Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menerbitkan prevalensi stunting di Indonesia yang menunjukkan angka 21,6% pada 2022. Angka ini turun dari tahun 2021 yang berada di angka 24,4%. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kembang anak balita akibat dari kekurangan gizi saat mereka dalam kandungan hingga dilahirkan, tetapi kondisi stunting terlihat setelah bayi berusia dua tahun.
Dikutip dari laman bkkbn.go.id, definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita dengan nilai z-score kurang dari -2.00 SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3.00 SD (severely stunted). Sedangkan balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan Panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut usianya kurang jika dibandingkan dengan standar baku WHO multicentre growth reference study tahun 2006. Stunting pasti pendek (stunted) tetapi pendek belum tentu stunting.
Dokter spesialis gizi dari Universitas Indonesia dr. Marya Haryono, MGizi, SpGK, FINEM, mengatakan, permasalahan stunting yang dialami anak dapat terjadi karena berbagai faktor penyebab, salah satunya karena gerakan tutup mulut (GTM) atau kurangnya nafsu makan. Menurut dia, GTM atau kurangnya nafsu makan tersebut bisa menyebabkan risiko nutrisi yang tidak terpenuhi. Oleh karena itu, kondisi ini harus menjadi perhatian khusus bagi para orang tua.
“GTM biasanya terjadi setelah balita, karena anaknya sudah tahu cita rasa. Tapi, GTM juga bisa terjadi karena dia terganggu. Kalau bahasa kekiniannya itu ter-distract, banyak sekali pengganggunya,” ungkap Marya. GTM dapat terjadi karena anak mengalami banyak gangguan. Bisa karena gadget, atau mengalami masalah pencernaan pada anak. Oleh sebab itu, apabila terjadi GTM dalam jangka waktu panjang, Marya menyarankan agar orang tua segera memeriksakan anak ke dokter.

Untuk mengatasinya, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengajarkan anak tentang pola yang teratur. Selain itu, orang tua harus makan bersama anak dan membuat suasana makan yang menyenangkan agar anak juga memiliki keinginan sendiri untuk makan. Pola ini, lanjut dia, juga harus dilakukan dengan sabar dan berkelanjutan, sebab tentunya perlu waktu untuk dapat mengubah kebiasaan anak menjadi teratur saat makan.
Di samping itu, orang tua juga perlu mengajarkan anak tentang rasa lapar dan kenyang, karena apabila anak tak memiliki sensasi lapar, tentunya hal ini akan berdampak pada kesehatannya. Sebaliknya, tak memiliki sensasi kenyang juga tak baik bagi kesehatan anak. “Biasanya kita mengatur jangan sampai anaknya tidak punya sensasi lapar. Dia nggak tahu kapan lapar, kapan kenyang. Kalau dia nggak punya rasa lapar, dia kenyang terus. Kadang sampai dikejar-kejar,” terang Marya.
Sumber:
https://kampus.republika.co.id
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








