Sedikitnya 266 warga Palestina, termasuk 112 anak, telah meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi di Gaza. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan tiga orang dewasa kembali meninggal dalam 24 jam terakhir karena kelaparan parah, malnutrisi, dan kekurangan obat.
Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan lebih dari 320.000 anak di bawah lima tahun berisiko mengalami malnutrisi akut, sementara 17.000 anak sudah menderita malnutrisi parah. Data terbaru menunjukkan ambang batas kelaparan telah terlampaui di sebagian besar wilayah Gaza, terutama di Kota Gaza, dengan ribuan anak terpaksa dirawat akibat gizi buruk.
PBB menegaskan jumlah bantuan makanan yang masuk maisih jauh dari cukup untuk 2,1 juta penduduk Gaza. UNRWA dan WHO menyebut Gaza menghadapi “bencana kelaparan paling buruk abad ini”, dengan hampir 96% penduduk mengalami kerawanan pangan serius.
Amnesty International menilai Israel menerapkan perang kelaparan secara sengaja, sebagai bagian dari genosida terhadap rakyat Palestina. Lebih dari 100 organisasi kemanusiaan, termasuk MSF dan Oxfam, juga memperingatkan bahwa kelaparan massal menyebar cepat, sementara Israel terus memblokir bantuan selama berbulan-bulan.
Selain blokade total dan penutupan perlintasan utama, Israel diduga merekayasa distribusi bantuan melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang hanya menyalurkan bantuan terbatas ke wilayah tertentu. Lokasi distribusi bahkan berubah menjadi “perangkap maut” saking banyaknya korban jiwa berjatuhan akibat serangan Israel ketika warga berebut makanan.
Direktur RS Al-Shifa menyebutkan bahwa Israel secara sengaja membunuh generasi di Gaza dengan kelaparan. Rumah sakit kewalahan menangani pasien dengan gejala akibat lapar ekstrem, mulai dari kehilangan ingatan, kelelahan, hingga tubuh yang kolaps.
WFP menyatakan krisis di Gaza sebagai situasi “tak tertandingi dalam abad ini”, mengingatkan pada bencana kelaparan di Ethiopia dan Biafra pada abad ke-20.








