Menteri Keuangan ekstremis Israel, Bezalel Smotrich, mengumumkan rencana pembangunan 3.401 unit permukiman ilegal baru di Area E1, yang terletak di antara Al-Quds (Yerusalem) dan permukiman Ma’ale Adumim di Tepi Barat. Proyek ini juga mencakup penambahan permukiman baru bernama Zibor Midbar dengan 3.515 unit hunian yang diperkirakan akan menggandakan populasi Ma’ale Adumim dan menarik sekitar 35.000 pemukim baru dalam beberapa tahun ke depan.
Smotrich, yang merupakan pemukim di Tepi Barat, menegaskan bahwa pembangunan ini “menghapus gagasan negara Palestina” dan menjadi bagian dari “rencana kedaulatan de facto” pemerintah Israel. Ia mengatakan proyek ini akan menghubungkan Ma’ale Adumim dengan Al-Quds, sekaligus memutus akses darat antara Ramallah di utara dan Bethlehem di selatan, sehingga membelah Tepi Barat menjadi dua kantong terpisah.
Langkah ini dilakukan setelah jeda pembangunan selama 20 tahun di Area E1, meski mendapat tekanan internasional yang menuntut penghentian pembangunan permukiman ilegal. Di bawah hukum internasional, seluruh permukiman Israel di Tepi Barat, termasuk Al-Quds bagian timur (Yerusalem Timur), adalah ilegal. Namun, Israel terus mengabaikannya selama lebih dari lima dekade.
Rencana tersebut turut mencakup pembangunan jalan baru khusus warga Palestina di selatan Area E1, yang akan mengalihkan lalu lintas Palestina dari Jalan Raya 1 dan hampir sepenuhnya dikhususkan bagi pemukim Israel. Hal ini semakin memperkuat sistem apartheid Israel di Tepi Barat yang diduduki sejak perang 1967.
Kepala Dewan Yesha, Yisrael Gantz, menyebut langkah ini sebagai “pencapaian besar bersejarah” dan menyerukan aneksasi penuh Tepi Barat serta penolakan terhadap negara Palestina. Dukungan terhadap aneksasi juga datang dari Smotrich dan sejumlah pejabat Israel lainnya.
Kementerian Luar Negeri Palestina di Ramallah memperingatkan bahwa proyek ini akan menghancurkan kemungkinan berdirinya negara Palestina yang layak. PBB melalui berbagai badan telah menyerukan langkah hukum dan politik untuk menghentikan rencana ini, yang dinilai menutup semua jalan menuju solusi dua negara.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/smotrich-says-new-settlement-ends-hope-palestinian-state








