Tujuh warga Palestina kembali meninggal dalam 24 jam terakhir akibat kelaparan, menurut Kementerian Kesehatan Gaza pada Ahad (31/8). Dengan tambahan ini, jumlah korban jiwa akibat kelaparan sejak Oktober 2023 telah mencapai lebih dari 330 orang, termasuk sedikitnya 124 anak.
Badan PBB Integrated Food Security Phase Classification (IPC) telah mengonfirmasi adanya kelaparan di Gaza utara dan memperingatkan bahwa bencana itu akan meluas hingga Deir al-Balah dan Khan Yunis pada akhir September. Saat ini, lebih dari 500 ribu orang menghadapi ancaman kelaparan ekstrem, sementara 1,7 juta lainnya berada pada tingkat darurat kerawanan pangan akut.
Kementerian Kesehatan Gaza juga memperingatkan munculnya wabah influenza parah yang menyebar cepat di kalangan anak-anak. Ruang rawat inap di Khan Yunis dilaporkan penuh sesak. Menurut Dr. Ahmed Al-Farra, Kepala Departemen Anak di Rumah Sakit Nasser, lemahnya sistem kekebalan tubuh anak akibat kekurangan makanan pokok dan suplemen memperburuk kondisi mereka.
Sejak 2 Maret, Israel menutup semua jalur masuk ke Gaza, menahan ribuan truk bantuan kemanusiaan di perbatasan dan hanya mengizinkan jumlah terbatas yang jauh dari kebutuhan minimum 2,4 juta penduduk. Taktik ini secara luas dipandang sebagai bentuk penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.
Hingga kini, serangan Israel telah membunuh lebih dari 63.000 warga Palestina dan melukai sekitar 160.000 orang sejak Oktober 2023. Israel juga menghadapi tuntutan hukum internasional: Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang, sementara Mahkamah Internasional (ICJ) sedang menyidangkan kasus genosida yang diajukan oleh Afrika Selatan.
sumber:
Middle East Monitor, The New Arab








