• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

“Sterilisasi” Situs Ibrahimi sebagai Langkah Yahudinisasi atas Kota Hebron

by Adara Relief International
Desember 29, 2021
in Artikel, Jelajah
Reading Time: 8 mins read
0 0
0
“Sterilisasi” Situs Ibrahimi sebagai Langkah Yahudinisasi atas Kota Hebron
137
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Hebron telah berdiri setidaknya selama 5000 tahun, dan merupakan salah satu kota tertua di dunia yang masih dihuni.

Baca Juga

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Peradabannya dapat disaksikan hingga saat ini.  Terletak di Perbukitan Yudea selatan, barat daya Al-Quds di ketinggian 3050 kaki (930 meter) di atas permukaan laut, Hebron diuntungkan oleh iklim pegunungannya yang sangat potensial bagi pohon buah-buahan dan kebun anggur. [1] Selain itu, lokasinya berada di sepanjang rute perjalanan yang diinginkan secara historis. Sebuah gerbang kota, yaitu Bab al-Khalil atau Jaffa Gate yang terletak di selatan kota, menjadi penghubung antara Hebron dan Al-Quds.

Bab al-Khalil dibangun pada masa Utsmani (1538 M/ 945 H) oleh Sultan Suleyman Al-Qanuni. Sebuah panel prasasti tergantung di tengah sisi selatan ruang depan, mencatat nama Sultan Utsmani, Suleyman Agung, sebagai pelindung benteng. Sementara, sisi utara Bab al-Khalil mengarah ke kota melalui portal lebar yang berakhir di sebuah iwan atau lengkungan berkubah. Tepat di atas lengkungan, terdapat inskripsi yang diukir dengan aksara berjenis naskhi Utsmani.

Inskripsi tersebut berbunyi, “Bismillahirrahmanirrahim, perintah untuk pembangunan tembok yang diberkati ini dibuat oleh tuan kita, Sultan Agung, Penguasa Roma, Arab, dan Persia, Sultan Suleyman bin Selim. Semoga Allah memperpanjang pemerintahan dan kekuasaannya. (tahun 945 H [1538 M]).”[2]

Sekilas sejarah masjid suci Al-Haram Al-Ibrahimi

Al-Khalil, demikian orang-orang Arab menyebut wilayah Hebron. Hal ini sebab bukti sejarah menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim tinggal di sana sekitar 4.000 tahun lalu. Selain itu, terdapat pula Al-Haram Al-Ibrahimi atau masjid suci Ibrahimi sebagai nisbat bagi Sang Khalilullah, kekasih Allah Nabi Ibrahim. Masjid yang dianggap sebagai situs suci keempat dalam Islam dan situs suci kedua di Palestina ini terletak di sudut tenggara Hebron, di jantung Kota Tua. Di dalamnya terdapat peristirahatan terakhir bagi Nabi Ibrahim ayah para nabi, juga ibunda Sarah. Selain itu, terdapat pula makam Nabi Ishak dan Rifkah, istrinya, juga makam Nabi Yakub dan Leah, istrinya.

Masjid Ibrahimi dibangun di atas tanah yang dipagari oleh Herodes Agung, penguasa Palestina yang memerintah selama periode Romawi awal, yaitu antara tahun ke-37 dan ke-4 Sebelum Masehi. Pagar tersebut berukuran 7,5 x 1,4 meter dengan tinggi 15 meter. Pada pemerintahan Bizantium, sebuah gereja mungkin dibangun di sana, tetapi kemudian dihancurkan selama invasi Persia ke Palestina pada 614 M.

Pada periode awal Islam, Masjid Ibrahimi dibangun di atas tanah tersebut dan diberi perhatian khusus. Tugu yang menandai makam para nabi, dibangun dan dihiasi dengan permadani hijau yang disulam dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan inskripsi keagamaan. Selama periode ini sampai dengan 1994, Hebron yang merupakan kota suci bagi tiga agama, menjadi terminal spiritual bagi para peziarah dan turis dari seluruh dunia. Ada 500.000 umat Yahudi yang mendatangi situs suci ini setiap tahunnya dan melakukan ibadah di tembok bagian barat daya.

Pada rentang waktu 1099 hingga 1187, tentara Salib menguasai Hebron dan mengubah Masjid Ibrahimi menjadi Gereja Santa Abraham. Pada 1187, Salahuddin al-Ayyubi mengusir tentara Salib dari Hebron dan mengembalikan bangunan itu menjadi masjid. Al-Ayyubi memasang Mimbar Asqalan, yang sekarang dianggap sebagai artefak kayu langka. Kemudian, empat menara persegi ditambahkan ke masjid, tetapi kini hanya tersisa di sudut timur laut dan barat laut.[3]

Selepas berakhirnya pemerintahan Dinasti Ayyubiyah, Dinasti Mamluk melakukan beberapa perbaikan interior. Sultan Mansur Qalawun pada 1287 M menutup sebagian dinding Masjid menggunakan marmer. Selain juga menghias makam Nabi Ibrahim dan salah satu pintu masjid dengan marmer.

Renovasi yang lebih lengkap dan terstruktur dilakukan pada masa Utsmani. Menurut catatan Kota Hebron, Utsmani menjaga Masjid Ibrahimi sejak 1517 hingga 1917. Muhammad Abu Saleh, seorang peneliti di Hebron yang telah mengklasifikasikan artefak interior Utsmani, mengatakan sebagian besar peninggalan ini terdiri atas dekorasi atau ornamen kaligrafi Al-Qur’an, hadits, maupun syair yang ditatah di dinding dan pilar masjid; ubin Turki, tirai, dan jendela, yang dibuat dari marmer, kulit, dan kayu. Selain itu, langit-langit masjid dihiasi dengan kaligrafi nama Nabi Muhammad dan empat khalifah. Adapun peninggalan Utsmani di bagian luar masjid adalah kompleks pasar, pemakaman, dan pemandian (hamaam).[4]

Tragedi Berdarah di Hebron

Saat ini, Hebron adalah rumah dengan populasi Palestina terpadat di Tepi Barat dengan jumlah penduduk sekitar 200.000 jiwa. Selain itu, terdapat pula sekitar 850 pemukim kolonial yang tinggal di jantung kota dan dijaga secara ketat oleh militer—sebab hal inilah, wilayah tersebut menjadi salah satu tempat “paling panas” dengan tingkat ketegangan tertinggi.

David Ben Gurion, seorang pendiri negara Zionis Israel, yang juga perdana menteri pertama sekaligus menteri pertahanan Israel, pada 1970 menuliskan dalam pendahuluan Sefer Hebron (The Book of Hebron) karya Oded Ovisar, “Kita akan membuat kesalahan besar dan mengerikan jika gagal mengambil alih Hebron, untuk segera (membuat) permukiman Yahudi yang besar, terus tumbuh, dan berkembang. Ini juga akan menjadi berkah bagi negara Arab. Hebron layak menjadi saudara perempuan Yerusalem.”[5]

Pernyataan tersebut tentu merupakan pemantik terjadinya berbagai ketegangan di Hebron sejak diduduki oleh Zionis pada 1967. Pencaplokan wilayah Palestina semakin gencar dilakukan, kuku mereka mencengkram tanah dalam-dalam untuk merampas situs suci, mengeruk kekayaan alam Palestina, juga mengusir penduduknya. Semua itu dilakukan dalam segala situasi; terang-terangan dan sembunyi-sembunyi; dalam ramai dan sunyi. Masjid Ibrahimi yang berdiri di Hebron merupakan salah satu simbol ketegaran penduduk Tepi Barat yang bertahan dan melawan penjajahan itu.

Tragedi paling memilukan terjadi pada 25 Februari 1994 yang juga bertepatan dengan 14 Ramadan 1414 H. Baruch Goldstein, seorang pemukim ilegal, memasuki Masjid Ibrahimi dan menembaki jamaah yang tengah mendirikan salat subuh.  Ia membunuh 29 warga Palestina dan melukai 150 lainnya.[6] Pembantaian itu memicu bentrokan dengan tentara Zionis yang merenggut sekitar 10 nyawa warga Palestina lainnya.

Setelah pembantaian itu, pemerintah Zionis memberlakukan serangkaian tindakan keamanan di seluruh Hebron yang diduduki. Akses orang Islam terhadap Masjid Ibrahimi dikurangi dari seluruh ruang menjadi sekitar 40 persen, dengan 60 persen lainnya dialokasikan untuk jamaah Yahudi yang dapat mengakses situs tersebut dari pintu masuk yang terpisah. Pos pemeriksaan didirikan di sekitar pintu masuk masjid dan diawaki oleh tentara Zionis.[7]

Bagian kota yang dekat dengan permukiman ilegal Zionis ditutup untuk penduduk Palestina, termasuk pusat ekonomi yang berada di Jalan Shuhada. Pada saat yang sama, orang-orang Palestina di daerah-daerah jantung Hebron dipaksa menutup tempat usaha mereka. Seluruh jalan menjadi tertutup bagi orang-orang Palestina sementara pemukim Yahudi diizinkan untuk berkeliaran dengan bebas di bawah perlindungan ketat tentara.[8]

Hebron hari ini

Pada 1997, “Protokol Penempatan Kembali di Hebron” – bagian dari Perjanjian Sementara yang ditandatangani di bawah Persetujuan Oslo – membagi Hebron menjadi dua zona, yaitu area H1 dan H2. Area H1 diserahkan kepada Otoritas Palestina (OP), sementara area H2 berada di bawah kendali Zionis.[9] Hal ini menyebabkan penurunan tajam jumlah penduduk Palestina di Kota Tua Hebron karena tindakan militer terhadap orang-orang Palestina. Otoritas pendudukan menutup sepertiga apartemen di Kota Tua dan mengevakuasi penghuninya, serta melakukan penutupan terhadap 1500 toko komersial.

Selain tindakan dari militer, kekerasan pemukim terhadap warga Palestina telah menjadi bagian tak terpisahkan. Semua aparat penegak hukum – polisi, militer, dan kejaksaan – tidak melakukan apa pun untuk mencegah tindakan kekerasan dari pemukim, tidak mengusut fakta, dan tidak membawa pelaku ke pengadilan.

Kondisi kehidupan ini telah membuahkan hasil yang diinginkan Zionis: ribuan orang Palestina meninggalkan pusat kota. Seluruh tempat bersejarah dan komersial berdiri sepi, sangat kontras dengan situasi di Tepi Barat selatan. Pemindahan paksa ribuan penduduk Palestina dan penutupan kawasan bisnis dari area H2 dengan cara ini telah melanggar larangan pemindahan paksa yang diabadikan dalam hukum internasional dan merupakan kejahatan perang.

Angka populasi dengan jelas menggambarkan bagaimana pertumbuhan alami di Hebron telah diimbangi dengan kepergian paksa ribuan orang Palestina dari area H2. Pada 1997, ketika Perjanjian Hebron ditandatangani, sekitar 115.000 orang Palestina tinggal di Area H1. Hari ini, lebih dari 20 tahun kemudian, sekitar 166.000 orang tinggal di H1, terjadi peningkatan 45% dalam populasi. Sebaliknya, pada 1997 penduduk Palestina di area H2 adalah 35.000. Sekarang menjadi 34.000.[10]

Situasi ini sedang berlangsung hingga sekarang, dan bahkan menjadi lebih buruk. Apa yang dituliskan oleh Ben Gurion pada 1970 mengenai Hebron, terus direalisasikan oleh para penerusnya. Permukiman illegal terus berkembang, frekuensi insiden kekerasan semakin meningkat, perampasan rumah dan properti milik warga Palestina pun dilegalkan oleh hukum Zionis. Berbagai upaya sistemik Zionis untuk mencapai tujuan jangka panjangnya semakin terang dilakukan. Strategi urbisida (perpindahan penduduk dengan melakukan kekerasan/perusakan terhadap kota) yang dilakukan melalui pembatasan terhadap fasilitas publik, pembatasan pergerakan, dan penyangkalan terhadap hak-hak sosial politik warga Palestina, dianggap “mampu” mengusir peduduk Palestina dari tanah airnya.

Pada akhir 2019, Biro Nasional untuk Pertahanan Tanah dan Penentangan Permukiman menyatakan dalam laporannya bahwa Naftali Bennet, yang ketika itu menjabat Menteri Tentara Pendudukan Zionis, memerintahkan Administrasi Sipil untuk mengirim surat ke Kotamadya Hebron dan meminta persetujuan penghancuran pasar grosir di jantung kota untuk membangun 70 unit permukiman baru di atas pasar. Lebih lanjut, surat itu menyatakan bahwa jika kotamadya Hebron gagal mematuhinya dalam waktu 30 hari, proses hukum akan diajukan untuk mencabut status perlindungannya di sana.

Beberapa tahun sebelumnya, Zionis mengeluarkan brosur “The Machpelah Cave – Roots of the Jewish People,” yang diterbitkan di Hebron. Dalam brosur tersebut, nama-nama jalan diubah menjadi nama Yahudi. Misalnya, Jalan Al-Shuhada telah menjadi Jalan King David, di lingkungan Tel-Rumeida dan Al-Ja’bara, ada jalan-jalan, seperti Ma’ale Ha’fot dan Sa’adiyya Hebroni. Jalan Grand Shallal menjadi Jalan Hayim Youssef David Azoulay, dan Jalan Small Shallal menjadi Jalan Natan Zvi Finkel, yang merupakan pendiri sekolah agama “Knesset Israel”. Selain itu,  King Hussein Street menjadi Temple Street. Ladang Yasser Arafat menjadi “Kicker Heuval”, dan seterusnya.[11]

Yahudinisasi situs suci

Pada 2017, Kota Tua Hebron, yang di dalamnya terdapat al-Haraam Masjid Ibrahimi, telah masuk dalam daftar Properti Warisan Dunia yang dilindungi, milik bangsa Palestina. Properti ini dianggap dalam keadaan bahaya dan menghadapi ancaman serius akibat pelanggaran illegal dari Israel Occupying Power (IOP), seperti menghancurkan warisan bersejarah, membangun gedung baru dan menara, infrastruktur dasar, jalan baru, atau pelebaran gang dan jalur bersejarah, dan konduktor kegiatan arkeologi illegal, termasuk vandalisme, perusakan properti dan penyitaan, dan rencana lain yang mempengaruhi integritas dan keaslian properti. [12]

Perusakan atas situs suci tersebut terus berlangsung hingga hari ini.  Bermula dari diubahnya penamaan Masjid Ibrahim menjadi me’arat ha-Machapelah atau makam orang-orang suci, lalu dilanjutkan dengan pembatasan akses terhadap warga Hebron yang ingin memasuki masjid tersebut, misalnya dengan larangan masuk ke “Taman Suci”. Jalan dari tempat parkir mobil ke makam melewati area hijau kecil milik Pemerintah Kota. Otoritas Zionis membangun tangga besar untuk menghubungkan dua titik sehingga memungkinkan semua pengunjung Yahudi mengakses jalan dan mengunjungi monumen, serta menghalangi warga Palestina untuk mengaksesnya.

Kemudian, Zionis membangun jalan terpisah yang disebut sebagai “prayer road” untuk menghubungkan permukiman Kyriat Arba, yang dihuni sekitar 7000 pemukim Yahudi, ke makam para leluhur. Jalan ini memfasilitasi pergerakan para pemukim untuk melakukan ibadah Shabbat. Pembangunan jalan tersebut telah merusak dan menghancurkan lingkungan warga Palestina yang berada di sana, yaitu di kawasan Haret A-Salayme dan juga Haret ­A-Jaabari. Setengah dari jalan tersebut terlarang bagi warga Palestina serta hanya boleh dilalui oleh pemukim dan komunitas internasional[13].

Pada 12 Mei 2020, tentara Zionis menerbitkan perintah penyitaan dan pencaplokan tanah Masjid Ibrahimi, yang diklasifikasikan sebagai tanah Wakaf. Palestina berusaha menghentikan keputusan itu. Namun, pada Maret 2021, Mahkamah Agung Israel menyetujui surat izin pemasangan lift di Masjid Ibrahimi dengan alasan untuk mempermudah akses pemukim dan dapat digunakan oleh warga Zionis yang berkebutuhan khusus.[14] Eksekusi terhadap rencana ini mulai dijalankan pada 10 Agustus lalu, saat mesin-mesin berat mulai bekerja di dekat Masjid Ibrahimi untuk menggali jalan berliku sebagai bagian dari rencana pemasangan lift listrik di lokasi tersebut. Penggalian tersebut telah memotong sekitar 330 meter persegi halaman masjid.

Warga Palestina meyakini bahwa tujuan  pembangunan lift yang sebenarnya adalah untuk memperketat kontrol atas masjid, yang merupakan warisan budaya Islam, dan menegaskan karakter Yahudi di situs suci tersebut. Selain juga sebagai perpanjangan dari kolonialisme pemukim, serta upaya untuk menambah kontrol atas warga Palestina, setelah sebelumnya telah dibatasi oleh tembok-tembok dan pos pemeriksaan.[15] Urbisasi yang dilakukan terhadap Hebron merupakan gambaran nyata bagaimana kota tersebut disterilkan secara bertahap untuk memfasilitasi kolonialisasi dan Yahudinisasi.

 

Sumber:

[1] https://www.britannica.com/place/Hebron-city-West-Bank diakses pada 21 Agustus 2021
[2] Yusuf al-Natsheh. 2021. “Bab al-Khalil (Gate of Hebron)” http://islamicart.museumwnf.org/database_item.php?id=monument;ISL;pa;Mon01;28;en diakses pada 21 Agustus 2021
[3] Najla M. Shahwan. 2020. “The Future of Ibrahimi Mosque in Danger” https://www.dailysabah.com/opinion/op-ed/the-future-of-ibrahimi-mosque-in-danger diakses pada 19 Agustus 2021
[4] https://www.dailysabah.com/arts/ottoman-motifs-adorn-ibrahimi-mosque-for-hundreds-of-years/news
[5] “David Ben-Gurion: Hebron is Jerusalem’s Sister” http://en.hebron.org.il/history/211 diakses pada 21 Agustus 2021
[6] https://www.aljazeera.com/gallery/2014/2/24/remembering-the-ibrahimi-mosque-massacre
[7] Najla M. Shahwan. 2020. “The Future of Ibrahimi Mosque in Danger” https://www.dailysabah.com/opinion/op- ed/the-future-of-ibrahimi-mosque-in-danger diakses pada 19 Agustus 2021
[8] Op.cit
[9] https://www.#/20190225-remembering-hebrons-ibrahimi-mosque-massacre/
[10] Data tahun 2019, https://www.btselem.org/publications/summaries/201909_playing_the_security_card
[11] Madeeha Araj. 2019. “Report: Hebron is more than ever targeted by settlement and Judaization projects” http://english.pnn.ps/2019/12/16/report-hebron-is-more-than-ever-targeted-by-settlement-and-judaization-projects/ diakses pada 29 Agustus 2021
[12] Ministry of Tourism and Antiquities and Hebron Rehabilitation Committee. 2017. “State of Conservation Report (2017) for Hebron/Al-Khalil Old Town, Palestine (Ref. 1565)”
[13] “Al-Haraam al-Ibrahimi” https://www.hebronapartheid.org/index.php?settlement=4 diakses pada 29 Agustus 2021
[14] https://english.wafa.ps/Pages/Details/123534 diakses pada 29 Agustus 2021
[15] https://www.middleeasteye.net/news/israel-palestine-hebron-elevator-settlers-ibrahimi-mosque diakses pada 29 Agutus 2021

Tags: Palestina
ShareTweetSendShare
Previous Post

Tentara Zionis Menangkap Kembali Pemuda yang Seluruh Keluarganya Terbunuh atau Ditawan

Next Post

Para Penggembala Terpaksa Meninggalkan Ladang Setelah Diusir Pemukim Zionis

Adara Relief International

Related Posts

Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)
Artikel

In Honor of Resilience (2): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Melawan dengan Tulisan, Lukisan, dan Aksi di Lapangan

by Adara Relief International
Januari 19, 2026
0
21

“Harapan hanya dapat dibunuh oleh kematian jiwa, dan seni adalah jiwaku — ia tidak akan mati.” Kalimat tersebut disampaikan oleh...

Read moreDetails
Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Ketika Isra’ Mi’raj Memanggil Umat untuk Kembali kepada Al-Aqsa

Januari 19, 2026
20
Kubah As-Sakhrah pada Senja hari. Sumber: Islamic Relief

Isra Mikraj dan Sentralitas Masjid Al-Aqsa dalam Akidah Islam

Januari 19, 2026
22
Lukisan karya Maram Ali, seniman yang suka melukis tentang Palestina (The New Arab)

In Honor of Resilience (1): Sepenggal Kenangan dari Syuhada Gaza, Mereka yang Bersuara Lantang dan Berjuang Mempertahankan Kehidupan

Januari 14, 2026
25
Sebuah grafiti dengan gambar sastrawan Palestina, Mahmoud Darwish, dan penggalan puisinya, “Di atas tanah ini ada hidup yang layak diperjuangkan”. (Zaina Zinati/Jordan News)

Antara Sastra dan Peluru (2): Identitas, Pengungsian, dan Memori Kolektif dari kacamata Darwish dan Kanafani

Januari 12, 2026
87
Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

Januari 7, 2026
59
Next Post
Para Penggembala Terpaksa Meninggalkan Ladang Setelah Diusir Pemukim Zionis

Para Penggembala Terpaksa Meninggalkan Ladang Setelah Diusir Pemukim Zionis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630