Tarek Rabie Safi, seorang petugas medis Palestina, mengungkapkan bahwa ia mengalami penyiksaan dan kelaparan selama hampir setahun dalam penjara Israel. Safi, pria berusia 39 tahun dan ayah dua anak, dibebaskan bersama 368 tawanan Palestina lainnya pada Sabtu (15/02) lalu sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel.
Dalam kesaksiannya, Safi menyebut bahwa ia ditahan oleh tentara Israel di Sde Teiman, di wilayah Jalur Gaza selama empat bulan. “Kami mengalami penyiksaan fisik dan kelaparan,” katanya. “Tidak ada makanan atau minuman yang layak, tidak ada perawatan medis. Lengan saya patah, tetapi mereka tidak mengobatinya atau membawa saya ke dokter.”
Safi juga mengungkapkan bahwa salah satu tawanan yang bersamanya, Mussab Haniyeh, meninggal akibat perlakuan buruk yang dialaminya. “Ia adalah pemuda yang kuat, tetapi karena kurangnya makanan, air, dan siksaan yang terus-menerus, ia meninggal di depan mata kami,” katanya.
Setelah empat bulan di pusat penahanan itu, Safi dipindahkan ke berbagai penjara Israel hingga akhirnya dibebaskan di Khan Younis, tempat ia bertemu kembali dengan keluarganya dalam suasana haru.
Sementara itu, Asosiasi Tawanan Palestina menyatakan bahwa Israel melakukan “kejahatan sistematis dan hukuman kolektif” terhadap para tawanan Palestina. Kepala asosiasi, Abdullah Al-Zaghari, mengatakan bahwa kelompoknya telah mendokumentasikan kesaksian mengerikan, termasuk pemukulan brutal dan pemborgolan tawanan selama berhari-hari atau berminggu-minggu tanpa makanan atau air.
Amnesty International juga melaporkan bahwa 27 mantan tawanan Palestina yang mereka wawancarai menggambarkan pengalaman disiksa setidaknya satu kali selama penahanan mereka.
Militer Israel menolak klaim ini dengan berkilah bahwa para tawanan menerima makanan, minuman, dan perawatan medis yang layak, serta dipindahkan ke fasilitas medis jika diperlukan. Namun, banyak tawanan yang dibebaskan menunjukkan tanda-tanda penyiksaan atau bahkan kehilangan anggota tubuh akibat perlakuan buruk selama masa penahanan mereka.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








