Pusat Studi Tawanan Palestina mengungkapkan bahwa 26 tawanan Palestina di penjara Israel menderita kanker dalam berbagai jenis. Para tawanan berada di tengah kondisi kesehatan yang sangat berbahaya dan mengancam nyawa mereka kapan saja. Mereka tidak mendapatkan perawatan yang layak dan obat-obatan yang mereka dapatkan terbatas hanya pada obat penghilang rasa sakit.
Direktur pusat tersebut, peneliti Riyad Al-Ashqar, mengeluarkan sebuah laporan yang rilis bertepatan dengan Hari Kanker Sedunia pada 4 Februari setiap tahun. Ia menjelaskan bahwa para tawanan penderita kanker menghadapi “kematian perlahan” sebagai akibat dari kelalaian medis secara sengaja oleh Israel. Buruknya kondisi kesehatan mereka, di samping kondisi penahanan yang keras, telah merampas kebutuhan dasar hidup mereka, tanpa membedakan antara tawanan yang sakit dan yang sehat.
Al-Ashqar menunjukkan bahwa penderitaan para tawanan ini semakin parah karena rasa sakit akibat penyakit serius yang tawanan derita. Selain itu, ada pengetatan tindakan penahanan serta pelecehan terus-menerus oleh Israel, terutama sejak 7 Oktober 2023. Administrasi penjara Israel juga semakin meningkatkan pembatasan terhadap tawanan dan merampas hak-hak dasar mereka, seperti perawatan, layanan kesehatan, dan makanan yang layak.
Ia mengatakan bahwa kanker adalah penyebab utama kematian para tawanan di penjara-penjara Israel sebelum tanggal 7 Oktober. Ini terjadi karena kelalaian medis secara sengaja oleh Israel. Pihak berwenang Israel selalu menolak untuk memindahkan tawanan ke rumah sakit sipil untuk menerima perawatan yang mereka perlukan dan hanya menyediakan obat penghilang rasa sakit.
Daftar Tawanan yang Menderita Kanker di Penjara Israel
Al-Ashqar mencatat bahwa tawanan terbaru yang meninggal karena kanker adalah Mahmoud Talal Abdullah, 49 tahun, dari Jenin. Pemeriksaan medisnya menunjukkan bahwa ia menderita kanker stadium lanjut. Meskipun kondisi kesehatannya serius, dinas penjara Israel menolak untuk membebaskannya atau memberikan perawatan yang sesuai. Israel kemudian memindahkannya ke Rumah Sakit Penjara Ramla sebelum ke Rumah Sakit Assaf Harofeh, tempat ia meninggal pada Oktober tahun lalu.
Al-Ashqar juga merujuk pada kematian Mohammad Anwar Labad, 57 tahun, dari Jalur Gaza. Israel menangkapnya selama genosida dan ia meninggal pada Desember 2024 akibat kelalaian medis yang Israel sengaja, setelah didiagnosis kanker sebelumnya.
Al-Ashqar mengungkapkan bahwa di antara para tawanan yang menderita kanker terdapat dua perempuan. Pertama, Fidaa Assaf (47 tahun) dari Qalqilya. Ia menderita leukemia, namun Israel tetap menahannya selama satu tahun meskipun kondisi kesehatannya serius. Kedua, Suhair Zaaqiq dari Al-Khalil (Hebron), yang menderita fibroid dan massa kanker tanpa menerima perawatan yang tepat.
Al-Ashqar juga menunjukkan bahwa sejumlah tawanan yang menderita kanker termasuk di antara tawanan veteran yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di penjara Israel. Salah satunya Jamal Ibrahim Amr dari Al-Khalil. Israel menahannya sejak 2004 dan menjatuhinya hukuman penjara seumur hidup. Ia menderita kanker usus pada 2018, dan penyakit tersebut menyebar ke hati dan ginjal akibat kelalaian medis, sehingga kondisi kesehatannya memburuk.
Selain itu, ada kasus Fawaz Saba’a Ba’ara dari Nablus. Israel menahannya sejak 2004 dan menjatuhinya hukuman penjara seumur hidup sebanyak 3 kali. Ia menderita kanker dan masalah jantung serius serta membutuhkan operasi jantung terbuka, namun pihak berwenang Israel menolaknya.
Penjara Israel, “Lingkungan Subur” untuk Penularan Penyakit
Al-Ashqar berpendapat bahwa kondisi penahanan yang keras dan pelanggaran yang terus berlanjut di dalam penjara merupakan “lingkungan yang subur” bagi para tawanan untuk tertular penyakit serius. Ia merujuk pada pengumuman berulang tentang kasus-kasus baru kanker dan penyakit yang tidak dapat sembuh sebagai akibat dari akumulasi kelalaian medis selama bertahun-tahun. Kondisi ini mengancam nyawa para tawanan dengan kematian yang akan segera terjadi.
Ia memperingatkan tentang bahaya kondisi yang dihadapi para tawanan penderita kanker, mengingat pengabaian Israel terhadap nyawa mereka dan tidak adanya pengobatan yang memadai, terutama kemoterapi darurat yang mereka butuhkan. Ia menekankan bahwa kelalaian ini dalam banyak kasus telah menyebabkan pembebasan tawanan setelah mereka mencapai tahap kesehatan kritis, sementara yang lain meninggal sebagai akibatnya.
Al-Ashqar menyerukan kepada organisasi dan badan internasional, terutama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), untuk segera turun tangan. Mereka harus bertindak guna menyelamatkan nyawa para tawanan yang sakit. Al-Ashqar juga mendesak mereka untuk bekerja serius demi pembebasan para tawanan sebelum terlambat.
Sumber: Palinfo








