Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta memastikan para balita di ibu kota yang mengalami stunting mendapatkan jaminan sosial dari pemerintah. Kepala Dinsos DKI Jakarta, Premi Lasari menuturkan bayi yang stunting akan terdata dengan baik dan masuk data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).
Balita yang sudah tercatat di DTKS akan menerima jaminan bantuan sosial berupa Kartu Anak Jakarta (KAJ). Sehingga, balita stunting yang masuk DTKS berhak menerima bansos. Sementara balita yang belum terdata di DTKS dipastikan akan dibantu untuk mengurus data agar jaminan sosial ini dapat dinikmati semuanya.
Dinas Sosial menyampaikan sinkronisasi data DTKS dengan Dinas Kesehatan sudah selesai. Saat ini pihaknya tengah melakukan verifikasi data melalui forum sanggahan untuk memastikan penerima bansos tepat sasaran. “Saat ini kami dalam proses melakukan musyawarah kelurahan untuk melakukan verifikasi terhadap data, terutama penerima bansos, KJP, KJMU, untuk apakah mereka itu benar-benar adalah layak menerima bansos. Dan juga ini untuk menindaklanjuti bahwa bansos itu harus tepat sasaran,” terangnya.
Kegiatan tersebut merupakan intervensi untuk menghadapi ancaman fenomena lost generation atau generasi hilang akibat stunting. Sebelumnya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut ada sekitar 790 ribu balita di Jakarta. Dari jumlah itu, sekitar 14 persennya mengalami prevalensi stunting. Artinya, masih ada sekitar 110 ribu balita stunting di Jakarta.
Heru Budi Hartono yakin dapat menurunkan angka stunting di ibu kota dari 14 persen menjadi 5 persen. Target tersebut merupakan kesepakatan antara Heru dengan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin usai melakukan rapat di kantor Balai Kota DKI Jakarta, pada Rabu (1/2/2023). Dia optimistis dapat menekan angka stunting usai melakukan kunjungan ke Cilincing kemarin dan melihat angka keberhasilan menyelamatkan anak-anak stunting cukup tinggi.
“Saya rasa bisa. InsyaAllah target itu tercapai, terlihat di Cilincing mencapai 777 stunting, kita bisa langsung turunkan sebanyak 17 persen atau yang sudah lulus sebanyak 134 penderita stunting. Yang paling tinggi penyelesaiannya di Cilincing, di Tanjung Priok sudah lulus sebanyak 81 anak,” ujar Heru.
Terdapat tiga strategi dalam percepatan penanganan stunting di ibu kota. Pertama, melakukan sinkronisasi data stunting yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kedua, Pemprov DKI Jakarta akan turun ke lapangan untuk menyalurkan pemberian tambahan gizi dan vitamin kepada warga yang berada di daerah rawan stunting. Ketiga, pihaknya akan fokus memberikan pengawasan gizi dalam tiga periode penting:
- Ibu saat hamil
- Bayi umur 6–11 bulan
- Bayi usia 12–23 bulan
Sebagai informasi, DKI Jakarta mencatat ada 140 ribu ibu hamil yang tersebar di enam wilayah. Untuk itu, Heru mengimbau agar ibu hamil rajin memeriksakan kandungan ke posyandu dan memperhatikan gizi selama mengandung.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








