Kementerian Dalam Negeri Israel telah menolak permintaan warga Palestina-Israel yang berbasis di Eilabun, dekat perbatasan Lebanon, untuk mengganti nama jalan menjadi “Mahmoud Darwish”, “Hashivah” (Kembali) dan “Gamal Abdel Nasser”. Meskipun permintaan yang diajukan oleh pemerintah lokal Kota Galilea (Al-Jalil) timur telah mendapat persetujuan oleh komite penamaan di Kementerian Dalam Negeri, sebagai proses yang diwajibkan oleh hukum Israel, namun permintaan itu masih tertolak tanpa penjelasan.
“Mahmoud Darwish adalah seorang penyair Arab yang puisinya diajarkan di beberapa sekolah dengan persetujuan Kementerian Pendidikan. Ini seperti yang terjadi di sekolah-sekolah Yahudi. Mereka belajar puisi yang identik dengan budaya Yahudi dan memiliki jalan-jalan yang dinamai dengan nama penyair Yahudi,” terang Walikota Samir Abu Zayed
Ikram Sror, direktur jenderal dewan lokal, mengatakan bahwa nama “Hashivah” ditolak karena kurangnya pemahaman tentang konteks lokal. Ia menambahkan bahwa nama itu bukan seruan untuk “hak kembali” pengungsi Palestina ke rumah tempat mereka diusir untuk membuka jalan bagi pembentukan negara Israel pada 1948. “Kata ini terkait dengan sejarah unik Eilabun. Pada Oktober 1948, sebagian besar penduduk desa diasingkan ke Lebanon dan mereka dikembalikan ke sana setelah beberapa bulan dengan persetujuan pemerintah Israel saat itu,”. Namun, Kementerian Dalam Negeri mengklaim nama-nama itu sedang menjalani “pemeriksaan lebih lanjut” dan belum menolaknya.
Abu Zayed mengeluh bahwa kebebasan berekspresi dan hak-hak demokrasi kota Arab telah dilanggar. “Adalah hak saya, di komunitas saya, untuk memberi nama jalan yang sesuai dengan budaya dan sejarah kami,” katanya. Sebagai tanggapan, Kementerian Dalam Negeri Israel mengatakan, “Nama-nama ini, serta banyak nama lain dari berbagai komunitas, diteruskan untuk pemeriksaan lebih lanjut sebagai bagian dari pekerjaan reguler Kementerian Dalam Negeri. Kami menyesal bahwa klaim tersebut telah ditujukan pada profesional. komite, dan kami hanya dapat mencatat bahwa pemohon telah menyesatkan dengan mengklaim bahwa Kementerian Dalam Negeri diduga menolak nama-nama itu tanpa penjelasan apa pun.”
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







