menuntut ilmu sambil mengasuh anak-anaknya, “Saya meluangkan seluruh waktu saya untuk merawat anak-anak, untuk membesarkan dan mendidik mereka. Di sela-sela waktu, saya mencoba membaca setiap buku yang bisa saya dapatkan; majalah, surat kabar, atau bahkan sembarang tulisan di kertas untuk meningkatkan budaya literasi dan informasi yang berdampak besar pada peningkatan kualitas membaca saya.”
Dia menjelaskan bahwa setelah anak-anaknya tumbuh besar dan dia bisa keluar rumah, tujuan pertamanya adalah masjid di dekat rumahnya. Di sana, ia biasa mengikuti kompetisi budaya dan menghafal Al-Quran, hingga kemudian dia dipercaya menjadi salah satu pengajar di sana. Prestasinya dalam menghafal Al-Quran membuat orang-orang di sekitarnya mendorongnya untuk melanjutkan sekolah agar bisa mendapatkan ijazah sekolah menengah.
Awalnya, Wafaa ragu dan merasa itu adalah hal yang mustahil, terutama karena dia juga tidak lihai berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Akan tetapi, karena ia memiliki tekad yang kuat untuk terus belajar, ia memantapkan diri untuk kembali melanjutkan pendidikannya yang dulu sempat terputus.
Tahun ketika dia mendaftar sekolah menengah adalah tahun tersibuk, karena suaminya jatuh sakit dan kondisi kesehatannya memerlukan penanganan khusus di Mesir. Perawatan suaminya berlangsung selama berbulan-bulan sehingga dia tidak dapat membaca satu halaman pun dari buku-buku pelajaran. Pada tahun yang sama, dia juga menikahkan putranya.
Selain disibukkan dengan keluarganya, Wafaa juga harus memberikan kursus tilawah Al-Quran, terutama karena dia telah menguasai qiraat sab’ah dan telah mendapat sanad. Kepemilikan sanad membuat banyak perempuan ingin belajar Al-Qur’an dengannya untuk meneruskan mata rantai ta’lim (ijazah dan sanad) setelah lulus.
Wafaa mengatakan, salah satu situasi yang sulit untuk dilupakan adalah ketika sedang menjalani ujian bahasa Arab. Saat itu, dia menjawab dengan sangat cepat di kertas ujian dan menyerahkannya secepat mungkin, membuat panitia mengingatkan bahwa dia masih punya banyak waktu untuk memeriksa kembali sebelum dikumpulkan. Dia segera memberitahu panitia bahwa kondisinya tidak memungkinkan karena putrinya sedang berada di rumah sakit untuk melahirkan. Dia ingat putrinyalah yang mendorong dan membantunya belajar kursus bahasa Inggris ketika ia mengatakan akan melanjutkan sekolah.

Terlepas dari kesibukan yang membuatnya tidak dapat belajar dengan baik, Wafaa berhasil mendapat nilai rata-rata yang sangat baik yaitu sebesar 86%. Kecintaannya pada sains membawanya pergi untuk mendaftar di Universitas Islam. Akan tetapi, kerumunan besar siswa di ruang pendaftaran ketika itu membuatnya ingin mundur dan pulang saja. Namun, dia mendengar seorang karyawan memanggilnya untuk membantunya mendaftar sebagai mahasiswa sains di Sekolah Tinggi Syariah dan Hukum. Wafaa pun kembali meneguhkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Terlepas dari kesibukannya mengurus suaminya yang sakit, anak-anaknya, rumahnya, dan pekerjaannya di masjid, dia berhasil lulus dengan pujian dari universitas. Semua pencapaiannya tidak memuaskan rasa penasarannya terhadap ilmu yang didalami, hingga ia memutuskan untuk melanjutkan studi pascasarjana untuk mendapatkan gelar master dalam hukum Islam dengan spesialisasi yurisprudensi komparatif.
Beberapa orang mengira itu adalah pencapaian akademis terakhirnya, tetapi sebenarnya dia menginginkan lebih, jadi dia bekerja untuk mendaftar pelatihan dan mengikuti ujian untuk mempraktikkan profesi hukum. Ia berhasil dalam ujian itu dan memperoleh sertifikat praktik dalam waktu singkat.
Menurut Wafaa, tidak peduli berapa pun usianya, setiap hari baru baginya adalah awal kehidupan baru. Banyak ambisi yang ingin ia capai, dan usia bukanlah penghalang untuk meraih lebih banyak kesuksesan. Dalam setiap langkahnya, ia juga tetap mengutamakan ilmu Al-Qur’an yang memberikan keberkahan baginya dalam meraih kesuksesan yang silih berganti.
Wafaa Salam adalah salah satu dari sekian banyak perempuan Palestina yang tetap memprioritaskan pendidikan, tanpa melupakan fitrahnya sebagai seorang perempuan, istri, dan ibu. Kesibukan menjadi seorang ibu dengan anak yang banyak tidak lantas membuatnya patah semangat, melainkan membuatnya semakin termotivasi untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya demi bisa memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dan yang terpenting, beliau selalu mendahulukan ilmu agama karena memahami bahwa Al-Qur’an adalah induk dari segala ilmu di dunia ini.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
http://www.womenfpal.com/news/2023/2/19/وفاء-حكاية-م-لهمة-لمحامية-م-نحت-المزاولة-بعد-التقاعد
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








