Pada Senin (27/07) dini hari, pemukim Israel menyerang desa Kristen Taybeh yang terletak di timur Ramallah. Mereka membakar dua mobil milik warga Palestina dan mencoret-coret tembok dengan grafiti bernada rasis. Salah satu tulisan berbunyi, “Kau akan menyesal nanti,” tanpa menjelaskan alasan di balik amarah mereka.
Tak lama setelah para pemukim pergi, tentara Israel justru menyerbu desa tersebut, menambah kepanikan di kalangan warga. Gelombang intimidasi ini bertepatan dengan pembangunan permukiman baru Israel di dekat Taybeh yang dimulai sejak Juni.
Serangan ini merupakan yang kedua dalam dua minggu. Sebelumnya, pada 14 Juli, pemukim membakar Gereja Saint George yang bersejarah serta pemakaman di sekitarnya. Serangan tersebut bahkan memicu kecaman langka dari Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, yang menyatakan bahwa para pelaku harus ditangkap dan diadili.
Warga Taybeh hidup dalam ketakutan. Farid Kawneh, salah satu warga, menceritakan bahwa ia mendapati mobilnya terbakar setelah dibangunkan oleh tetangga pada pukul dua dini hari. Saat berlari ke lokasi, ia melihat sekelompok pemukim berbicara dalam bahasa Ibrani dan melarikan diri setelah terkejut melihatnya. Warga lainnya segera datang setelah mendengar teriakannya.
Kamal Taye, warga lain yang mobilnya juga dibakar, mengungkapkan perasaan tidak aman dan terabaikan. Ia mengatakan bahwa ibunya yang sudah tua sangat ketakutan dan tidak ada jaminan keselamatan di bawah situasi saat ini. “Tidak ada yang bisa melindungi kami di tanah air kami sendiri,” ujarnya. Ia menuntut agar pihak berwenang menjalankan tanggung jawabnya untuk memberikan rasa aman kepada warga.
Taybeh adalah desa kuno yang diyakini sudah ada sejak zaman Kanaan, lebih dari 3.000 tahun lalu. Mayoritas penduduknya beragama Kristen dan menggantungkan hidup dari beternak dan bertani di tanah yang subur. Namun, kelimpahan ini justru menarik perhatian para pemukim ilegal yang, dengan dukungan penuh militer Israel, terus memperluas wilayah kekuasaan mereka.
Kelompok ekstremis muda Yahudi yang dikenal sebagai “Youths of the Hills” mendirikan pos-pos ilegal di sekitar Taybeh, termasuk “barak pertanian” yang tidak boleh didekati warga Palestina. Akibatnya, para peternak lokal kehilangan akses ke padang rumput mereka sendiri, sementara pemukim justru memanfaatkan lahan milik Taybeh untuk kegiatan pertanian mereka tanpa hambatan hukum.
Warga Palestina juga mengalami berbagai bentuk intimidasi rutin lainnya, seperti pembakaran pohon, pencurian alat kerja, penghancuran rumah dan padang gembala, penangkapan penggembala, hingga denda besar dari otoritas Israel yang memberatkan kehidupan mereka.
Laporan dari kelompok HAM Israel B’Tselem dan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mencatat lebih dari 1.200 insiden kekerasan pemukim terhadap warga Palestina sepanjang tahun 2024, atau setara dengan tiga serangan per hari.
Desa Taybeh hari ini menjadi simbol dari bagaimana kekerasan yang terstruktur, dukungan militer, dan impunitas hukum, telah memperparah penderitaan warga Palestina—bahkan di desa kecil yang damai sekalipun.








