Sepuluh hari terakhir pada Ramadan adalah waktu yang paling ditunggu sepanjang bulan suci. Ini adalah waktu ketika umat Islam mendedikasikan diri semaksimal mungkin untuk beribadah dan bertafakur, sebab lailatulqadar diyakini akan jatuh pada salah satu hari di sepuluh malam terakhir Ramadan. Pada waktu tersebut semakin banyak doa-doa yang dilangitkan untuk memohon ampunan kepada Allah.
Selain itu, umat Islam meningkatkan ibadah pada sepuluh hari terakhir karena mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. Beliau biasa meningkatkan ibadahnya dengan melakukan itikaf, yaitu berdiam diri dan beribadah di masjid. berzikir, berdoa, salat sunah, dan membaca Al-Quran merupakan bagian penting dari itikaf. Tidak heran jika pada masa-masa ini, banyak orang yang berlomba mendatangi Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsa, agar ibadah mereka semakin berkesan.
Namun demikian, Ramadan di Palestina pada tahun ini kembali harus menyaksikan pembatasan dan larangan, termasuk dalam hal ibadah. Pada 28 Februari, bertepatan dengan hari ke-11 bulan suci Ramadan, Otoritas Israel menutup Masjid Al-Aqsa dengan dalih adanya eksalasi konflik dengan Iran. Mereka mengusir ribuan jemaah yang ketika itu tengah bersiap untuk salat Zuhur. Setelah pengusiran, gerbang Al-Aqsa ditutup, hanya penjaga yang diizinkan masuk, sehingga kompleks tersebut menjadi kosong.
Penutupan ini mencegah umat Islam melaksanakan salat Tarawih selama lebih dari sepekan, mencegah umat Islam melaksanakan salat Jumat, sementara salat lima waktu hanya dapat dihadiri oleh segelintir petugas. Pejabat Palestina menyebutnya sebagai penangguhan efektif atas status quo Masjid Al-Aqsa. Selain itu, sepanjang Februari, Israel terus membatasi kehadiran umat Islam seiring dengan meningkatnya kehadiran pemukim kolonial Yahudi secara dramatis di kompleks Masjid Al-Aqsa, di bawah perlindungan polisi Israel.
Pasukan Israel juga menutup Kota Tua Al-Quds (Yerusalem) dengan penghalang besi di semua gerbang hingga menyebabkan penurunan pergerakan yang nyata. Para pedagang di Kota Tua mengatakan bahwa tindakan ini telah secara signifikan memengaruhi aktivitas komersial, terutama di pasar yang biasanya ramai selama malam Ramadan.
Inilah fakta Ramadan di Masjid Al-Aqsa; untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat Islam Palestina dilarang mengakses Masjid Al-Aqsa pada sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan (selain pada masa Covid). Penutupan ini telah memutuskan tradisi ibadah dan pertemuan komunitas Palestina yang telah berlangsung berabad-abad, serta menyerang inti kehidupan keagamaan bagi warga Palestina di seluruh wilayah pendudukan.
Pemaksaan realitas baru di Masjid Al-Aqsa

Biasanya pada Ramadan ada ratusan ribu jemaah yang berkumpul di Al-Aqsa. Namun, Masjid Al-Aqsa pada saat ini hanya menyaksikan jumlah yang hampir kosong. Seorang pekerja Wakaf Islam di Al-Quds (Yerusalem) mengatakan bahwa penutupan ini terjadi di tengah upaya Israel untuk mengosongkan masjid dari jemaah Muslim, dengan pembatasan yang semakin ketat terhadap jumlah orang yang diizinkan masuk, bersamaan dengan larangan menyeluruh terhadap individu tertentu.
Menurut laporan terperinci dari Pemerintah Kegubernuran Al-Quds, sebanyak 4,397 pemukim menyerbu kompleks Al-Aqsa hanya selama bulan Februari, sementara 8.637 orang lainnya masuk dengan menyamar sebagai “turis”. Pada periode yang sama, 114 warga Palestina ditangkap di Al-Quds, termasuk perempuan, anak-anak, jurnalis, dan aktivis. Bersamaan dengan itu, sekitar 1.000 penduduk Al-Quds menerima perintah yang melarang mereka memasuki masjid, termasuk imam senior dan 39 karyawan Wakaf Islam.
Doktor Mustafa Abu Sway, seorang pengajar di Masjid al-Aqsa dan anggota Dewan Wakaf Islam di Al-Quds, mengatakan kepada Middle East Eye pembatasan dan penutupan oleh Israel tersebut merupakan bukti bahwa perubahan status quo di Masjid Al-Aqsa yang selama ini dikhawatirkan, telah mulai berlaku. “Saya tidak ingat Al-Aqsa pernah ditutup dengan cara seperti ini. Realitas baru di Al-Aqsa yang kita khawatirkan, kini telah terwujud,” katanya.

Lebih jauh, pemerintah Al-Quds memperingatkan adanya peningkatan berbahaya dalam retorika provokatif yang dipimpin oleh organisasi-organisasi ekstremis seperti kelompok “Temple Mount”. Mereka menyerukan agar penutupan Al-Aqsa dilanjutkan dengan dalih “kurangnya keamanan”. Namun, pemerintah Kota Al-Quds menegaskan bahwa bahwa organisasi tersebut memanfaatkan situasi ini untuk mengintensifkan kampanye propaganda mereka guna memaksakan “Kurban Pesach” di dalam Masjid Al-Aqsa selama Paskah Yahudi (1–8 April 2026 atau dua pekan setelah Idulfitri). Mereka menggunakan gambar dan klip yang dihasilkan AI untuk memobilisasi audiens dan memperlihatkan ritual kurban Yahudi di Al-Aqsa yang bangunannya mereka ubah menjadi bangunan imajiner Kuil Ketiga.
Nyatanya, dalih keamanan itu hanyalah bualan. Para jemaah Palestina dicegah mencapai Masjid Al-Aqsa, sementara ribuan pemukim kolonial merayakan hari raya “Purim” di jalan-jalan Al-Quds–sebuah pemandangan yang menggambarkan standar ganda yang diterapkan oleh otoritas pendudukan. Maka, penutupan Al-Aqsa yang dilakukan oleh Israel merupakan bagian dari upaya politik dan ideologis untuk mengubah realitas agama, sejarah, dan status quo di Masjid Al-Aqsa.
Pembatasan yang mengisolasi Al-Aqsa dan Al-Quds dari tradisi Ramadan Palestina
Ramadan di Palestina biasanya adalah “Ramadan yang berdandan”. Orang-orang sibuk menghiasi lorong-lorong kota dengan fanous, lampu khas Ramadan, dan dengan dekorasi lainnya. Namun, pada Ramadan tahun ini, tembok-tembok Kota Tua Al-Quds terlihat kosong dan perayaannya sangat suram. Israel melarang dekorasi Ramadan dan membatasi berbagai kekhasan Ramadan lainnya, termasuk mesaharati.

Areen Al-Za’anin merupakan seorang pemuda dari lingkungan Wadi al-Joz di Al-Quds bagian timur. Setiap tahunnya pada Ramadan ia akan berdiri menghidupkan tradisi mesaharati, orang yang bekeliling di lingkungan sekitar untuk membangunkan penduduk agar mereka segera sahur. Kehadiran mesaharati sangat dinantikan oleh warga Palestina, khususnya anak-anak, karena penampilan yang menarik; mengenakan pakaian khas, menabuh drum, serta membacakan doa dan syair.
Ahmad al-Safadi, seorang aktivis di Al-Quds yang dilarang memasuki Masjid al-Aqsa selama enam bulan, mengatakan kepada Jerusalem Story, “Israel tidak ingin kami merayakan Ramadan sebagaimana biasanya. Mereka tidak ingin kami menghadirkan senyuman di wajah anak-anak kami. Situasi di Al-Quds sangat sulit dengan tindakan Israel yang telah merampas semangat Ramadan. Ramadan tahun ini terasa hampa.”
Sebelum Ramadan, Otoritas Israel juga mengumumkan akan memberlakukan tindakan pembatasan terhadap warga Palestina dari Tepi Barat yang hendak memasuki Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua Al-Quds. Jumlah mereka dibatasi hingga 10.000 orang, dengan syarat memiliki kartu identitas Otoritas Palestina. Akes tersebut hanya dibuka bagi pria berusia 55 tahun ke atas, wanita berusia 50 tahun ke atas, dan anak-anak hingga usia 12 tahun.

“Sepuluh ribu jemaah Palestina (dari Tepi Barat) akan diizinkan masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa untuk salat Jumat sepanjang Ramadan, dengan syarat mendapatkan izin harian khusus terlebih dahulu,” kata COGAT, badan kementerian pertahanan Israel yang bertanggung jawab atas urusan sipil Palestina di wilayah pendudukan.
Izin tersebut hanya berlaku selama beberapa jam pada siang hari, setelah itu mereka harus bergegas kembali melalui pos pemeriksaan dan memberikan data diri seperti pemindaian mata atau sidik jari untuk membuktikan bahwa mereka memang telah kembali tepat waktu.
“Ada 3,3 juta orang di Tepi Barat yang diduduki. Maka, mengizinkan hanya 10.000 orang untuk salat Jumat pada Ramadan ini layaknya setetes air di lautan,” lapor Nour Odeh dari Al Jazeera. Pembatasan ketat dalam beribadah di Masjid Al-Aqsa pada Ramadan ini menurut Odeh adalah bagian dari upaya Israel untuk memutus ikatan antarkomunitas di Palestina.
“Pergi ke kompleks Masjid Al-Aqsa adalah bagian dari tradisi Palestina, yang telah berlangsung selama beberapa generasi, selama ratusan tahun. Menghabiskan hari di sana adalah bagian dari warisan Palestina. Apa yang dilakukan Israel pada saat ini adalah cara untuk memutuskan hubungan antara penduduk di Al-Quds bagian timur yang diduduki dengan penduduk di wilayah Tepi Barat yang diduduki.”
Akankah Ramadan berlalu tanpa itikaf di Al-Aqsa?

Sepuluh hari berlalu dan Masjid Al-Aqsa masih kosong. Kota Tua Al-Quds tampak seperti pos militer, dengan penghalang besi dipasang di gerbang kota, sementara gerbang Masjid Al-Aqsa tertutup sepenuhnya. Kota yang biasanya menjadi sangat ramai dan meriah kala Ramadan, kini diselimuti keheningan mendalam.
Pada Jumat ketiga Ramadan, warga Palestina berupaya mencapai Kota Tua dan Masjid Al-Aqsa. Namun, pasukan pendudukan menghentikan mereka dan memaksa mereka untuk salat di jalan atau di titik terdekat yang dapat diakses. Ratiba al-Natsheh, anggota Komite Aksi Nasional dan Populer di Al-Quds, melaporkan bahwa penutupan ini sangat signifikan mengingat upaya terang-terangan Israel yang hendak mengubah status quo di Al-Aqsa. Sebelum Ramadan dimulai, pendudukan telah berupaya untuk membangun realitas baru dengan meningkatkan serangan pemukim, membatasi jemaah, dan melarang itikaf.
Di bawah “status quo” yang berlaku, hak ibadah di Al-Aqsa merupakan hak eksklusif yang hanya dimiliki umat Islam. Yahudi dan pemeluk agama yang lain diizinkan untuk berkunjung, tetapi tidak untuk melakukan ritual keagamaan di sana. Kenyataanya, status quo ini terus dilanggar. Otoritas Israel memberikan izin luas kepada kelompok ekstremis Yahudi untuk mengintensifkan serbuan ke Al-Aqsa di bawah pengawalan polisi. Mereka bukan hanya berkunjung, melainkan juga bernyanyi, menari, dan melakukan ritual talmudiah lainnya secara terbuka, sebagian besar di area sebelah timur Masjid Al-Aqsa.
Bangunan yang terlihat pada saat ini di kompleks Masjid Al-Aqsa, mulai didirikan oleh Khalifah Umayyah sejak tahun 705, dan selama 13 abad terakhir telah menjadi tempat ibadah umat Islam. Satu-satunya periode penutupan yang panjang (88 tahun) adalah ketika berada di bawah kekuasaan Tentara Salib Eropa, yakni sejak 1099 hingga 1187. Fungsi masjid kembali dipulihkan setelah pembebasan oleh Salahuddin al-Ayyubi pada 1187.
Setelahnya, Al-Aqsa sempat kembali ditutup oleh Wakaf Islam ketika pandemi virus korona. Umat Islam juga pernah menolak memasuki area Al-Aqsa selama 14 hari pada tahun 2017 sebagai bentuk protes atas pemasangan detektor logam oleh Israel, hingga detektor tersebut disingkirkan. Namun, penutupan kali ini terjadi pada situasi berbeda. Penutupan ini terjadi atas paksaan Israel, bersamaan dengan terus meningkatnya angka serbuan pemukim kolonial ke Al-Aqsa, termasuk ajakan untuk melakukan ibadah Yahudi di Al-Aqsa serta kampanye untuk mengambil alih Al-Aqsa dan menjadikannya Kuil Ketiga.
Penutupan ini terjadi pada Ramadan, ketika biasanya ratusan ribu penduduk Palestina berkumpul untuk beribadah dan berdiam diri di Al-Aqsa dengan niat untuk menjaganya. Sejak masa Salahuddin, Masjid Al-Aqsa telah melewati berbagai dinamika sejarah, namun kini Al-Aqsa menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Di tengah pengikisan status quo dan normalisasi pelanggaran ritual oleh kelompok ekstremis, narasi sejarah yang telah terjaga selama 13 abad sedang coba dihapus secara paksa.
Ramadan akan segera berlalu, dan Al-Aqsa masih ditutup. Apakah umat Islam masih dapat menjumpainya di sepuluh hari terakhir? Apakah Qiyamullail dapat ditunaikan di atas tanahnya dan di antara dinding-dindingnya? Apakah ketenangan itikaf masih dapat dirasakan di pelatarannya? Atau, akankah keheningan di gerbang-gerbang Al-Quds kali ini menjadi tanda perubahan yang tidak ingin kita bayangkan?
(LMS)
Referensi








