Militer Israel kembali menggerebek Kota Tubas di Tepi Barat pada Senin (1/12) dini hari, hanya 24 jam setelah menarik pasukan dari kota tersebut usai operasi militer selama empat hari. Penggerebekan dimulai sekitar pukul 03.30 waktu setempat, disertai pemberlakuan jam malam dan penutupan seluruh akses utama, termasuk jalan alternatif, dengan gundukan tanah, sehingga Tubas benar-benar terisolasi.
Puluhan tentara menyerbu rumah-rumah warga, menggeledahnya, lalu mengubahnya menjadi pos-pos militer. Pemerintah wilayah Tubas mengatakan bahwa operasi ini berlangsung setelah serangkaian agresi menyebabkan kerusakan luas pada properti publik dan pribadi, melukai warga, serta meningkatkan penangkapan terhadap warga Palestina.
Akibatnya, aktivitas harian warga terhenti, termasuk layanan pemerintahan dan kegiatan pembelajaran. Direktur Pendidikan Tubas menyatakan bahwa sekolah tatap muka ditangguhkan “hingga pemberitahuan lebih lanjut”, dan guru dipaksa beralih ke pembelajaran jarak jauh akibat pemberlakuan jam malam. Jadwal pembelajaran tatap muka baru akan diumumkan setelah situasi di lapangan memungkinkan.
Di Aqaba, sekitar 15 kilometer dari Tubas, dua helikopter Israel terlihat menurunkan puluhan tentara sebagai bagian dari operasi yang lebih luas di wilayah tersebut. Rumah-rumah warga juga digerebek dan dijadikan barak militer.
Penggerebekan terbaru ini terjadi sepekan setelah operasi besar yang dimulai pada Rabu lalu. Ketika itu pasukan Israel mengepung Tubas, menembaki wilayah tersebut dari helikopter, memaksa warga keluar dari rumah, serta memutus akses masuk ke kota. Operasi tersebut berlangsung hingga Sabtu dan meluas ke Desa Tammun, Tayasir, dan Kamp Pengungsi Fara’a.
Pada hari yang sama, pasukan Israel juga melakukan serangan ke Kota Qabatiya di selatan Jenin. Seperti di Tubas, tentara menggerebek rumah-rumah, memberlakukan jam malam, dan menahan sejumlah warga Palestina.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/israel-army-re-raids-tubas-detains-palestinians-en-masse








