Seorang pria Palestina, Oday al-Quraan, terbunuh akibat tertimpa peti bantuan yang dijatuhkan dari udara di Gaza pada Senin (05/8). Menurut The Independent, Oday sedang menunggu bantuan yang dijatuhkan dari pesawat, namun tak sempat menghindar saat peti bantuan jatuh menimpanya.
Oday adalah ayah dari dua anak dan telah mengalami kelaparan selama empat bulan terakhir. “Dia seperti warga Gaza lainnya, kelaparan sejak lama,” ujar sepupunya, Moatasem.
Israel memberikan izin kepada sejumlah negara untuk menjatuhkan bantuan ke Gaza dari udara di tengah krisis kelaparan yang telah merenggut setidaknya 180 nyawa sejak Oktober 2023. Namun, hal ini menuai kritik dari kelompok kemanusiaan karena tidak efisien dan berisiko menimbulkan cedera atau kematian.
Sebelumnya, pada Oktober 2024, seorang anak berusia tiga tahun bernama Sami Mahmoud Ayyad terbunuh setelah parasut peti bantuan gagal mengembang, sehingga peti bantuan jatuh kencang menimpa tenda keluarganya di al-Mawasi, Gaza selatan.
Wilayah Gaza yang diblokade total sejak awal perang mengalami kelangkaan pangan ekstrem. Penutupan akses darat oleh Israel membuat bantuan sangat terbatas, mendorong negara-negara asing untuk menyalurkan bantuan dari udara—meski dengan risiko besar bagi warga.
Lebih dari seribu warga Palestina juga dilaporkan terbunuh di sekitar lokasi distribusi bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah lembaga kontroversial yang didukung Israel dan Amerika Serikat. Mantan kontraktor militer AS, Anthony Aguilar, mengungkapkan bahwa ia menyaksikan langsung pembunuhan terhadap warga Palestina oleh tentara Israel dan tentara bayaran GHF saat mereka mencoba mendapatkan bantuan.
Sumber:
https://www.middleeasteye.net/news/falling-aid-crate-kills-palestinian-nurse-gaza








