Tahun ajaran baru 2025/2026 resmi dimulai pada Senin (8/9) di seluruh Tepi Barat yang diduduki, setelah sempat tertunda selama satu pekan. Namun, puluhan sekolah masih ditutup akibat serangan dan penggerebekan yang terus dilakukan pasukan pendudukan Israel (IOF) di kota dan desa, terutama di selatan Jenin.
Kementerian Pendidikan Palestina sebelumnya mengumumkan penundaan karena krisis keuangan yang dipicu pengepungan ekonomi Israel dan penahanan pendapatan pajak Palestina. Sekolah-sekolah di Al-Quds (Yerusalem) tidak termasuk dalam penundaan tersebut.
Sekitar 46.000 anak pengungsi Palestina juga kembali bersekolah di sekolah-sekolah UNRWA di seluruh Tepi Barat. Badan ini menegaskan bahwa meski terjadi eskalasi kekerasan dan pengungsian massal, sekolah-sekolahnya tetap menjadi ruang aman yang menyediakan pendidikan sekaligus dukungan psikologis.
Pembukaan tahun ajaran baru digelar di Sekolah Deir Jarir, timur Ramallah, dan dilanjutkan di Sekolah Shalal al-Auja, Jericho. Namun, kegiatan belajar terhenti di hampir 48 sekolah di distrik Qabatiya, Jenin, karena penggerebekan militer Israel. Menteri Pendidikan Amjad Barham menyatakan sekolah-sekolah tersebut akan dibuka kembali segera setelah serangan berhenti.
Ia juga menambahkan bahwa sekolah-sekolah di Tulkarem dan Jenin terpaksa ditutup total akibat serangan berkelanjutan terhadap kamp-kamp pengungsi dan komunitas sekitarnya. Enam sekolah UNRWA di Al-Quds (Yerusalem) pun terdampak.
Sementara itu, sektor pendidikan Gaza mengalami kehancuran paling parah. Dari 307 sekolah, 293 di antaranya hancur sebagian atau seluruhnya akibat genosida Israel. Meski demikian, Kementerian Pendidikan meluncurkan tahun ajaran baru di Gaza secara daring pada Senin sore, hanya dua hari setelah lebih dari 26.000 siswa SMA di wilayah itu memulai pendidikan tahun terakhir mereka secara online.
Sumber: Palinfo








