Ribuan keluarga di Jalur Gaza hampir tidak mendapatkan cukup makanan untuk menyediakan makanan bagi anak-anak mereka ketika agresi militer Israel dan blokade bantuan terus berlanjut selama 150 hari.
Setidaknya seperempat penduduk Gaza hanya selangkah lagi menuju kelaparan, dengan dimulainya laporan kematian bayi dan anak-anak di tempat tinggal mereka dan di rumah sakit. Harga buah-buahan dan sayur-sayuran yang tersedia di pasar telah melonjak, dan produk-produk non-esensial seperti kopi juga meroket, dengan satu kilogram dijual seharga $100 (360 shekel).
“Secangkir kopi termahal kini bisa ditemukan, bukan di Paris atau Maladewa, tapi di Gaza,” menurut seorang warga Palestina di TikTok yang mengundang dua temannya sambil minum kopi untuk berterima kasih kepada mereka karena telah berdiri di sampingnya saat kakinya yang terluka.
Kopi tidak termasuk dalam beberapa ton bantuan yang dijatuhkan AS melalui udara di Gaza utara dalam operasi gabungan dengan angkatan udara Yordania pada akhir pekan.
Ketika pesawat Yordania menjatuhkan bantuan dari udara pekan lalu di Gaza utara, ribuan warga Palestina di kamp pengungsi Jabalia mengantisipasi bahwa peti-peti yang diterjunkan akan mendarat di wilayah mereka. Namun, angin membawa bantuan tersebut ke barat, ke arah pantai, menyebabkan sejumlah bantuan mendarat di air.
Cara penyaluran bantuan seperti itu menyebabkan penduduk Gaza merasa dipermalukan, kata salah satu warga Palestina kepada koresponden surat kabar Al-Akhbar di Gaza.
Mereka harus berjalan hampir tiga kilometer untuk tiba di pantai, hanya untuk menemukan orang-orang sudah menurunkan peti kayu, masing-masing sudah mendapat tiga puluh makanan dengan sekantong tepung, beras, kurma, satu botol air, sekaleng susu formula bayi, minyak goreng, beberapa bungkus pasta, dan pembalut.
“Bantuan lewat udara tidak ada gunanya,” Ibrahim, seorang warga Jabalia mengatakan kepada Al-Akhbar, “Saya berlari sejauh lima kilometer ke pantai Gaza, tapi saya tidak mendapatkan apa pun. Orang-orang di sana harus berebut untuk mendapatkan sekantong kurma atau satu kilogram beras.”
Dia menambahkan dengan bangga bahwa warga Palestina di Gaza “tidak pernah mengemis hingga Anda menghina martabat kami dengan cara ini.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








