Perempuan dan anak perempuan di wilayah pendudukan Tepi Barat kini berada di bawah ancaman kekerasan, risiko pengungsian paksa, serta pembatasan ruang gerak yang semakin mencekik. Temuan ini terungkap dalam analisis terbaru yang UN Women rilis. Analisis tersebut memotret kerentanan berlapis yang kelompok rentan hadapi di tengah eskalasi berkepanjangan.
Berdasarkan data analisis tersebut, terdapat sekitar 83.200 rumah tangga di Tepi Barat dengan perempuan sebagai kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 40 persen rumah tangga pernah mengalami pengungsian dari tempat tinggal asal mereka. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 30 persen pada rumah tangga di bawah pimpinan laki-laki.
UN Women menyebut perempuan yang tiba-tiba menjadi kepala keluarga menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar, memperoleh penghasilan, dan mengakses bantuan kemanusiaan.
Baca juga: Tawanan Gaza Alami Penyiksaan Fisik dan Seksual di Penjara Ramla
Tekanan psikologis dan ancaman fisik yang membayangi keseharian mereka terangkum dalam sejumlah indikator mengkhawatirkan. Sebanyak 57 persen perempuan kepala keluarga mengaku hidup dalam kecemasan konstan terhadap ancaman penangkapan sewenang-wenang oleh aparat pendudukan Israel. Selain itu, dengan tercatatnya 925 hambatan pergerakan fisik di seluruh Tepi Barat—meliputi pos pemeriksaan (checkpoint), penghalang jalan, hingga parit militer—seluruh perempuan kepala keluarga yang diwawancarai menyatakan terpaksa menghindari pos pemeriksaan.Hampir sembilan dari sepuluh responden menegaskan bahwa infrastruktur militer tersebut menciptakan rasa tidak aman.
Pembatasan pergerakan ini secara langsung melumpuhkan kemampuan perempuan untuk mengakses makanan pokok, bantuan kemanusiaan darurat, layanan kesehatan dasar, serta kesempatan kerja
Analisis UN Women juga menemukan satu dari lima perempuan kepala keluarga khawatir mengalami kekerasan berbasis gender. Sementara itu, satu dari empat rumah tangga dengan perempuan sebagai kepala keluarga tidak menerima bantuan kemanusiaan.
Dampak krisis ini semakin menghimpit keluarga-keluarga yang memiliki anggota dengan kondisi kesehatan kronis. Lebih dari separuh rumah tangga dengan pasien penyakit kronis melaporkan kebutuhan finansial mendesak yang tidak terpenuhi. Dua pertiga di antaranya terpaksa berutang demi bertahan hidup, sementara separuh lainnya bahkan harus mengurangi porsi dan frekuensi makan sehari-hari.
Data tersebut berasal dari survei sekitar 800 rumah tangga di 11 wilayah Tepi Barat pada November–Desember 2025.
Sumber: MEMO








