Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk dengan cepat, terutama bagi anak-anak yang menghadapi gizi buruk akut.
Antara Januari hingga Juni 2025, setidaknya 19.089 anak berusia 6 hingga 59 bulan telah dirawat karena gizi buruk akut—rata-rata lebih dari 100 anak per hari. Data ini dirilis dalam Emergency Situation Update WHO untuk wilayah Pendudukan Palestina (oPt) yang mencakup periode 7 Oktober 2023 hingga 30 Juni 2025.
“Dengan kekurangan pasokan nutrisi yang sangat kritis di Gaza, situasi diperkirakan akan terus memburuk jika tidak ada intervensi segera,” tegas WHO. Mereka menambahkan bahwa “warga Gaza saat ini kelaparan, sakit, dan sekarat, padahal makanan dan obat-obatan hanya beberapa menit jauhnya di seberang perbatasan.” Tanpa akses langsung ke makanan dan kebutuhan pokok, kondisi ini berisiko berubah menjadi bencana kelaparan besar-besaran.
WHO juga menyampaikan kekhawatiran atas memburuknya ketahanan pangan di Gaza. Risiko kelaparan terus meningkat, ditambah kesulitan dalam mengakses bahan pangan yang tersedia, terutama bagi kelompok rentan. Hal ini disebabkan terbatasnya bantuan yang masuk, penjarahan yang berlangsung, serta distribusi dengan cara militer. WHO menyebut banyak keluarga hanya makan satu kali sehari dengan kandungan gizi yang sangat buruk, bahkan beberapa di antaranya tidak makan sama sekali sepanjang hari.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, WHO melaporkan bahwa sejak Oktober 2023, telah terjadi 61 kematian akibat gizi buruk di fasilitas kesehatan. Sementara itu, dalam 24 jam terakhir saja, setidaknya 18 orang dilaporkan meninggal dunia karena kelaparan.
Sumber:
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/without-immediate-intervention-malnutrition-crisis-in-gaza-to-deteriorate-further-who-warns/3637565
https://www.#/20250721-without-immediate-intervention-malnutrition-crisis-in-gaza-to-deteriorate-further-who-warns/








