Pada Ahad (01/02), Israel mengizinkan pembukaan kembali secara terbatas penyeberangan darat Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir. Penutupan selama satu setengah tahun terakhir telah menyebabkan bencana kemanusiaan bagi penduduk Gaza. Sebab, pasokan medis penting telah terblokir selama dan setelah genosida. Akibat pengepungan Israel, 50% pasien gagal ginjal di Jalur Gaza meninggal dunia, dan sisanya berjuang untuk bertahan hidup di tengah kurangnya perawatan paling mendasar.
Dr. Ghazi Al-Yazji, kepala departemen nefrologi di Kompleks Medis Al-Shifa, mengatakan bahwa penutupan perbatasan yang terus berlanjut berdampak “mematikan” bagi pasien. Dia menjelaskan bahwa ada pasien yang menderita penyakit autoimun yang membutuhkan biopsi ginjal diagnostik yang tidak tersedia di Gaza. Akibatnya, kondisi mereka memburuk dan berkembang menjadi gagal ginjal total.
Al-Yazji mengatakan bahwa departemen dialisis di Al-Shifa saat ini melayani sekitar 210 pasien yang menderita gagal ginjal kronis stadium lima, dalam kondisi yang sangat sulit. Dia menambahkan: “Departemen ini menghadapi kekurangan mesin dan perlengkapan medis yang parah. Terkadang ini memaksa kami untuk melakukan transfusi darah untuk mengimbangi kekurangan obat-obatan. Ini merupakan suatu intervensi yang memiliki komplikasi serius. Ini dapat menghambat atau mencegah operasi transplantasi di masa mendatang bagi pasien yang menunggu untuk melakukan perjalanan.”
Pasien Gagal Ginjal Meninggal Saat Menunggu Perbatasan Dibuka
Dalam pernyataan yang mengejutkan, Dr. Mohammed Abu Salmiya, Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, mengatakan bahwa sekitar 50% pasien dialisis di Jalur Gaza telah meninggal. Mereka meninggal ketika menunggu pembukaan perbatasan atau menantikan obat-obatan mereka selama dua tahun genosida dan pengepungan Israel di Gaza.
Sebanyak 70% dari barang-barang farmasi dan medis untuk pengobatan para pasien tidak tersedia di Gaza. Abu Salmiya menjelaskan bahwa Al-Shifa saat ini hanya memiliki 34 mesin dialisis yang melayani sekitar 750 pasien gagal ginjal. Hal ini telah menempatkan pusat medis tersebut di bawah tekanan yang sangat besar melebihi kapasitasnya. Ini terjadi terutama setelah Israel menghancurkan rumah sakit besar lainnya di Gaza, seperti Rumah Sakit Indonesia di bagian utara Jalur Gaza.
Abu Salmiya memperingatkan bahwa pembatasan di Penyeberangan Rafah atau penutupan kembali akan memperburuk bencana. Ia menyerukan intervensi mendesak untuk memfasilitasi perjalanan kasus-kasus yang membutuhkan transplantasi ginjal atau perawatan khusus.
Kementerian Kesehatan Gaza sebelumnya telah mengumumkan kematian lebih dari 1.000 pasien dan orang terluka akibat pencegahan perjalanan. Sementara itu, sekitar 20.000 lainnya masih menunggu evakuasi guna mendapatkan perawatan yang dapat menyelamatkan jiwa.
Sumber: The New Arab








