Zainab al-Jabri (80 tahun) sedang tertidur di ruang kelas yang penuh dengan perempuan Palestina yang mengungsi ketika tiga ledakan mengguncang sekolah tersebut. Dia terbangun dan mendapati kekacauan dan kepanikan saat orang-orang bergegas ke musala sekolah yang menjadi sasaran serangan udara Israel.
Saat itulah dia langsung khawatir terhadap kedua putranya dan cucu-cucu mereka yang ada di sana untuk salat. “Saya menggunakan alat bantu jalan dan bergerak sambil memanggil ‘Ziad… Ihab… anak-anak saya,’” kenangnya.
“Ketika saya melihat potongan-potongan tubuh yang terbakar, saya menyadari tidak ada seorang pun yang selamat.”
Putra dan cucu Al-Jabri termasuk di antara lebih dari 100 warga Palestina yang terbunuh dalam serangan Israel pada hari Sabtu (10/8).
Serangan itu menargetkan musala sekolah al-Tabi’in di Kota Gaza saat puluhan orang berdiri dalam barisan shaf untuk melaksanakan salat subuh sekitar pukul 4.30 pagi.
Sekolah tersebut telah diubah menjadi tempat penampungan bagi orang-orang yang mengungsi dari tempat lain di kota tersebut akibat hancurnya rumah mereka oleh karena pengeboman Israel yang tiada henti selama 10 bulan.
Al-Jabri datang bersama keluarga besarnya ke sekolah tersebut dua pekan sebelum serangan hari Sabtu, setelah rumah mereka di lingkungan al-Shujaiya hancur dalam serangan Israel yang membunuh tujuh cucunya.
“Saya seorang perempuan tua yang sakit,” ungkapnya kepada Middle East Eye.
“Anak-anakku adalah cahaya hidupku, tetapi mereka mencurinya dariku. Setidaknya sisakan satu untukku,” tambahnya.
“Sekolah itu penuh dengan anak-anak muda yang cinta damai, lansia perempuan dan laki-laki. Kami semua orang yang cinta damai. Saya memohon agar Tuhan membalas mereka.”
Militer Israel segera berdalih dengan mengklaim bahwa masala tersebut berisi “fasilitas militer” dan 31 orang yang tewas adalah teroris yang beroperasi dari sekolah.
Investigasi awal yang dilakukan oleh Euro-Med Human Rights Monitor menemukan daftar nama yang diberikan oleh militer sebagai “teroris” yang tewas dalam serangan tersebut mengandung sejumlah ketidakakuratan.
Dari daftar nama tersebut, setidaknya tiga orang telah terbunuh dalam pada awal agresi, dan ada pula nama seorang warga yang telah terbunuh pada bulan Desember.
Daftar Israel juga memuat nama tiga orang lanjut usia yang tidak memiliki hubungan militer, termasuk seorang kepala sekolah, Wakil Walikota Beit Hanoun, dan seorang profesor universitas, serta beberapa penentang Hamas.
Israel sebelumnya membuat pernyataan palsu serupa tentang identitas warga Palestina yang diklaimnya telah dibunuh dalam serangan udara.
Hamas berulang kali dan dengan keras menolak tuduhan Israel, dengan mengatakan para pejuangnya tidak pernah beroperasi dari dalam fasilitas sipil seperti sekolah dan rumah sakit.
Noah al-Shagnobe, seorang pekerja pertahanan sipil, mengatakan kepada MEE bahwa sebagian besar dari mereka yang terbunuh adalah anak-anak dan orang tua. Sementara itu, mayoritas korban luka dan mengalami luka bakar akibat intensitas serangan udara.
“Semua orang yang sedang salat di sana telah terbunuh, dan banyak korban lainnya yang saat tidur di lantai atas,” kata al-Shagnobe.
“Kami harus berjalan di atas mayat-mayat sambil berusaha mengeluarkan yang terluka dari tempat itu. Sebagian besar mayat tidak dapat dikenali lagi karena sudah tercabik-cabik.”
Serangan hari Sabtu itu mengejutkan banyak orang di seluruh dunia dan memicu kecaman internasional terhadap Israel.
Di Gaza, serangan itu dianggap sebagai salah satu serangan paling dahsyat sepanjang agresi. Serangan tersebut juga meninggalkan trauma mendalam bagi para penyintas yang masih mencerna pembantaian yang baru terjadi.
Rebhi Naser (57 tahun) dikenal selalu menghadiri salat Subuh di barisan depan masjid. Namun, Sabtu kemarin, ia terlambat datang–sebuah keterlambatan yang menyelamatkan hidupnya. Bom-bom menghantam musalah saat ia berjalan dari sudut lain sekolah.
“Guncangan dan nyala api akibat serangan udara, menjatuhkan saya ke tanah,” katanya.
“Saya pingsan beberapa detik, dan tangan saya gemetar. Saya tidak bisa bergerak selama 20 menit,” tambahnya.
Rebhi, yang berasal dari Beit Hanoun di Jalur Gaza utara, mencari perlindungan di sekolah tersebut pada November bersama 30 anggota keluarga setelah rumah mereka hancur.
“Kami beribadah di musala ini, memohon kepada Tuhan agar melindungi kami dan mengakhiri genosida ini,” tutur Naser kepada MEE.
“Kami bukan teroris, seperti yang mereka (Israel) klaim. Kami semua dikenal sebagai warga sipil terlantar yang cinta damai, kami tidak tertarik pada politik atau mengancam siapa pun.”
Naser, yang kehilangan 10 anggota keluarganya dalam serangan hari Sabtu, mengatakan ia berharap pada akhirnya dunia dapat melihat penduduk Palestina sebagai manusia yang setara.
“Kami adalah manusia yang terbuat dari daging dan darah, dan kami tidak sanggup menanggung lebih banyak lagi rasa sakit dan kehilangan,” katanya.
“Berapa banyak lagi kerugian yang harus kami tanggung untuk mengakhiri genosida ini?”
Sumber: https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








