Berbicara tentang makanan tidak melulu berbicara tentang hal yang mengenyangkan. Ia, pada model makanan tertentu, mengandung nilai kemanusiaan atau spiritual yang boleh jadi sedikit banyak menegasikan fungsi makanan sebagai media yang mengenyangkan. Ambil contoh nasi jangkrik dan bubur asyura di Kudus. Kedua makanan ini dibuat dalam momen tertentu dengan ritus tertentu pula. Ia direbut oleh banyak warga di sana bukan karena mereka lapar, melainkan dikarena dorongan kepercayaan bahwa nasi jangkrik dan bubur asyura mengandung berkah.
Di Palestina, dari sepuluh makanan populer yang ada di sana, saya menemukan tiga makanan khas negeri para nabi tersebut yang dimakan juga bukan karena alasan ingin kenyang, melainkan karena ada nilai substansial-religius dan humanis yang terkandung di dalamnya.
Kurma Jericho
Ini buah khas Palestina. Keberadaanya bukan hasil oleh rasa, karsa, dan cipta masyarakat di sana, melainkan anugerah langsung dari Allah di bumi tersebut. Jericho adalah nama kawasan tua di Palestina yang sudah ada sejak sepuluh ribu tahun lalu. Kuburan Nabi Yusuf berada di sana. Di sepanjang kawasan yang berbatasan dengan lembah Jordania ini, kurma dengan kualitas premium tumbuh dengan baik. Di tempat lain, kurma bisa tumbuh, namun kualitas buahnya berbeda. Kurma jericho memanjakan lidah penyuka manis karena rasanya yang legit, teksturnya yang lembut, serta dagingnya yang tebal dengan biji yang kecil.
Bagi umat Islam, kurma adalah makanan “religius”. Ia adalah salah satu dari sedikit buah yang akrab dengan Rasulullah, dianjurkan beliau untuk memakannya, dan juga termaktub dalam teks suci Hadis dan Al-Qur’an. Maka tidak heran, khususnya di bulan Ramadan, umat Islam memburu buah ini lantaran motif religius. Sebanding dengan miliaran jumlah umat Islam, permintaan akan kurma ini juga melimpah. Di tengah ekonomi Palestina yang kurang baik sebab invasi Israel, kurma jericho memberikan harapan baik bagi masyarakat di sana.
Lagi-lagi penduduk ilegal Zionis Israel bikin ulah. Mereka juga menanam kurma di kawasan sana sebagai produk komersial . Di satu sisi, tanah Palestina mereka jajah. Di sisi lain, produk rakyat Palestina mereka juga saingi. Hal ini tentu sangat mungkin melemahkan ekonomi rakyat Palestina yang kini sedang menderita. Sebab itu, walau sama-sama berasal dari Jericho, atas nama kemanusiaan, sangat dianjurkan untuk membeli produk kurma rakyat Palestina yang berlabel Jericho Dates yang diproduksi oleh Nakheel Palestine Ltd, Ariha, atau Kurma Medjoul produksi Al-Rwad Palestina.
Minyak Zaitun
Seperti halnya kurma jericho, zaitun juga makanan “religius” yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Tentu saja, buah ini disebut Allah karena ia memiliki banyak manfaat, salah satunya dari segi kesehatan. Di kota Jenin di Tepi Barat, produksi minyak zaitun menghidupi 80.000 petani Palestina. Buah rendah lemak ini juga tumbuh subur di Gaza. Dari segi ekonomi, sejak dulu, buah ini memberikan keutungan bagi rakyat Palestina.
Sayangnya, ekonomi berbasis hasil buah zaitun ini juga terganggu sebab pendudukan ilegal Zionis Israel. Gangguan mereka bisa dilihat dari pagar tembok di Tepi Barat yang mereka bangun sehingga memisahkan penduduk Palestina dengan pertanian mereka. Hanya pada saat menanam dan panen, petani Palestina diizinkan melewati pagar tembok tersebut. Akibatnya, ada ribuan pohon zaitun yang rusak.
Kerusakan pohon zaitun yang juga disebabkan ulah penduduk Israel yang tinggal di dekat kawasan pertanian tersebut. Dilansir dari PBB, pada tahun 2019, sebanyak 2746 pohon zaitun rusak saat musim panen dan 7957 pohon hancur di luar musim panen. Vandalisme properti dan pohon zaitun sebagai mata pencaharian di Palestina selalu meningkat setiap tahun.
Vandalisme bukan hanya menghalangi GDP, tetapi juga menodai simbol identitas rakyat negeri yang diberkahi tersebut. Selain minyaknya banyak dicari karena rasanya premium, buah zaitun jadi simbol kehidupan rakyat, keturunan, hingga moyang di tanah Palestina. Kita dapat menemukan pohon zaitun berusia ribuan tahun di Tepi Barat dan Gaza.
Ahed Tamimi berkisah bahwa warga Israel secara bertahap dipindah ke kawasan Palestina. Rumah mereka dikelilingi tembok kawat dan pintu masuk ke perumahan mereka dijaga pasukan bersenjata. Penduduk Israel ini juga dipersenjatai. Dengan senjata tersebut, mereka kadang menakut-nakuti penduduk Palestina yang sedang bertani di dekat perkampungan mereka. Kadang mereka dianiaya. Pertanian mereka dirusak. Mata air warga juga dikuasai sehingga warga tidak bisa mengairi pohon-pohon zaitun mereka.
Kelaliman penduduk Zionis Israel ini tentu dibiarkan oleh otoritas mereka karena dianggap hal sepele. Yang lebih parah dari itu pun, seperti penembakan, pemukulan atau penyiksaan warga Palestina yang menyebabkan cacat dan kematian, sama sekali dianggap bukan masalah oleh otoritas Israel. Ahed Tamimi adalah saksi mata bagaimana saudaranya ditembak matanya oleh serdadu Israel hingga koma, bibinya ditendang di pengadilan hingga cacat, dan beberapa keluarganya diculik dan tak ada kabarnya.
Jika zaitun dan kurma adalah berkah dari Allah untuk negeri suci Palestina, maka keberkahannya selalu diganggu oleh kelaliman kolonialisme Zionis Israel. Padahal, warga Palestina tidak pernah menggangu para Zionis. Palestina, dulu, disebut sebagai peraduan tiga agama besar: Islam, Nasrani, dan Yahudi. Kini tidak lagi. Sebagian penganut Yahudi menjadi biang masalahnya. Kini, tinggal Islam dan Nasrani di Palestina. Kedua pemeluk agama tersebut menolak tunduk pada otoritas penjajah Israel dan dalam waktu bersamaan warga Palestina sama sekali tidak membenci Yahudi, saudara mereka.
Hal ini bisa dilihat dari pesan damai dan persatuan yang terkandung dalam kunafa, salah satu makanan khas Palestina.
Kunafa
Berbeda dengan kurma jericho dan minyak zaitun yang merupakan anugerah Allah ke tanah Palestina, kunafa merupakan hasil olahan warga Palestina sejak zaman dahulu. Makanan itu menjadi kudapan yang mengabadikan kisah lama tentang Palestina sebagai peraduan tiga agama.
Dalam praktiknya, makanan yang terbuat dari keju, gula, sirup, bihun, dan taburan kacang ini, memang dinikmati dengan membawa pesan demikian. Kue ini kadang disajikan sebagai makanan penutup. Kadang pula, di negeri asalnya, setiap minggu, kunafa disajikan untuk dinikmati bersama sambil ngobrol santai. Yang diundang untuk menikmatinya siapa saja, tak pandang agama etnis, dan lain sebagainya.
Bisa dibayangkan, jika tiap minggu ada kebersamaan tanpa melihat perbedaan lantara menikmati kunafa, maka akan tercipta perdamaian di Palestina. Faktanya tidak demikian. Palestina memang tidak mau ada pertengkaran atas nama apa pun, namun Israel darang menyerang dengan dukungan negara terkuat. Perdamaian yang ditawarkan kunafa diterima dengan moncong bedil.
Sebab itu, jika kita mengetik kata “Palestina”, maka aneka makanan Palestina kalah marak dibandingkan deru informasi penderitaan mereka menghadapi serangan Israel yang terjadi puluhan puluhan tahun silam hingga sekarang. Namun, masakan Palestina tidak berubah. Tetap menginginkan damai. Kurma jericho semanis keramahan warga Palestina, minyak zaitun merupakan keberkahan hidup mereka, dan kunafa merupakan maskot persatuan mereka untuk hidup damai.
Penulis: Habibullah
***
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







