• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

48 Tahun Peristiwa Perang Yom Kippur

by Adara Relief International
Oktober 8, 2021
in Artikel, Tema Populer
Reading Time: 5 mins read
0 0
0
48 Tahun Peristiwa Perang Yom Kippur
49
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

48 Tahun Peristiwa Perang Yom Kippur-Perang Yom Kippur atau dikenal juga sebagai Perang Oktober adalah pertempuran yang melibatkan Israel, Mesir, dan Suriah. Perang yang pecah pada 6 Oktober 1973 ini tidak terlepas dari peristiwa yang terjadi sebelumnya yaitu Perang Enam Hari tahun 1967. Dalam Perang Enam Hari yang berlangsung sejak 5 sampai 10 Juni 1967, Israel berhasil memukul mundur pasukan dari negara Arab dan memperluas wilayah pendudukannya hingga empat kali lipat. Kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari mengakibatkan Mesir kehilangan Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza seluas 23.500 mil persegi[1], Jordania kehilangan Tepi Barat serta Al-Quds Timur[2], dan Suriah kehilangan Dataran Tinggi Golan yang strategis. Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang pecahnya Perang Yom Kippur enam tahun setelah Perang Enam Hari tahun 1967.

Wilayah yang berhasil dikuasai Israel pada Perang Enam Hari ditandai dengan warna hijau
Sumber : https://www.aljazeera.com/features/2018/10/8/the-october-arab-israeli-war-of-1973-what-happened

Demi merebut kembali wilayah-wilayah yang diambil alih oleh Israel pada perang 1967, Mesir bersama dengan Suriah mulai menyusun rencana untuk menyerang kembali Israel. Mesir dan Suriah kemudian memutuskan untuk melancarkan serangan bertepatan dengan Hari Raya Keagamaan Yahudi Yom Kippur yang jatuh pada hari Sabtu, 6 Oktober 1973. Pada hari itu, tidak ada siaran radio maupun televisi, toko-toko dan jalur transportasi ditutup, dan tentara Israel yang biasanya berjaga pada hari itu meninggalkan posnya untuk memperingati Hari Raya Yom Kippur. Hal ini sangat sesuai rencana Mesir dan Suriah yang ingin menyerang Israel pada saat mereka sedang dalam kondisi lengah.

Sekitar pukul 14.00 waktu setempat, Mesir dan Suriah mulai melancarkan serangan. Dengan dibantu persenjataan yang canggih dari Uni Soviet, serangan ditembakkan dari dua sisi yaitu dari utara dan selatan. Kekuatan Mesir dan Suriah juga semakin bertambah karena mendapat bantuan dari Irak dan Jordania. Pihak militer Israel yang pada saat itu sedang dalam kondisi yang kurang siap kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi tersebut.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Mesir dan Suriah dengan cepat menguasai medan pertempuran. Mesir saat itu sudah berhasil menyeberangi Terusan Suez, sementara Suriah berhasil melewati garis gencatan senjata 1967 dan merebut titik penting di puncak Gunung Hermon yang disebut dengan ‘Mata Israel’. Pencapaian tersebut diraih oleh Mesir dan Suriah hanya dalam waktu dua jam setelah serangan pertama dilancarkan. Mesir dan Suriah benar-benar berada di atas angin dan terlihat yakin bahwa mereka bisa memenangkan pertempuran karena melihat kerugian yang sangat besar dari pihak Israel.

Akan tetapi, situasi dengan cepat berbalik. Dalam waktu kurang dari 24 jam, Israel berhasil menguasai kondisi dan memukul mundur pasukan Suriah. Menyadari front Suriah berada dalam kesulitan, bantuan segera datang dari Arab Saudi, Irak, dan Jordania. Namun kekuatan negara-negara Arab tersebut lagi-lagi ditaklukkan oleh Israel. Dengan kekuatan militernya yang telah kembali pulih, Israel bahkan berhasil menembus batas hingga maju dengan jarak hanya 35 km dari Damaskus.

Tentara Israel di Perang Yom Kippur 1973
Sumber : https://internasional.kompas.com/read/2021/09/14/154041770/perang-yom-kippur-1973-penyebab-dan-mengapa-israel-menyerang-mesir?page=all

Kondisi benar-benar berbalik, yang awalnya Israel kewalahan menghadapi serangan dadakan dari Mesir dan Suriah, kini Mesir dan Suriah yang harus bertahan habis-habisan menghadapi militer Israel yang kekuatannya sudah kembali stabil. Pada 16 Oktober 1973 atau sepuluh hari setelah perang dimulai, Israel sudah menembus garis pertahanan Mesir dan Suriah, bahkan berada pada jarak yang sangat dekat dengan Kairo.

Keesokan harinya, pada 17 Oktober 1973, Mesir, Suriah, dan negara-negara Arab yang membantu pertempuran memutuskan untuk mengubah strategi penyerangan. Mereka menggunakan minyak sebagai taktik untuk mengancam Israel. Negara-negara penghasil minyak yang tergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengambil keputusan untuk mengurangi produksi minyak mereka sebanyak lima persen. Pengurangan produksi minyak ini mengakibatkan harga minyak melonjak besar-besaran di seluruh dunia.

Keputusan mengurangi produksi minyak ini juga disertai dengan perjanjian dari negara-negara Arab penghasil minyak. Negara-negara tersebut berjanji untuk mempertahankan tingkat pengurangan yang sama setiap bulannya hingga Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Arab yang diduduki selama perang tahun 1967 dan hak-hak rakyat Palestina dipulihkan.

Melihat situasi yang sedang memanas, PBB kemudian turut melibatkan diri untuk menengahi. Pada 22 Oktober 1973, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menyerukan gencatan senjata antara pihak yang berperang dan meminta agar Israel menarik diri dari wilayah yang diduduki sejak 1967.

Pada 25 Oktober 1973, dilakukanlah gencatan senjata akibat korban yang sudah banyak berjatuhan. Dari pihak Mesir dilaporkan sebanyak 7.700 nyawa hilang dan sekitar 3.500 dari pihak Suriah. Demikian juga dari pihak Israel, meskipun dapat menguasai area pertempuran, tetapi mereka kehilangan sebanyak 2.600 tentara, ditambah 8.800 yang dalam kondisi luka-luka. Banyaknya korban yang berjatuhan bahkan membuat rakyat Israel mengkritik pemerintahnya sendiri yang dianggap kurang siap menghadapi ancaman. Akibatnya, Perdana Menteri Israel Golda Meir memutuskan untuk mengundurkan diri pada 1974.

Setelah gencatan senjata dilangsungkan, Mesir memanfaatkan situasi ini untuk mengambil kembali wilayahnya yang sebelumnya direbut oleh Israel. Mesir melalui presidennya yaitu Anwar Sadat kemudian memutuskan untuk menjalin perjanjian damai dengan pihak Israel. Keputusan ini akhirnya menguntungkan pihak Mesir dengan dikembalikannya sebagian wilayah Semenanjung Sinai ke Mesir pada 1974. Pada 1979, Mesir kembali menandatangani perjanjian damai dengan Perdana Menteri Israel yang baru, Menachim Begin. Kemudian pada 1982, Israel memenuhi janjinya untuk mengembalikan seluruh wilayah Semenanjung Sinai ke Mesir. Normalisasi Mesir terhadap Israel ini kemudian berdampak pada dikeluarkannya Mesir dari Liga Arab pada 1979 dan semua negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Kairo.

Presiden Mesir Anwar Sadat, Presiden AS Jimmy Carter, dan PM Israel Menachem Begin bersalaman setelah menandatangani perjanjian damai tahun 1979
Sumber : https://internasional.kompas.com/read/2021/09/14/154041770/perang-yom-kippur-1973-penyebab-dan-mengapa-israel-menyerang-mesir?page=all

Selain Mesir, Jordania juga menjadi negara yang memutuskan untuk menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1992. Keputusan ini kemudian menjadikan Mesir dan Jordania sebagai negara yang memiliki hubungan normal dengan Israel yang sebenarnya masih menduduki wilayah Tepi Barat, Al-Quds Timur, Gaza, dan sebagian Dataran Tinggi Golan hingga hari ini.[3]

Bertolak belakang dengan Mesir dan Jordania, Suriah menolak perjanjian damai dengan Israel yang mengakibatkan situasinya semakin terdesak. Israel kemudian merebut lebih banyak wilayah di Dataran Tinggi Golan dari Suriah.

Disebutkan di dalam Aljazeera bahwa tindakan Mesir yang melakukan normalisasi dengan Israel dianggap oleh penduduk Palestina sebagai tindakan yang mendahulukan kepentingan sendiri dan menempatkan permasalahan Palestina di belakang. Padahal, persoalan Palestina adalah persoalan kemanusiaan yang seharusnya melibatkan bantuan dari seluruh negara, terutama negara-negara Arab yang secara geografis letaknya tidak jauh dari Palestina. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi saat ini adalah kepentingan pribadi setiap negara membuat mata mereka tertutup akan apa yang sedang terjadi di Palestina. Oleh karena itu, untuk menunjukkan kepedulian akan Palestina harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita. Palestina adalah saudara kita, jika bukan kita, maka siapa lagi yang akan bergerak menegakkan kemanusiaan di tanah suci Palestina?

Sumber :
https://www.aljazeera.com/features/2018/10/8/the-october-arab-israeli-war-of-1973-what-happened
https://www.timesofisrael.com/worse-than-the-worst-case-scenario-the-dreadful-hours-before-the-yom-kippur-war/
https://internasional.kompas.com/read/2021/09/14/154041770/perang-yom-kippur-1973-penyebab-dan-mengapa-israel-menyerang-mesir?page=allHandayani, Sakti Ika. 2010. Perang Yom Kippur Tahun 1973. [Skripsi]. Depok : Universitas Indonesia.

 

Salsabila Safitri
Penulis merupakan anggota Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita anak dan perempuan Palestina. Ia sedang menyelesaikan pendidikan strata 1 di Sastra Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

[1] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/belajar-dari-gaza-kota-para-penghafal-al-quran/
[2] Baca kisah lainnya dalam https://adararelief.com/kembar-pejuang-pembebas-palestina-dari-al-quds/
[3] Selengkapnya di https://adararelief.com/perang-senyap-silent-war-di-al-quds-timur-palestina/

Tags: Palestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Seorang Anak 13 Tahun dari Tepi Barat Ditawan oleh Zionis

Next Post

Pemukim Israel Menerobos Masuk ke Masjid Al-Aqsa dan Melakukan “Ibadah Hening”

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
22

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
24
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Pemukim Israel Menerobos Masuk ke Masjid Al-Aqsa dan Melakukan “Ibadah Hening”

Pemukim Israel Menerobos Masuk ke Masjid Al-Aqsa dan Melakukan "Ibadah Hening"

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630