Palestina, sebuah negara yang sarat akan sejarah, tradisi, dan juga menjadi tanah suci bagi tiga agama samawi. Sebuah negara yang seringkali lebih dikenal dengan adanya berbagai konflik dan juga penyerangan yang dilontarkan oleh tentara Zionis membuatnya kurang dikenali dari sisi kebudayaan. Berbekal informasi yang sempat muncul di media tentang peringatan Hari Busana Tradisional Palestina, yang sempat dirayakan pada 30 Juli 2019 lalu oleh warga di Jalur Gaza, di mana saat itu warga berbaris dengan mengenakan pakaian tradisional bernama “Thobe” sebagai lambang identitas negara Palestina.
Thobe merupakan gaun tradisional yang dibuat oleh tangan terampil para wanita Palestina, yang mana dalam baju tersebut terdapat hiasan yang sangat menawan sebagai ciri khasnya. Sejarah baju tradisional nan indah ini bermula sejak abad ke-19, yang mana para pengrajin sulam hanya berasal dari desa dan pembuatan Thobe ini dilakukan oleh para petani wanita dikala waktu senggang. Hiasan yang melekat pada baju tradisonal ini adalah sulaman dengan berbagai motif yang mampu memukau mata siapa pun yang melihatnya atau juga dikenal dengan nama “Tatreez”. Sulaman itu menjadi sangat eksklusif bagi wanita dan diwariskan dari ibu ke putrinya sehingga menjadi semakin kaya dari generasi ke generasi. Sesuatu yang tidak kalah menarik adalah proses pembuatan sulaman yang dibuat menggunakan tangan dengan benang sutra tipis ini proses pengerjaannya sangat memerlukan ketelitian dan kesabaran yang besar, maka tidak heran jika memerlukan waktu sampai berbulan-bulan untuk dapat menyelesaikan satu buah baju saja. Beberapa thobe bahkan dapat dijual dengan harga ribuan dolar.
Siapa sangka, dibalik motif sulam pada gaun tradisional ini tidak hanya menampilkan keindahan tetapi juga menyimpan banyak simbol dengan makna yang mendalam, seperti menandai tahapan kehidupan, posisi sosial, perbedaan wilayah tempat tinggal wanita Palestina. Contohnya seperti pada jahitan motif tiga dimensi yang dibuat khusus untuk wanita kelas atas di wilayah Betlehem dan motif dahan oranye untuk Kota Jaffa karena dikenal memiliki kebun buah-buahan. Selain itu warna yang digunakan juga dapat memiliki arti tersendiri, warna merah digunakan untuk pengantin dan warna biru yang dilengkapi dengan jahitan warna-warni digunakan oleh para janda yang sedang berpikir untuk menikah lagi.
Hingga sampai pada peristiwa dideklarasikannya negara Zionis Israel pada 14 Mei 1948 yang tidak hanya membuat banyak warga Palestina yang terusir dari rumah dan tanah milik mereka, tetapi peristiwa itu juga berpengaruh besar terhadap perubahan kebudayaan, norma dan termasuk perubahan yang terjadi pada sulaman tradisional Palestina. Banyak orang Palestina yang terpaksa harus mengungsi dan para wanita menjual pakaian mereka yang sangat berharga itu supaya tetap mampu bertahan hidup di masa krisis dan saat itulah Thobe banyak dibeli oleh kolektor. Bahkan dalam sebuah kisah pernah diceritakan bahwa banyak sekali kenangan yang datang bahkan dari setiap potong busana yang dijual untuk biaya perawatan rumah sakit atau biaya pendidikan.
Pakaian tradisional yang sebelumnya dipenuhi oleh motif yang berbeda-beda sesuai wilayah, kelas dan kondisi sosial para wanita Palestina yang terwakilkan oleh motif sulaman dan warna yang beragam, hal ini berubah setelah peristiwa Nakba karena penderitaan yang dialami masyarakat terus menerus. Kehilangan tempat tinggal dan kehilangan rasa aman membuat kaum perempuan merasa harus mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang lebih penting dibandingkan dengan menggunakan waktu dan uang mereka untuk menyulam dan membeli benang sutra. Namun, seiring berkembangnya waktu Thobe turut berkembang semenjak warga terus berupaya terbebas dari penjajahan Zionis Israel. Motif senjata, merpati dan bahkan ketika tentara Israel menyita bendera Palestina dalam berbagai peristiwa unjuk rasa, para wanita penenun membuat motif peta dengan warna hitam, putih, merah dan hijau. Akibat dari pegungsian warga Palestina sejak abad ke-20, motif sulaman pada pakaian tradisional ini juga perlahan mengambil peran politik, di mana para wanita yang berada di kamp pengungsian kerap kali menjual hasil karya mereka sehingga dapat menjadi sumber penghasilan.
Di tengah diaspora yang terjadi, sempat membuat baju tradisional yang lekat dengan sejarah masyarakat Palestina ini terancam punah, kesulitan demi kesulitan yang mereka alami membuat keseharian dipenuhi dengan upaya perjuangan untuk bisa mempertahankan tanah suci milik umat muslim. Para wanita yang berada di kamp pengungsian menyulam baju jauh lebih sedikit dari sebelumnya, sehingga motif Thobe yang berasal dari setiap daerah menjadi tidak terlalu khusus dan beragam. Permasalahan yang muncul untuk mengembangkan Thobe tidak cukup sampai di sana, rakyat Palestina harus menghadapi perampasan budaya yang dilakukan oleh Zionis, bahkan pakaian tersebut hampir saja diambil dan dipolitisasi.
Namun, kabar baik datang dari banyak pihak yang merasa tergerak untuk mempertahankan Thobe sebagai pakaian berharga milik para wanita Palestina yang telah menjadi saksi perjuangan dan perubahan kondisi kehidupan mereka. Keputusan yang diambil oleh seorang politisi wanita bernama Rashida Tlaib seorang anggota pada kongres di Amerika Serikat telah berhasil menyegarkan ingatan tentang keberadaan Tatreez. Sementara itu, pendiri Yayasan Warisan Palestina juga sampai meluncurkan sebuah buku yang membedah secara mendalam tentang makna yang terdapat di dalam berbagai motif sulaman Thobe dan hasilnya mengambil peran yang cukup besar dalam penelitian kebudayaan Palestina saat ini. Upaya lain yang sampai kini tengah giat dilakukan oleh masyarakat Palestina adalah dengan mengenakan Thobe untuk menegaskan identitas mereka, dikenakan pada perayaan penting seperti pesta pernikahan, beragam acara istimewa dan festival-festival, sebab karena kerumitan cara memeliharanya membuat baju ini tidak bisa digunakan menjadi pakaian sehari-hari atau bahkan dikenakan saat unjuk rasa. Hal ini tidak membuat masyarakat kehilangan semangat untuk mempertahankan Thobe lengkap dengan seni sulam yang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Seorang desainer yang berasal dari Timur Yerusalem berupaya untuk memproduksi Thobe dengan desain gambar digital yang direplikasi dari sulaman tradisional. Thobe dengan model yang lebih sederhana dengan harga yang lebih bersahabat juga sudah mulai marak diproduksi. Wanita muda Palestina juga kini lebih menyenangi jenis Thobe yang lebih pendek dengan nuansa modern dan lebih trendi. Peminat Thobe kini semakin tinggi, terlebih dengan banyaknya warga Palestina yang tinggal di luar negeri yang juga antusias untuk mengenalkan Thobe pada dunia Barat. Supaya semakin sukses di pasar internasional, motif sulaman yang dibuat bersifat kontemporer, para desainer muda menambahkan warna-warna dan motif baru. Sementara organisasi yang memanfaatkan kepopuleran Thobe bekerja sama dengan para Wanita Palestina yang terampil membuat sulaman untuk membuka peluang usaha. Inisiatif tersebut sangat membantu wanita Palestina yang berupaya menyokong keluarga mereka dan memperbaiki kualitas hidup di kamp konsentrasi. Dengan begitu seberat dan sesulit apapun kondisi masyarakat Palestina, budaya Thobe dan Tatreez tetap dipertahankan sebagai identitas nasional mereka.
Penulis: Fidela Hafiz Rudiana
***
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








