JAKARTA-Sejak peristiwa Nakba tahun 1948, Israel mengusir ratusan ribu penduduk Palestina dari tanah air mereka. Sejak saat itu, banyak di antara mereka yang hingga kini masih berstatus sebagai pengungsi. Salah satu negara yang cukup banyak menampung pengungsi Palestina adalah Lebanon. Di Lebanon, ada sekitar 1,5 juta pengungsi dari Palestina dan Suriah yang hidup dengan penuh keterbatasan. Meski begitu, semangat mereka untuk menghafal Al-Qur’an sangat tinggi, terbukti dengan banyaknya penghafal Al-Qur’an yang lahir. Untuk mengapresiasi para penghafal Al-Qur’an di Lebanon, pada 14 September 2025, Sahabat Adara melalui Adara Relief International menyelenggarakan wisuda tahfidz untuk 30 orang penghafal Al-Qur’an di Kamp Jalil, Baa’labak, Lebanon.

Bagi pengungsi Palestina di Lebanon, krisis identitas telah bertransformasi menjadi trauma yang menumpuk karena tumbuh jauh dari tanah air mereka. Sejak tahun 1948, mereka melakukan perjalanan dari tanah air mereka, Palestina, mengira bahwa kepergian tersebut hanya akan berlangsung beberapa hari. Kenyataannya, hingga hari ini, banyak di antara para pengungsi tidak bisa kembali ke Palestina, bahkan hingga generasi-generasi selanjutnya. Akhirnya, satu-satunya pilihan bagi para pengungsi adalah dengan membangun kehidupan baru di negara pengungsian, dengan tetap membawa cinta terhadap Palestina di hati mereka. Salah satu cara mereka mengungkapkan cinta terhadap tanah air mereka adalah dengan mengukir prestasi, terutama dalam menghafal Al-Qur’an.
Di Lebanon, terdapat 12 kamp pengungsi Palestina, tempat para pengungsi menetap setelah diusir dari tanah air mereka. Para pengungsi Palestina yang tinggal di kamp pengungsian Lebanon hidup dengan penuh keterbatasan, baik dari layanan kesehatan, pendidikan, dan hak-hak dasar lainnya. Tak jarang, mereka bahkan diperlakukan sebagai “warga kelas dua”, membuat mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak di pengungsian. Namun, meski hidup dengan penuh keterbatasan, para pengungsi Palestina di Lebanon tidak pernah kehilangan semangat untuk mempelajari dan menghafal Al-Qur’an, bahkan banyak melahirkan para penghafal Al-Qur’an.
Untuk membersamai semangat para pengungsi Palestina di Lebanon, pada 14 September 2025, Sahabat Adara melalui Adara Relief International menyelenggarakan wisuda tahfidz untuk 30 penghafal Al-Qur’an di Kamp Jalil, Baa’labak, Lebanon. Dalam kegiatan ini, perempuan, laki-laki, juga anak-anak, seluruhnya mendapatkan penghargaan atas kekonsistenan mereka dalam menghafalkan Al-Qur’an. Selain pemberian penghargaan, para wisudawan juga disajikan makanan ringan dan minuman untuk dinikmati bersama selama kegiatan wisuda berlangsung.
Uniknya wisuda ini diikuti oleh banyak anggota keluarga yang berasal dari keluarga yang sama. Ada ibu dan tiga orang putrinya, ibu dengan satu orang putrinya dan saudara perempuan dengan saudara perempuannya yang lain. Peserta termuda yang diwisuda berusia 16 tahun sedangkan peserta tertua berusia 67 tahun.




Kerinduan akan tanah air tidak membuat pengungsi Palestina kehilangan arah dan menanggalkan keimanan mereka. Meski jauh dari Palestina, mereka tetap membawa rasa cinta terhadap Palestina di hati mereka, salah satunya dengan cara mengukir prestasi dalam bidang Al-Qur’an dan senantiasa mendoakan tanah air mereka setiap saat. Terima kasih Sahabat Adara, bantuan darimu telah mengukir senyum bahagia di lisan mulia para pengungsi Palestina yang senantiasa melantunkan ayat-ayat suci. Semoga penghargaan ini akan terus mengalirkan keberkahan dan menguatkan mereka untuk menjaga hafalannya seumur hidup mereka.







![Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz. [SEBASTIAN SCHEINER/AFP via Getty Images/MEMO]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/10/1-75x75.webp)
