Bank Dunia dan Badan Pusat Statistik Palestina (PCBS) pada Senin (21/2) mengatakan bahwa hasil Survei Kondisi Psikologis di Palestina pada tahun 2022 menunjukkan bahwa lebih dari separuh masyarakat Palestina menderita depresi (71% di Jalur Gaza dan 50% di Tepi Barat). Sebanyak 58% yang menderita depresi berusia di atas 18 tahun, dan tingkat depresi dilaporkan seimbang antara perempuan dan laki-laki.
Hal ini terungkap dalam lokakarya yang diselenggarakan oleh Bank Dunia dan PCBS di Ramallah untuk mengumumkan hasil survei dan dihadiri oleh perwakilan kementerian, lembaga penelitian, universitas, federasi, organisasi internasional, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Survei yang disiapkan setelah agresi Israel di Jalur Gaza pada Mei 2021 itu mencakup tiga indikator: depresi, gangguan stres pascatrauma, dan gangguan kesehatan mental yang umum. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 7% orang dewasa menderita gangguan stres pascatrauma, dan gejalanya lebih tinggi di Gaza daripada di Tepi Barat. Selain itu, laki-laki memiliki gejala lebih parah daripada perempuan karena mereka lebih terpapar peristiwa yang mengakibatkan trauma.
Mengenai gangguan kesehatan jiwa umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara kemiskinan ekstrem dan gangguan kesehatan jiwa. Sebab, persentase orang yang berada pada tingkat kemiskinan ekstrem mencapai 50%, dan orang yang berada di bawah garis kemiskinan mencapai 70%. Orang yang bekerja dalam durasi lebih lama juga rentan terganggu kesehatan jiwanya. Stres kesehatan mental menjadi lebih buruk ketika terpapar peristiwa traumatis seperti agresi Israel 2021 di Jalur Gaza. Hasil survei di Gaza menemukan bahwa 10% orang telah kehilangan anggota keluarga atau teman, 10% lainnya terluka, dan 25% rumahnya hancur atau rusak.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








