Lebih dari 900.000 warga Palestina di Kota Gaza menolak meninggalkan rumah mereka meski dibombardir tanpa henti oleh Israel yang berusaha memaksa penduduk mengungsi ke selatan.
Kantor Media Pemerintah Gaza menegaskan, warga tetap bertahan karena memiliki hak untuk tinggal. Warga juga menolak tegas upaya Israel mengusir mereka, meski seluruh permukiman dibombardir. Israel dinilai melancarkan “kampanye penipuan sistematis” dengan menawarkan tenda, bantuan, dan layanan kemanusiaan yang sebenarnya tidak ada di lapangan, demi memaksa warga mengungsi.
Meski demikian, pemerintah Gaza mendokumentasikan peningkatan jumlah keluarga yang bergerak ke selatan dalam beberapa pekan terakhir akibat “kejahatan biadab” dan operasi militer yang kian brutal.
Awal bulan ini, Israel meluncurkan operasi “Gideon Chariots II” dengan target menduduki penuh Kota Gaza. Hampir satu juta warga Palestina, sebagian besar pengungsi dari wilayah lain, kini terjebak di bawah gempuran tanpa henti.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 65.300 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, terbunuh akibat serangan Israel. Agresi ini membuat Gaza tak lagi layak huni serta memicu kelaparan dan penyebaran penyakit mematikan.
Sumber: MEMO, Anadolu Agency








