Seiring dengan Youth and Future Generations Day di COP27, sekelompok aktivis iklim anak dari Kamboja mendatangi sekolah terapung di Danau Tonle Sap. Save the Children dan Norton Rose Fulbright menugaskan fotografer terkenal Linh Pham untuk mendokumentasikan sekolah terapung Kamboja yang telah menjadi garis depan dalam perang melawan krisis iklim yang terus meningkat. Serangkaian foto disertai dengan kesaksian menarik dari aktivis iklim anak, menyatakan bagaimana krisis iklim telah memengaruhi pendidikan mereka dan tuntutan mereka akan perubahan. Memastikan suara generasi muda dan generasi mendatang menjadi terdengar adalah salah satu tujuan COP27.
Aktivis iklim muda mempelajari perubahan iklim di kelas dengan naik perahu. Dengan spanduk dan mikrofon, mereka mengimbau penduduk desa mengambil tindakan untuk melindungi lingkungan dan membersihkan sampah dari danau mereka. Paparan tinggi dan kerentanan Kamboja terhadap guncangan iklim telah merusak sistem pendidikan negara itu selama satu dekade terakhir. Pada bulan lalu, banjir bandang melanda lebih dari 200 sekolah di 11 provinsi di Kamboja sehingga banyak sekolah terpaksa ditutup dalam waktu lama. Dua kali dalam enam tahun terakhir, negara tersebut terpaksa mengurangi jam sekolah karena rekor gelombang panas yang mengancam kesehatan siswa dan guru.
Bagi anak-anak seperti Sreyvatey (14 tahun) yang tinggal di rumah terapung di Danau Tonle Sap Kamboja, ancamannya sangat nyata. Dia dan teman sekelasnya harus melakukan perjalanan ke sekolah terapung mereka dengan perahu. Sreyvatey mengatakan, “Saat cuaca berubah drastis, saat matahari sangat terik, saya tidak bisa belajar. Sementara ketika saya di rumah saya tidak bisa tidur atau istirahat. Di komunitas saya, iklimnya kering dan panas. Terkadang ada kekeringan, banjir, badai, guntur, dan kilat. Rumah saya bergetar saat ada badai. Ada suara keras saat hujan. Ketika badai besar datang, itu membuat saya takut dan cemas.”
Setiap pagi, Ratana yang berusia 12 tahun berangkat dari rumahnya di Danau Tonle Sap Kamboja dengan perahu menuju sekolah terapungnya. Namun, sepanjang perjalanan, Ratana dan teman-temannya juga membersihkan sampah yang mengotori danau. Ratana mengatakan, “Ketika kami mendayung perahu ke sekolah, kami memungut sampah. Saya tidak suka sampah karena merusak lingkungan dan mencemari air. Saya khawatir ketika kami minum air ini, kami akan sakit.” Pengetahuan baru Ratana menginspirasinya untuk bergabung dengan kampanye yang dipimpin oleh Presiden Dewan Siswa (OSIS), untuk mendidik penduduk desa di komunitas mereka tentang kesadaran lingkungan dan perubahan iklim.
Dengan perahu, spanduk, dan mikrofon, mereka menuntut penduduk desa berhenti membuang sampah ke air dan menggunakan kembali botol bekas pakai untuk menanam sayuran. Ratana menambahkan, “Orang tua dan orang dewasa harus mendengarkan anak-anak yang sadar lingkungan. Saya ikut kampanye untuk menyebarkan informasi tentang lingkungan. Saya berada di atas kapal dan melakukan kampanye di desa dan di kabupaten, menggunakan mikrofon dan spanduk dengan pesan utama kami, jangan membuang sampah ke dalam air.”
Reaksmey Hong, Direktur Save the Children di Kamboja mengatakan, “Tidak mengherankan jika sekolah terapung Danau Tonle Sap telah menjadi tempat pelatihan bagi generasi muda aktivis iklim berikutnya. Anak-anak di sini telah menyaksikan secara langsung sekolah mereka dihancurkan oleh badai. Air mereka menjadi terlalu tercemar untuk mandi. Mereka mengambil tindakan sendiri untuk menyerukan masa depan yang lebih hijau dan lebih adil. Sekarang saatnya bagi orang dewasa untuk mendengarkan, terinspirasi, dan mengambil tindakan.”
Beberapa anak yang bersekolah di sekolah terapung Tonle Sap secara tragis telah menyaksikan secara langsung kegentingan kehidupan sehari-hari di danau. Tiga tahun lalu, Kanha (12 tahun) kehilangan saudara perempuannya yang baru berusia 5 tahun. Saudaranya jatuh dari pagar jaring yang tidak terikat di tepi rumah mereka dan tenggelam. Mereka menemukan tubuhnya di dalam air. “Ketika saya bangun, saya tidak melihat saudara perempuan saya. Ibuku pergi untuk membeli beras. Ketika dia kembali dan melihat putrinya seperti itu, dia sangat terkejut. Setelah itu dia berdoa untuk semuanya. [Tetangga kami] mengganti pakaiannya dan menyalakan kompor gas untuk menghangatkan tangannya, tapi dia tetap tidak selamat. Jadi, mereka membawa saudara perempuan saya untuk dimakamkan. Dulu, cuaca di sini tidak ada hujan. Tapi sekarang hujan dan guntur, topan, dan badai hebat datang silih berganti. Pada malam hari saya merasa sangat kedinginan.”
Tonle Sap Kamboja adalah danau air tawar terbesar di Asia Tenggara dan rumah bagi lebih dari satu juta orang. Namun, suhu yang terus meninggi, kekeringan, polusi, penangkapan ikan berlebihan oleh kapal pukat komersial, dan kerusakan lingkungan telah menyebabkan penurunan drastis stok ikan yang diandalkan banyak orang untuk mencari nafkah. Hai Vanak, nelayan lokal dan ayah dari Sreyvatey mengatakan, “Kalau airnya bau dan kotor, kami tidak bisa hidup dengan baik. Kami tidak bisa menggunakannya untuk mandi dan mengonsumsinya. Ikan juga akan terpengaruh. Perubahan iklim dan perusakan lingkungan telah melahirkan berbagai penyakit dan melenyapkan berbagai jenis ikan. Dalam sehari, 400 hingga 500 ikan mati, akibatnya penghasilan kami berkurang secara signifikan. Terkadang kami tidak mampu memenuhi semua kebutuhan kami.”
Sumber:
https://www.savethechildren.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








