Setengah abad berlalu sejak Oktober 1973. Saat itu, terjadi perang antara Israel, Mesir, dan Suriah, yang dikenal oleh orang Arab sebagai “Perang Oktober”. Tepat 50 tahun yang lalu, bangsa Arab bersatu untuk membebaskan tanah Palestina dari cengkraman Zionis Yahudi yang mengambil wilayah Sinai dan Golan pada 1967. Perang antara dua pihak ini mendapat banyak sebutan, tergantung kacamata apa yang digunakan. Pada masanya, perang ini dikenal sebagai Perang Oktober, Perang Yom Kippur, Perang Ramadan, atau Perang Arab-Israel tahun 1973. Hingga sekarang, pemenang perang ini masih menjadi subjek perdebatan. Pasalnya, jika melihat dari konteks politik, Mesir dan Suriah berhasil mendapatkan kembali wilayahnya, sementara Israel menang secara militer. Jadi apa yang dimaksud dengan Perang Oktober atau Yom Kippur ini, dan bagaimana jalannya perang tersebut?
Apa itu Perang Yom Kippur?
Perang Yom Kippur adalah perang besar-besaran ketika koalisi negara Arab yang diwakili oleh Mesir dan Suriah berusaha untuk merebut kembali Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan yang terlebih dahulu direbut Israel setelah kekalahan pihak Arab pada perang 1967. Dinamakan Yom Kippur karena perang ini dilaksanakan pada saat pada hari suci Yahudi yakni Yom Kippur.

Latar Belakang Perang
Setelah Perang Enam Hari tahun 1967, Israel merebut dan menduduki wilayah Arab, yaitu wilayah Semenanjung Sinai dan Dataran Tinggi Golan. Periode ini diikuti oleh pertempuran sporadis selama beberapa tahun. Anwar Sadat, yang kemudian menjadi presiden Mesir mengajukan tawaran damai dengan syarat bahwa Israel akan mengembalikan wilayah yang telah mereka rebut, sesuai dengan Resolusi 242 Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, Israel melalui Perdana Menteri Golda Meir pada saat itu, menolak tawaran tersebut.
Pasca penolakan Israel, Mesir dan Suriah memutuskan untuk menyatukan kekuatan demi merebut kedua wilayah mereka yang hilang. Di bawah kepemimpinan mantan presiden Mesir Anwar Sadat dan presiden Suriah Hafez al-Assad, dua negara Arab tersebut mencapai kesepakatan untuk menyatukan pasukan mereka di bawah satu komando. Sementara itu, politik Perang Dingin menjadi latar belakang dari jalannya perang ini. Soviet memasok senjata ke negara-negara Arab, sedangkan Amerika Serikat mendukung Israel.
Jalannya Perang
Pada tanggal 6 Oktober 1973, tepat pukul 14.00, Perang Yom Kippur dimulai. Pasukan Mesir berhasil menyeberangi Terusan Suez. Keberhasilan militer awal ini, dikenal oleh orang Mesir sebagai “The Crossing,” menjadi tanda kemenangan setelah 25 tahun kekalahan. Sementara Suriah berhasil melancarkan serangan dengan menerobos ke Dataran Tinggi Golan. Operasi satu komando antara Mesir dan Suriah ini dinamakan ‘Operasi Badr’. Pada awalnya terlihat kerugian Israel cukup besar dan tampaknya jalannya perang sepenuhnya berada dalam kendali negara-negara Arab.

Namun, 10 hari setelah pertempuran, tepatnya pada 16 Oktober 1973 pasukan Israel menembus garis pertahanan Mesir dan Suriah. Hal tersebut mengubah keadaan perang menjadi menguntungkan mereka. Dengan ini perang menemui jalan buntu. Dua hari kemudian mengiringi perang yang mengalami kebuntuan, negara-negara produsen minyak Arab, melalui Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), memutuskan strategi baru dengan mengurangi produksi minyak sebesar 5 persen. Mereka juga menghentikan pasokan minyak dan menerapkan embargo terhadap Amerika Serikat. Hal tersebut akan terus mereka lakukan hingga Israel menarik semua pasukannya dari wilayah Sinai dan Golan, serta satu syarat tambahan bagi Israel untuk segera mengembalikan hak-hak warga Palestina yang dirampas. Strategi tersebut membuat Amerika harus meninjau kembali dukungannya terhadap perang.
Pada 22 Oktober 1973, Dewan Keamanan PBB berupaya menjadi penengah bagi kedua pihak yang berperang dengan mengesahkan Resolusi 338, yang ditujukan sebagai upaya gencatan senjata dan menguatkan kembali Resolusi 242, yaitu agar Israel segera menarik diri dari wilayah yang diduduki pada tahun 1967. Enam hari kemudian, pemimpin militer Israel dan Mesir bertemu untuk bernegosiasi mengenai gencatan senjata. Hal ini merupakan pertemuan pertama antara perwakilan militer kedua negara dalam 25 tahun. Perang ini terus berlangsung hampir tiga minggu, dari 6 Oktober hingga 25 Oktober 1973. Sebagian besar pertempuran telah berakhir pada tanggal 26 Oktober. Namun setelah itu, perundingan dengan cepat menjadi tegang karena bentrokan terus berlanjut.

The Aftermath
Di tengah situasi perang yang terus memanas serta menanggapi ancaman embargo minyak, Amerika pun turun tangan. Melalui Mantan Penasihat Keamanan Nasionalnya, Amerika mengutus Henry Kissinger untuk mendorong perjanjian gencatan senjata. Kissinger kemudian melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lain dalam upaya untuk memediasi kesepakatan perdamaian. Upaya diplomasinya ini dikenal sebagai Diplomasi Ulang-Alik (Shuttle Diplomacy).
Pada 6 November 1973, Kissinger terbang ke Kairo untuk pertemuan pertamanya dengan Anwar Sadat. Empat hari kemudian, sebuah kesepakatan awal ditandatangani yang yang berisi jaminan masuknya pasokan konvoi nonmiliter ke Kota Suez dan pasukan Mesir ke-3 yang terkepung. Empat hari kemudian, tawanan dari kedua belah pihak dipertukarkan.
Ketika Tahun Baru tiba, Kissinger kembali ke Mesir, merinci langkah berikutnya untuk rencana besar pemisahan antara Mesir dan Israel. Pada tanggal 11 Januari 1974, ia tiba di Kota Aswan dan bertemu dengan Anwar Sadat. Keesokan harinya, ia berangkat ke Tel Aviv. Kedua belah pihak pun menerima kesepakatan pemisahan.
Namun, Israel masih menduduki wilayah Suriah yang tidak jauh dari ibu kota Damaskus. Oleh karena itu, pada Mei 1974, Kissinger memulai putaran kedua diplomasi ulang-aliknya yang kali ini berlangsung antara Damaskus dan Tel Aviv. Setelah hampir sebulan perundingan berlangsung sengit, Kissinger mencapai terobosan kedua di wilayah tersebut. Pada 28 Mei 1974, Israel menyetujui kesepakatan pemisahan dengan Suriah. Kesepakatan itu ditandatangani di Jenewa pada 5 Juni 1974 dan menandai berakhirnya Perang Yom Kippur. Mesir dan Suriah mendapatkan sebagian wilayah mereka kembali, dan zona penyangga PBB didirikan antara mereka dan Israel.
Perang ini mengakibatkan 2.688 tentara Israel tewas dan 7.000 orang cedera, 314 tentara Israel dijadikan tawanan perang dan puluhan tentara Israel hilang. Israel kehilangan 102 pesawat tempur dan sekitar 800 tank. Di sisi Mesir dan Suriah 35.000 tentara tewas dan lebih dari 15.000 cedera. Sebanyak 8300 tentara ditawan. Angkatan Udara Mesir kehilangan 235 pesawat tempur dan Suriah 135.

Beberapa tahun berikutnya, Mesir dan Israel menormalisasi hubungan mereka melalui penandatanganan Perjanjian Camp David pada 17 September 1978. Perjanjian ini berisi ketentuan syarat-syarat perjanjian perdamaian Mesir-Israel, serta kerangka kerja untuk perdamaian antara Israel dan Palestina menggunakan Resolusi 242. Perdamaian antara Mesir dan Israel ditandatangani pada pada bulan Maret 1979 di Washington, D.C. Namun, kerangka kerja terkait dengan urusan Palestina tidak pernah terwujud dengan beberapa alasan, seperti rencana yang kurang jelas dalam hal pengungsi Palestina dan status Yerusalem (Al-Quds).
Setelah menjalin hubungan normal dengan Israel, Mesir diusir dari Liga Arab, dan semua negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Kairo. Yordania juga menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel pada tahun 1992, sehingga Mesir dan Yordania menjadi dua negara yang telah menjalin hubungan normal dengan Israel, sementara Israel masih menduduki Tepi Barat, Yerusalem Timur, Gaza, dan sebagian Dataran Tinggi Golan hingga saat ini.
Pengembalian hubungan normal dengan Israel merupakan hasil dari perang Yom Kippur, di samping negara Arab memperoleh kembali wilayahnya. Namun, pada akhirnya upaya dua negara Arab tersebut untuk melawan pendudukan Israel dan memulihkan hak-hak warga Palestina tidak pernah terwujud.
Apa yang Terjadi Hari ini ?

Setelah diblokade dari berbagai sisi, baik darat, laut dan udara selama 17 tahun, Gaza melawan balik penjajahan Israel. Gaza, yang disebut sebagai Penjara Terbesar di dunia melawan balik dengan mengirimkan 5000 roket selama 20 menit ke wilayah Israel pada Sabtu, 7 Oktober 2023. Operasi yang disebut ‘Al Aqsa Flood’ ini dilakukan atas dasar pertahanan diri Gaza yang selama ini kerap menderita akibat ulah penjajah Israel yang terus melakukan penodaan terhadap Masjid Al-Aqsha dan kekerasan terhadap rakyat Palestina.
Tidak lama berselang, Israel langsung membalas serangan itu dengan mengerahkan jet tempur untuk menyerang Gaza. Israel melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kemudian menyatakan perang terhadap Palestina. Data terakhir hingga tanggal 11 Oktober 2023 dari Kementerian Kesehatan Palestina jumlah korban selama hampir lima hari pertempuran mencapai lebih dari 900 orang meninggal dan 4500 orang luka-luka, termasuk di antaranya ialah anak-anak. Sementara di pihak Israel jumlah korban ialah sebanyak 1.200 orang.
Masih melalui Netanyahu, Israel kemudian menggambarkan insiden tersebut sebagai serangan yang paling mengerikan dalam 50 tahun terakhir, merujuk pada peristiwa Perang Yom Kippur tahun 1973.
Yunda Kania Alfiani, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Research Development and Mobilization Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Ilmu Sejarah, FIB UI.
Referensi
The October Arab-Israeli War of 1973: What happened?
World will ‘throw us to the dogs’: Yom Kippur War papers reveal Golda’s despair
Tragedi Yom Kippur 1973, Perang Pertama Israel
6 Fakta Perang Yom Kippur ketika Mesir dan Suriah Menyerang Israel pada 1973
Sejarah Hari ini, Perang Yom Kippur Dimulai
Setengah Abad Perang Oktober: Israel, Mesir, dan Suriah
Gaza Melawan Balik di tengah Blokade Penjajahan Israel Selama 17 Tahun








