Sebuah investigasi baru oleh kelompok riset Forensic Architecture (FA) menemukan bahwa militer Israel telah menjalankan metode perang kelaparan yang disengaja, hingga mendorong Gaza menuju kelaparan. Antara 18 Maret dan 1 Agustus 2025, setiap insiden diverifikasi menggunakan video dan citra satelit, yang menciptakan gambaran terperinci tentang bagaimana bantuan dimanipulasi untuk membunuh, alih-alih menyelamatkan warga Palestina.
Israel telah membongkar sistem bantuan sipil Gaza yang telah lama ada dan menggantinya dengan sistem militer yang dirancang untuk melancarkan tujuan militer dan politik Israel, sambil mengendalikan dan membuat penduduk Palestina kelaparan.
Sebelumnya, bantuan dapat mencapai Jalur Gaza melalui UNRWA, LSM internasional, dan jaringan komunitas. Mekanisme ini sejalan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Namun, pada awal tahun ini, Israel melarang aktivitas UNRWA, dan pada Maret Israel menghentikan sepenuhnya masuknya bantuan.
Sistem sipil kemudian digantikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), yang didukung oleh AS dan Israel. GHF mulai mendistribusikan jatah terbatas melalui stasiun-stasiun yang dikendalikan militer, sehingga menciptakan ketergantungan pada sistem yang menurut para pengamat “mematikan sejak awal”.
Jaringan distribusi yang dipimpin PBB sebelumnya mampu mengoperasikan sekitar 400 lokasi di seluruh Gaza, sementara GHF, yang dijaga oleh kontraktor keamanan swasta bersenjata, hanya mendirikan empat “situs besar” untuk populasi Gaza yang berjumlah sekitar dua juta orang. Israel memusatkannya di selatan untuk memaksa orang-orang meninggalkan Gaza utara, seperti yang direncanakan oleh militer Israel.
Warga Palestina diharuskan untuk berjalan jauh dan memasuki zona militer yang dikuasai Israel untuk mengakses GHF. Tiga stasiun terletak di antara Rafah dan Khan Younis, dan yang keempat di selatan Koridor Netzarim; semuanya berada di dalam area yang secara resmi ditetapkan sebagai zona pertempuran aktif.
Stasiun-stasiun ini hanya buka sebentar, seringkali hanya beberapa menit, dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Agar tidak ketinggalan distribusi, banyak keluarga terpaksa pindah ke lokasi yang lebih dekat ke sana. Akses masuk berjalan lambat dan dikontrol ketat: warga diarahkan melalui koridor sempit berpagar yang menyerupai kandang ternak.
Antara 29 Mei dan 4 Juli, analisis FA terhadap 160 pengumuman dari stasiun-stasiun bantuan GHF menemukan bahwa warga Palestina seringkali harus berjalan kaki antara 2,5 dan 10 km (1,6–6,2 mil) dari tempat penampungan untuk mendapatkan bantuan. Sekitar 60 persen pengumuman diunggah di Facebook kurang dari satu jam sebelum dibuka, dan setelah 19 Juni, stasiun-stasiun tersebut hanya dibuka kurang dari 10 menit. Dalam 23 persen kasus, penutupan diumumkan sebelum waktu buka yang dijadwalkan sebelumnya, sehingga akses menjadi sangat sulit.
Pengiriman bantuan melalui udara telah digunakan sebagai metode pengiriman makanan ke Gaza, terutama setelah ramainya kritik internasional terhadap metode perang kelaparan Israel. Namun, pengiriman bantuan melalui udara sangat berisiko dan jumlahnya pun sangat minim dibandingkan dengan pengiriman melalui jalur darat.
Akibat metode-metode tersebut, FA telah mengidentifikasi bahwa penggunaan bantuan sebagai senjata oleh Israel telah menyebabkan tiga pola utama: memindahkan paksa warga Palestina melalui lokasi-lokasi penyaluran ransum, membuat bantuan menjadi sulit dijangkau, dan mengganggu ketertiban sipil masyarakat di Gaza. Ini membuat warga Palestina menghadapi keputusan sulit, antara mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan sedikit makanan atau mati kelaparan.
Sumber: Al Jazeera








