Rachel Corrie berusia 23 tahun saat buldoser tentara Israel menabrak dan melindasnya hingga terbunuh, pada 16 Maret 2003 di Gaza, Palestina.
Para saksi mata mengatakan bahwa buldoser dengan sengaja melaju ke arah Corrie yang pada saat itu mengenakan jaket berwarna jingga terang.
“Buldoser menuju ke arahnya dengan sangat lambat. Dia terlihat jelas, tepat di depan mereka,” kata kawannya sesama aktivis, Tom Dale, “Semua aktivis di sana berteriak, berlari ke arah buldoser, berusaha menghentikan mereka. Tapi mereka terus berjalan,” tambahnya. Richard Purssell, aktivis lain, mengatakan, “Sopir tidak memperlambat kecepatannya; dia hanya menabraknya. Kemudian dia membalikkan buldoser itu kembali ke atasnya lagi.”
Lahir pada 10 April 1979, perempuan berambut pirang itu bernama lengkap Rachel Aniene Corrie. Ia adalah seorang mahasiswa Evergreen State College, sebuah kampus lokal di Olympia, Washington. Dalam rangka tugas kuliah, ia datang ke Gaza untuk sebuah proyek kota kembar yang menghubungkan Rafah yang berada di Selatan Gaza dengan kota Olympia tempat kelahirannya. Di Gaza, ia terlibat dengan gerakan International Solidarity Movement (ISM) yang memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina dalam melawan pendudukan Israel.
Pada Minggu, 16 Maret, pukul dua siang, Corrie menerima telepon seluler dari rekannya di ISM, “Orang-orang Israel telah kembali,” katanya kepada Corrie. “Cepat ke sini. Saya rasa mereka sedang menuju rumah Dr. Samir.”
Berita ini membuatnya khawatir. Ia mengenal keluarga tersebut dengan sangat baik. Doktor Samir Nasrallah adalah seorang apoteker Palestina yang tinggal bersama istri dan tiga anaknya di kota Rafah, Jalur Gaza, beberapa ratus meter dari perbatasan Mesir. Corrie dan aktivis pro-Palestina lainnya yang berbasis di Rafah sering menghabiskan malam di rumah Nasrallah, berupaya menghalangi penghancuran rumah penduduk wilayah tersebut dan bertindak sebagai perisai manusia terhadap tank dan buldoser Israel. Hampir setiap bangunan lain di daerah itu telah dirobohkan dalam beberapa bulan terakhir.
Corrie yakin bahwa rumah Nasrallah akan dihancurkan, maka ia pun naik taksi ke lingkungan Distrik As-Salam. Jalan beraspal di pusat kota Rafah memberi jalan ke jalur berpasir yang dipenuhi dengan kebun zaitun, masjid, rumah sederhana, dan lapangan tanah tempat Corrie sering bermain sepak bola dengan pemuda setempat. Pukul 14.30, seorang tetangga Nasrallah bernama Abu Ahmed melihat aktivis itu bergegas melewati rumahnya. Abu Ahmed menggambarkan Corrie sebagai perempuan bermata cokelat, dengan tulang pipi tinggi, dan rambut pirang yang dikuncir kuda, ia membawa megafon di satu tangan dan jaket neon oranye di tangan lainnya. “Masuklah dan minum teh,” Abu Ahmed mendesaknya. Namun, Corrie memberitahunya bahwa ia tidak punya waktu. Abu Ahmed hanya bisa memperhatikannya saat ia menghilang di sudut rumahnya, menuju deru mesin.
Hingga kemudian peristiwa tersebut terjadi. Bertindak berani menghalangi buldozer Israel, Rachel Corrie dihancurkan sampai mati. Tengkoraknya retak, tulang rusuknya hancur, paru-parunya tertusuk. Ia terbunuh di tengah totalitas perjuangannya bagi rakyat Palestina.
Pemerintah Israel, yang jarang mengakui kematian warga sipil Palestina yang terbunuh selama operasi militernya, menolak bertanggung jawab atas kematian Corrie. Perdana Menteri Israel saat itu, Ariel Sharon menjanjikan kepada Presiden Bush sebuah “penyelidikan yang menyeluruh, kredibel, dan transparan.” Lalu Israel menyatakan pembunuhan itu sebagai “kecelakaan yang disesalkan” dan menyalahkan Corrie yang terlalu bersemangat dan aktivis lain yang bekerja sebagai tameng manusia. Tuduhan dan tuntutan balasan terus bermunculan, hingga fakta kematian Rachel Corrie larut menjadi berbagai versi kebenaran—tidak ada yang sepenuhnya meyakinkan.
Pada 2005, orangtua Corrie mengajukan gugatan kepada pemerintah Israel karena tidak melakukan penyelidikan penuh atas kematian putrinya. Dalam gugatan tersebut, mereka meminta Israel membayar kompensasi simbolis sebesar 1 Dolar Amerika Serikat, dan membawa kasus tersebut sebagai langkah keadilan bagi Corrie dan perjuangan rakyat Palestina yang dibelanya.
Pada Agustus 2012, pengadilan Israel menolak gugatan. Mereka tetap berpegang pada hasil investigasi internal mereka pada 2003, yang menganggap kejadian tersebut sebagai sebuah kecelakaan, bahwa supir buldoser tidak melihat Corrie yang menurutnya berada dibalik gundukan tanah. Sebaliknya, Israel menuduh ISM bertanggung jawab sebagai akibat aksi mereka yang dianggap ilegal dan mendukung “teroris Palestina”.
Sebuah video yang dirilis pada 2006 di Youtube menunjukkan wawancara dengan Rachel Corrie pada 14 Maret 2003, dua hari sebelum ia dibunuh.
“Saya merasa seperti sedang menyaksikan penghancuran sistematis kemampuan orang untuk bertahan hidup. Ini mengerikan.” Kata Corrie, setelah sebelumnya menceritakan situasi mencekam di Palestina yang disaksikannya sehari-hari; Israel membunuh anak-anak, menghancurkan rumah, menghancurkan ekonomi, dan memblokade Gaza.
Kehidupan dan perjuangan Rachel Corrie diabadikan dalam banyak penghormatan, di antaranya drama yang berjudul My Name Is Rachel Corrie dan sebuah paduan suara The Skies are Weeping. Tulisan-tulisannya dibukukan pada tahun 2008 berjudul Let Me Stand Alone, yang mengisahkan proses pendewasaan seorang wanita muda yang ingin membuat dunia sebagai tempat yang lebih baik. Sebuah lembaga sosial Rachel Corrie Foundation for Peace and Justice didirikan untuk melanjutkan perjuangannya.
Penulis :
Ihdal Husnayain, SE, MSi (Han).
Penulis merupakan anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia merupakan lulusan Fakultas Ekonomi UI dan telah menempuh pendidikan masternya di Universitas Pertahanan Indonesia.
Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Rachel_Corrie#cite_note-17
https://www.israelnationalnews.com/Articles/Article.aspx/3735
https://www.motherjones.com/politics/2003/09/death-rachel-corrie/







