Gembira dan optimis dengan musim produksi jeruk yang melimpah di Jalur Gaza, Muhammad Al Qudra mulai memanen jeruk, karena musim panen sudah dimulai dengan datangnya bulan November ini. Al-Qudra mengatakan bahwa harapan untuk tahun ini sangat menjanjikan karena produksinya dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya, meski ada penundaan musim panen selama lebih dari sebulan.
Dia menambahkan “Ada area besar yang ditanami jeruk di area Al-Muhararat, dan ditanami 4 varietas jeruk, termasuk Abu Surra, Kalamantina Makhal, dan Nova, selain jenis lemon terbaik, yang sebelumnya diekspor ke Jordan karena kualitas tinggi mereka.” Dia mengatakan, produksi yang melimpah tahun ini disebabkan beberapa hal, antara lain karena tanahnya cocok untuk tanaman tersebut, selain karena pengairan jeruk dengan air tawar. Dan di antara hasil panen tersebut, tanaman jeruk jenis “Abu Surra” paling melimpah untuk tahun ini.
Sementara itu, juru bicara teknis Kementerian Pertanian di Jalur Gaza, Muhammad Abu Odeh, mengungkapkan produk jeruk lokal tahun ini merupakan swasembada, dan tidak akan ada produk pesaing dari luar negeri. Abu Odeh mengatakan bahwa tanah yang ditanami jeruk diperkirakan mencapai 19 ribu dunam, dengan tingkat produksi yang dapat mencapai 44 ribu ton. Dia menegaskan bahwa 80% produk tersebut merupakan swasembada, menunjukkan bahwa yang tersedia di pasar Gaza adalah produksi lokal dan tidak akan ada produk pesaing dari luar Jalur Gaza.
Mengenai varietas jeruk yang diproduksi oleh Jalur Gaza, Abu Odeh mengindikasikan bahwa lemon menempati urutan teratas dalam daftar buah jeruk yang tersedia pada tahun ini, diikuti oleh beberapa varietas jeruk, termasuk Abu Surra, kalamantina, dan pomelo. Ia mengatakan terdapat jeda selama beberapa tahun dalam produksi tanaman jeruk, tetapi secara historis Jalur Gaza merupakan lahan pertanian dengan banyak jeruk yang ditanam dan diekspor ke luar negeri. Ada sejumlah faktor yang menyebabkan penurunan produksi, termasuk geografi wilayah pertanian dan peningkatan salinitas air, yang menyebabkan penurunan kualitas jeruk. Israel juga mencabut banyak pohon, baik jeruk, zaitun, atau buah-buahan, yang menyebabkan penurunan produksi banyak tanaman di Gaza.
Menurut Abu Odeh, produksi buah jeruk di Jalur Gaza dimulai dari 11 November hingga Februari. Abu Odeh menegaskan bahwa kualitas adalah kepentingan petani dan sama dengan daya beli warga, sehingga harus ada keseimbangan di pasar. Maka dari itu, petani akan memasarkan barangnya dengan baik, sehingga ada kesinambungan dalam proses produksi secara paralel dengan daya beli masyarakat.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








