Tentara Israel mundur dari Rumah Sakit al-Shifa di Kota Gaza pada Senin pagi (1/4), setelah 14 hari penggerebekan di kompleks medis terbesar di Gaza. Kesaksian dari lapangan melaporkan bahwa sedikitnya terdapat 50 jenazah di kompleks tersebut, sementara sumber medis mengatakan bahwa “ratusan mayat” terus ditemukan di sekitar rumah sakit.
Media Israel mengutip juru bicara tentara Israel yang mengatakan bahwa pasukan Israel telah mengakhiri operasi mereka di al-Shifa, membunuh 200 warga Palestina yang diklaim sebagai anggota kelompok perlawanan Palestina.
Tentara Israel mengulangi serangan selama dua pekan itu dengan dalih “tindakan pencegahan” untuk menghindari kerugian terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil. Namun, kesaksian para jurnalis dan warga sipil mengenai eksekusi dan penyiksaan di dalam rumah sakit serta foto-foto rumah sakit yang terbakar habis menunjukkan hal sebaliknya. Warga Palestina bergegas menuju al-Shifa setelah penarikan pasukan Israel dan menyaksikan kehancuran total fasilitas rumah sakit tersebut.
Menurut sumber medis di al-Shifa, pasukan Israel menghancurkan seluruh gedung operasi khusus dan membakar sisa bangunan tersebut. Sumber juga mengindikasikan bahwa tentara Israel juga membakar gedung unit darurat serta menghancurkan puluhan ruangan lainnya dan semua peralatannya.
Sumber lokal menambahkan bahwa pasukan Israel menghancurkan atau membakar sejumlah bangunan tempat tinggal di sekitar al-Shifa dan warga telah menemukan puluhan mayat di jalan-jalan sekitar kompleks tersebut.
Beberapa jam sebelum penarikan pasukan Israel, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros Adhom Ghebreyesus, menyerukan pembukaan koridor kemanusiaan ke al-Shifa.
Ghebreyesus menambahkan bahwa sebanyak 21 pasien Palestina telah meninggal di dalam al-Shifa selama serangan Israel sejak 19 Maret, sementara 107 pasien lainnya masih berada di dalam rumah sakit dalam kondisi fasilitas medis yang tidak memadai, termasuk empat anak-anak dan 28 pasien dalam kondisi kritis. Ghebreyesus menyebutkan bahwa pasien tersebut termasuk yang mengalami luka radang akibat kekurangan air bersih.
Sumber militer Israel mengatakan melalui radio tentara Israel bahwa Rumah Sakit al-Shifa “tidak akan kembali berfungsi” setelah kehancuran yang dialaminya selama serangan militer Israel.
Sebelumnya, pasukan Israel telah menyerbu Komplek Medis al-Shifa pada November lalu dan memaksa warga Palestina, termasuk pasien dan staf medis, untuk pergi, meninggalkan beberapa bayi yang baru lahir tanpa inkubator yang berfungsi.
Warga Palestina kembali ke al-Shifa setelah Israel pertama kali keluar dari rumah sakit pada bulan Desember. Pada saat itu para jurnalis melaporkan temuan mereka mengenai bayi-bayi yang ditinggalkan dalam keadaan membusuk.
Sumber: Mondoweiss
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
![People stand outside the emergency ward of Al-Shifa hospital in Gaza City on November 10, 2023 [KHADER AL ZANOUN/AFP via Getty Images]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2023/11/people-stand-outside-the-emergency-ward-of-al-shif-750x375.jpeg)







