Di Malawi terdapat lebih dari 490.000 anak usia sekolah dasar dan menengah – sekitar 5% dari anak-anak – tidak dapat bersekolah karena kerusakan yang disebabkan oleh Topan Freddy, kata Save the Children, banyak sekolah kemungkinan akan ditutup setidaknya untuk empat minggu ke depan. Pemerintah telah menutup semua sekolah di distrik selatan yang terkena dampak, karena ruang kelas dan toilet dianggap tidak aman akibat hujan lebat, banjir, dan tanah longsor, disusul Topan Freddy, yang melanda Malawi pada 11 Maret.
Sekitar 230 sekolah yang bertahan dari topan sekarang digunakan sebagai akomodasi sementara untuk sekitar 362.000 orang yang mengungsi. Jalan juga perlu dibersihkan agar anak-anak dapat pergi ke sekolah dengan aman. Sekolah dijadwalkan dibuka pada 20 Maret, tetapi ini tidak memungkinkan. Oleh karena itu, sekolah dijadwalkan untuk dibuka kembali sekolah 17 April. sebelumnya, sekolah juga pernah ditutup pada awal tahun sebagai akibat dari wabah kolera.
Jane* dari Distrik Mulanje, duduk di kelas 8. Dia seharusnya mengikuti ujian akhir pada 10 Mei, tetapi tanpa buku dan infrastruktur penting, tampaknya tidak mungkin. Jane mengatakan, “Banyak orang meninggal di sini, termasuk siswa sekolah. Sekolah kami adalah sekolah yang sangat bagus tetapi sekarang semua properti dan buku hilang. Ujian ini akan sulit dan menyulitkan kami untuk mengejar impian.”
Kementerian Pendidikan akan menjalankan program radio pengembangan anak usia dini, yang telah dikembangkan dalam kemitraan dengan Save the Children. Namun, listrik telah diputus di beberapa bagian negara, dan orang kehilangan harta benda, termasuk radio, jadi Save the Children akan mendistribusikan radio bertenaga surya di kamp-kamp pengungsi.
Hampir 140.000 anak-anak terkena dampak langsung dari banjir dan banyak yang kini tinggal di kamp-kamp pengungsian. Lebih banyak dana sangat dibutuhkan untuk respon kemanusiaan, termasuk pendidikan. Ketika sekolah dibuka kembali, penting bagi mereka untuk menawarkan makanan gratis kepada anak-anak. Banyak keluarga kehilangan rumah dan mata pencaharian mereka akibat banjir ini.
Guru juga membutuhkan dukungan mendesak untuk membangun kembali kehidupan mereka, karena banyak juga yang kehilangan rumah. Pearson Makasu, seorang kepala sekolah dasar di distrik Mulanje, menjelaskan tiga dari tujuh rumah guru, termasuk miliknya, hanyut. Dia berkata, “Orang-orang di sini telah kehilangan segalanya; hewan ternak, tanaman, harta benda, dan anggota keluarga. Saat ini sekolah menampung orang-orang yang kurang mampu. Jika kami buka [sekolah], kemana mereka akan pergi? Guru dan murid harus menyeberangi sungai untuk sampai ke sini, tetapi dengan jembatan dan jalan yang hanyut, bagaimana mereka bisa sampai ke sini?”
Sumber:
https://www.savethechildren.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








