Menteri Perang Israel diperkirakan segera menyetujui operasi militer berskala penuh terhadap Kota Gaza, kawasan terpadat di Jalur Gaza yang dihuni sekitar 740.000 jiwa. Rencana ini mencakup pengepungan, pengusiran paksa penduduk, serta penghancuran infrastruktur sipil, dengan tujuan merebut kendali kota dan melemahkan Hamas. Meskipun menuai kecaman internasional atas praktik yang dinilai bersifat genosida, pemerintah Israel tetap memperluas agresi militer, termasuk pengeboman intensif yang telah membunuh puluhan orang setiap hari serta memaksa puluhan ribu lainnya mengungsi.
Distrik al-Zaitun, kawasan terbesar di Kota Tua Gaza, menjadi salah satu pusat serangan paling parah. Lebih dari 400 rumah hancur akibat pengeboman beruntun, sementara penduduk melaporkan penggunaan robot penghancur, jebakan peledak, dan uji coba senjata baru. Kondisi ini menimbulkan rasa takut yang mendalam karena korban sipil, baik anak-anak maupun orang tua, terus berjatuhan tanpa perlindungan. Warga juga mengungkapkan bahwa akses pertolongan darurat hampir mustahil, bahkan sekadar untuk evakuasi jenazah dan distribusi pangan.
Sejumlah kesaksian menggambarkan penderitaan yang berkepanjangan akibat pengungsian berulang, kelaparan, dan kehilangan anggota keluarga. Banyak warga menyatakan hilangnya harapan akan tercapainya gencatan senjata, seraya menilai kegagalan komunitas internasional dalam mengambil langkah tegas untuk menghentikan agresi. Situasi ini memperlihatkan pola kekerasan sistematis yang tidak hanya menghancurkan ruang hidup, tetapi juga mengancam eksistensi penduduk Palestina sebagai sebuah komunitas.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/what-know-about-israels-planned-assault-gaza-city
https://www.middleeasteye.net/news/we-are-alone-gaza-city-residents-brace-worst-israeli-assaults-intensify








