Ribuan warga Palestina yang sebelumnya mengungsi mulai kembali ke Jalur Gaza bagian utara pada Senin (27/01), diiringi kegembiraan yang bercampur dengan kesedihan. Mereka sebelumnya dipaksa meninggalkan rumah mereka akibat genosida yang dilancarkan oleh Israel, demikian laporan Anadolu Agency.
Puluhan ribu warga berjalan kaki melalui Jalan Al-Rashid, sebuah jalur pesisir, di bawah kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan antara Israel dan kelompok Perlawanan Palestina, Hamas.
Sebagian warga lainnya kembali ke wilayah utara dengan kendaraan melalui Koridor Netzarim, yang memisahkan bagian utara dan selatan Jalur Gaza.
Kembalinya warga Palestina ini terjadi tak lama setelah Qatar berhasil memediasi kesepakatan antara Hamas dan Israel. Dalam perjanjian tersebut, Hamas setuju untuk membebaskan tiga tahanan Israel, termasuk seorang wanita bernama Arbel Yehud, sebelum Jumat mendatang.
Kebahagiaan di Tengah Kehancuran
“Hari ini kami merasakan kegembiraan, meskipun rasa sakit dan penderitaan tetap ada setelah sekian lama kehilangan harapan untuk kembali,” ungkap Bassam Saleh kepada Anadolu.
Saleh kembali ke Gaza utara menggunakan sepeda melalui Jalan Al-Rashid menuju rumahnya di Kamp Pengungsi Jabalia. Dengan membawa beberapa barang di sepedanya, ia melintasi jalanan yang hancur untuk mencapai kamp yang telah porak-poranda akibat serangan Israel.
Seperti banyak warga pengungsi lainnya, Saleh harus melewati medan yang berat dan jalanan yang rusak sepanjang beberapa kilometer. “Kami harus beradaptasi dengan situasi ini dan memanfaatkan apa yang ada,” tambahnya.
Rasa Gembira yang Pahit
Fatima Abu Hasira, yang selama beberapa bulan mengungsi di Khan Younis, kota di bagian selatan Gaza, mengaku bahwa perjalanan kembali ke utara adalah pengalaman yang berat.
“Hari ini adalah hari yang penuh kegembiraan, tetapi kesedihan mendalam tetap menyelimuti hati kami,” kata Fatima yang tampak lelah dan berduka.
“Saya kehilangan anak-anak dan cucu saya selama agresi bersama dengan orang-orang terkasih, tetangga, dan rumah kami,” lanjutnya.
Meski rumahnya telah hancur, Fatima lebih memilih tinggal di antara puing-puing rumahnya dibandingkan hidup jauh dari tanah kelahirannya, yang terletak di dekat pelabuhan Kota Gaza. Selama masa pengungsian, ia harus bertahan dengan kekurangan makanan, air, dan kebutuhan hidup lainnya.
Momen Reuni yang Mengharukan
Dalam momen yang emosional, kamera Anadolu menangkap seorang pemuda berlari memeluk ibu dan anaknya yang menunggu di pantai dekat Kota Gaza.
Dengan air mata kebahagiaan yang bercampur kesedihan, pemuda itu memeluk erat keluarganya setelah berbulan-bulan terpisah akibat agresi. “Semoga Allah merahmati Hamed, Bu. Dia ingin menjadi orang pertama yang menyambutku,” ucapnya sambil menangis. Tidak jelas apakah Hamed adalah saudara laki-lakinya atau anaknya.
Perlawanan Melawan Pengusiran
Mustafa Ibrahim, seorang penulis dan analis politik, menyebut kembalinya warga Palestina ini sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya Israel untuk menggusur mereka.
“Sejak pagi hari di Deir Al-Balah, kerumunan warga terlihat berjalan kaki menuju utara dalam pemandangan yang megah dan bersejarah, menantang upaya pendudukan Israel,” tulisnya dalam sebuah unggahan di Facebook.
Ibrahim melihat kepulangan ini sebagai bentuk “konfrontasi langsung terhadap rencana penggusuran dan pengusiran.”
“Lelaki, perempuan, orang tua, dan anak-anak mengenakan pakaian baru, seolah-olah merayakan Idul Fitri. Wajah mereka dipenuhi senyum dan kebahagiaan,” ungkapnya, menggambarkan suasana penuh harapan di tengah kehancuran.
Kehidupan di Tengah Kehancuran
Meskipun mengalami kehilangan yang begitu besar, banyak warga Palestina yang memilih untuk kembali ke rumah mereka yang kini berupa reruntuhan. Mereka siap menghadapi perjuangan sehari-hari untuk membangun kembali kehidupan, sekaligus memenuhi kebutuhan dasar seperti air dan sumber daya lainnya.
Serangan Israel selama agresi telah menghancurkan hampir 88 persen bangunan dan infrastruktur di Gaza, termasuk rumah, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas ekonomi penting lainnya.
Fase pertama kesepakatan gencatan senjata selama enam pekan mulai berlaku pada 19 Januari. Perjanjian ini menghentikan genosida Israel yang telah membunuh lebih dari 47.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 111.000 orang sejak 7 Oktober 2023.
Sejauh ini, tujuh tahanan Israel, termasuk empat tentara, telah dibebaskan sebagai imbalan untuk 290 tawanan Palestina sejak kesepakatan ini diberlakukan.
Agresi Israel juga menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang, menciptakan kehancuran besar dan krisis kemanusiaan yang merenggut nyawa ribuan orang, termasuk lansia dan anak-anak, menjadikannya sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.
Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait agresi yang dilancarkannya di wilayah tersebut.
Sumber:
https://www.aa.com.tr
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








