JAKARTA-Genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza telah menargetkan warga sipil tanpa pandang bulu, tak terkecuali anak-anak, lansia, dan orang-orang berkebutuhan khusus. Bagi yang selamat dari pengeboman dan tembakan, mereka juga dihadapkan dengan berbagai tantangan di tengah runtuhnya layanan kesehatan di Gaza, sehingga satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan pengobatan adalah dengan pergi ke luar negeri. Untuk bantu pulihkan luka mereka, pada 19 Juni 2025, Adara Relief International mengirimkan bantuan operasi dan obat-obatan yang memberi manfaat bagi 7 penduduk Gaza yang telah dievakuasi ke Kairo, Mesir.

Sistem kesehatan di Gaza saat ini telah mencapai titik kritis akibat genosida yang telah berlangsung selama 22 bulan lamanya. Sebanyak 22 dari 36 rumah sakit di Gaza telah kehabisan layanan, sedangkan sisanya beroperasi dengan penuh keterbatasan akibat kurangnya bahan bakar, minimnya fasilitas dan obat-obatan, serta banyaknya tenaga medis yang gugur karena ditargetkan oleh Israel. Di tengah serangkaian tantangan tersebut, banyak korban terluka yang tidak bisa diobati secara maksimal di Gaza, sehingga satu-satunya jalan bagi mereka agar bisa pulih adalah dengan mendapatkan perawatan di luar Gaza.
Saat ini, 14.800 penduduk Gaza sangat membutuhkan perawatan kesehatan di luar negeri, sedangkan Organisasi Kesehatan Dunia baru mampu memfasilitasi 62 pasien saja. Meski banyak korban terluka yang sangat perlu untuk pergi ke luar negeri karena kondisi kesehatan mereka sudah di ambang batas, namun mendapatkan izin untuk keluar dari Gaza sangatlah sulit. Penduduk Gaza yang ingin keluar dari Gaza harus mendapatkan perizinan dari Israel, juga harus membayar biaya yang sangat tinggi, sehingga banyak yang tidak mampu melakukannya meski mereka sangat butuh.

Untuk membantu memulihkan luka yang diderita oleh penduduk Gaza, pada 19 Juni 2025, Adara Relief International mengirimkan bantuan operasi dan obat-obatan yang memberi manfaat bagi 7 penduduk Gaza yang telah dievakuasi ke Kairo, Mesir. Di antara bantuan yang diberikan juga termasuk terapi motorik dan hydrotherapy untuk anak-anak Gaza yang berkebutuhan khusus dengan jangka waktu perawatan selama 6 bulan.



Anak-anak berkebutuhan khusus yang dievakuasi ke Kairo, Mesir, mungkin belum mengerti mengapa mereka harus diungsikan jauh dari tanah kelahiran mereka. Meski mereka memiliki keterbatasan untuk memahami apa yang sedang terjadi, namun senyum yang mereka berikan saat menerima perawatan sangatlah tulus dan murni. Meski tanpa kata, namun senyum dan tawa mereka seolah berbicara dan berterima kasih kepada Sahabat Adara dan masyarakat Indonesia yang peduli akan kondisi mereka. Semoga setelah ini akan semakin banyak penduduk Gaza yang dapat dievakuasi dan menerima perawatan kesehatan yang mereka butuhkan agar bisa pulih sepenuhnya dari luka-luka mereka.








