UNICEF memperingatkan adanya peningkatan serius kasus malnutrisi di Gaza, terutama di kalangan anak-anak serta perempuan hamil dan menyusui. Dalam laporan terbarunya pada Selasa (9/12), lembaga PBB untuk anak-anak itu mencatat ribuan kasus baru sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober.
Menurut UNICEF, sebanyak 9.300 anak dirawat karena malnutrisi akut pada Oktober saja. Juru bicara UNICEF, Tess Ingram, mengatakan dalam konferensi pers di Jenewa bahwa meski angka ini lebih rendah dibanding puncaknya pada Agustus lalu, yang mencatat lebih dari 14.000 kasus, jumlahnya masih jauh lebih tinggi dibanding periode gencatan senjata singkat pada Februari dan Maret. “Ini tetap angka yang sangat mengejutkan,” ujarnya. “Hal ini menunjukkan bahwa aliran bantuan masih sangat tidak memadai.”
Ingram juga menyoroti kondisi perempuan yang mengalami malnutrisi parah sehingga melahirkan bayi prematur atau dengan berat badan rendah. Banyak di antara bayi tersebut meninggal di unit perawatan intensif, sementara yang bertahan hidup menghadapi komplikasi kesehatan serius.
UNICEF mencatat bahwa pada Oktober, sebanyak 8.300 perempuan, termasuk ibu hamil dan menyusui, menerima perawatan untuk malnutrisi akut. Padahal sebelum Oktober 2023, tidak pernah ada laporan kasus malnutrisi ibu.
“Pola ini merupakan peringatan keras,” kata Ingram. Menurutnya, malnutrisi yang diderita ibu merupakan sebuah peringatan bahwa Gaza kemungkinan akan menghadapi gelombang bayi dengan berat lahir rendah dalam beberapa bulan mendatang.
Sumber: MEMO








