Warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat kian terjerumus dalam kemiskinan akibat meningkatnya angka pengangguran yang kini telah melebihi 50 persen. Minimnya lapangan kerja memaksa ribuan orang mempertaruhkan nyawa dan kebebasan mereka dengan menyeberangi tembok pemisah Israel secara ilegal demi mencari nafkah.
Menurut laporan Al-Araby Al-Jadeed, sekitar 507.000 warga Palestina di Tepi Barat kini menganggur, jumlah ini mencakup seluruh pekerja yang sebelumnya aktif sebelum meletusnya agresi di Gaza pada 7 Oktober 2023. Sejak saat itu, sekitar sepertiga lapangan pekerjaan di wilayah tersebut lenyap, memengaruhi hampir 300.000 posisi kerja.
Situasi ini menjadi lebih parah dengan adanya pengetatan pengawasan Israel terhadap pekerja Palestina di wilayahnya. Pada pekan pertama Juli saja, pasukan Israel menangkap lebih dari 650 pekerja Palestina di Lod, Nazareth, dan kota-kota mayoritas Arab lainnya. Polisi Israel menahan mereka tanpa proses pengadilan dalam skema penahanan administratif yang telah lama dikecam oleh lembaga hak asasi manusia internasional.
Sebagian pekerja menghadapi tuntutan pidana, sementara yang lain dibebaskan dengan syarat tidak akan mengulang pelanggaran. Di sisi lain, pekerja Israel dan asing menerima kompensasi selama masa perang, namun hal serupa tidak diberikan kepada pekerja Palestina dari Tepi Barat yang bekerja di wilayah 1948.
Abdelhadi Abu Taha dari Federasi Umum Serikat Buruh Palestina menyebut pihaknya telah menggandeng Konfederasi Internasional Serikat Buruh Arab dan membawa kasus ini ke Organisasi Perburuhan Internasional (ILO). Ia juga menyinggung pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sempat mengatakan bahwa Uni Emirat Arab seharusnya membayar kompensasi kepada para pekerja Palestina—sebuah pengakuan tersirat bahwa hak finansial memang layak diberikan kepada mereka.
Sejak dimulainya perang di Gaza, militer Israel juga telah menggencarkan serangan di Tepi Barat, termasuk operasi besar “Iron Wall” yang dimulai Januari lalu. Operasi ini telah menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi dan infrastruktur sipil mengalami kerusakan parah. Hingga kini, diperkirakan 941 warga Palestina di Tepi Barat terbunuh akibat serangan militer dan kekerasan pemukim ilegal Israel.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/desperate-work-palestinians-risk-crossing-israel








