• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Senin, Januari 19, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel Sorotan

Semangat Anak-Anak Gaza untuk Menempuh Pendidikan: Senjata untuk Mengakhiri Penjajahan di Tanah Palestina

by Adara Relief International
Juli 13, 2025
in Sorotan
Reading Time: 9 mins read
0 0
0
Semangat Anak-Anak Gaza untuk Menempuh Pendidikan: Senjata untuk Mengakhiri Penjajahan di Tanah Palestina

Anak-anak di Gaza belajar di gedung sekolah yang masih tersisa (QNN)

135
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Sejak genosida Israel terhadap Jalur Gaza dimulai pada Oktober 2023, sekolah-sekolah dan universitas-universitas di Gaza tidak luput dari sasaran penyerangan. Gedung-gedung institusi pendidikan dibom hingga hanya menyisakan puing-puing, sedangkan bangunan yang belum sepenuhnya hancur telah diubah menjadi tempat penampungan bagi orang-orang yang kehilangan rumah mereka. Genosida telah membuat kehidupan, pendidikan, dan impian banyak orang di Gaza sepenuhnya berubah.

Di Gaza, tempat segala kengerian dan penderitaan berkumpul menjadi satu, pendidikan sudah tidak dianggap sebagai peluang untuk mewujudkan hal-hal besar, melainkan telah menjadi bentuk perjuangan untuk mempertahankan kehidupan. Di wilayah yang dijajah dan seluruh warga sipil menjadi korban, semangat untuk menempuh pendidikan telah menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan.

Segala keterbatasan yang disengaja oleh Israel di Gaza, tidak membuat penduduknya, khususnya anak-anak usia sekolah, menyerah pada keadaan. Di antara ruang-ruang kelas yang telah dihancurkan, di tenda-tenda yang dijadikan ruang belajar darurat, di tengah pemadaman listrik dan koneksi internet untuk mengakses dunia luar, juga di tengah ketakutan akan pengusiran dan pembantaian, anak-anak di Gaza tetap bertekad untuk terus belajar demi mewujudkan satu impian: membangun kembali Gaza.

Anak-Anak Gaza Pergi ke Sekolah, Tapi Kali Ini Bukan untuk Belajar

Afnan al-Shenbari dengan ransel merah mudanya, yang tidak diisi buku tetapi pakaian untuk mengungsi (MEE)

Ibrahim al-Mubayed baru berusia tujuh tahun ketika genosida dimulai dua tahun lalu. Beberapa bulan sebelum genosida, ia baru saja mulai masuk Sekolah Dasar di tahun ajaran baru untuk pertama kalinya. Ia masih mengingat dengan jelas hari-hari pertamanya di sekolah, mulai dari perlengkapan-perlengkapan sekolah unik yang dibelikan oleh orang tuanya, juga berjalan kaki ke sekolah setiap pagi. Bagi Ibrahim, sekolah pernah terasa sangat menyenangkan, hingga genosida meletus pada bulan Oktober.

Sebulan setelah genosida, Ibrahim mengungsi bersama keluarganya dari rumah mereka ke sebuah sekolah UNRWA, yang berubah menjadi pengalaman traumatis dan mengerikan bagi anak seusianya. “Sebelum tahun ajaran dimulai, ibu membelikan saya ransel yang menyala ketika ditepuk. Ranselnya berwarna biru, tapi saya tidak membawanya ketika kami mengungsi; Saya meninggalkannya di rumah, dan sekarang rumah telah dibom,” katanya.

Ibrahim dan keluarganya berjalan sekitar 11 kilometer dari lingkungan Shujaiya di Kota Gaza timur ke Kamp Pengungsi Nuseirat di Gaza tengah. Namun, mereka mengungsi beberapa kali setelah itu sampai mereka mencapai sebuah sekolah di Deir al-Balah. “Saya biasa berjalan ke sekolah dengan berjalan kaki; sekolah saya tidak jauh, dan saya menikmati perjalanan setiap hari. Ketika kami datang ke sekolah ini sebagai orang-orang terlantar, saya hanya mampu berjalan separuh perjalanan, lalu kakek saya menggendong saya karena saya pingsan akibat kelelahan dan ketakutan,” demikian ia menceritakan.

Ibrahim mengatakan bahwa dia saat ini berlindung dari pengeboman di lantai dua sekolah, di ruang kelas yang mirip dengan tempat dia seharusnya menerima pendidikannya. “Di sekolah saya di Kota Gaza, saya biasa duduk di kelas untuk menulis dan belajar. Saya akan bermain sepak bola dengan teman-teman (di halaman sekolah), tetapi di sekolah ini tidak. Di sini penuh dengan tenda, dan kami tidak bisa bermain,” katanya.

Baca Juga

Dari Tashrifeh Hingga Pembantaian: Penjara Israel Menjelma Neraka Bagi Tawanan Palestina

“Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

Sejak genosida dimulai pada Oktober 2023, banyak institusi pendidikan di Gaza tidak lagi dapat berfungsi. Menurut statistik PBB pada April 2025, sebanyak 496 dari 564 sekolah atau hampir 88 persennya telah rusak atau hancur sepenuhnya. UNRWA merincikan bahwa sebanyak 241 sekolah negeri mengalami kerusakan parah, sementara 111 telah hancur total. Selain itu, 91 sekolah umum dan 89 sekolah UNRWA telah dibom atau dirusak secara langsung. Selain itu, semua universitas dan perguruan tinggi di Gaza dipastikan telah hancur dan tak ada yang berfungsi lagi.

Universitas Islam Gaza setelah dibom oleh pasukan Israel (The Intercept)

Perintah pemindahan paksa juga telah membuat sekolah-sekolah beralih fungsi menjadi tempat penampungan. Lebih parah lagi, Israel seringkali menargetkan sekolah-sekolah yang dijadikan penampungan untuk menargetkan warga sipil. Di Gaza Utara, tingkat kehancuran gedung sekolah mencapai 100%; semua bangunan sekolah telah hancur atau rusak. Di Kota Gaza 92,8% bangunan sekolah terpengaruh, sementara di Rafah, 91% bangunan sekolah telah hancur atau rusak. Selain itu, banyak sekolah telah digunakan untuk kepentingan militer Israel, seperti pangkalan militer dan pusat penahanan.

Reliefweb menambahkan bahwa lebih dari 645.000 siswa telah kehilangan ruang kelas, lebih dari 720.000 siswa Palestina telah mengalami gangguan total dalam pendidikan mereka selama genosida, dan 90.000 mahasiswa terganggu pendidikannya. Serangan pasukan Israel tidak pernah memandang sasaran, bahkan siswa dan tenaga pendidikan pun banyak yang telah menjadi korban.

Menurut Euro-Mediterranean Human Rights Monitor, tiga rektor universitas dan lebih dari 95 dekan, termasuk 68 penyandang gelar profesor, telah terbunuh dalam serangan udara Israel. Antara 7 Oktober 2023 hingga 15 April 2025, sebanyak 13.419 siswa meninggal dan 21.653 terluka. Di antara tenaga pendidikan, 651 guru meninggal dan 2.791 terluka. Sementara jumlah siswa dan staf yang ditahan masih belum diketahui, tetapi diperkirakan mencapai ratusan orang.

Di tempat yang berbeda, anak lainnya, Afnan Khaled al-Shenbari yang berusia 12 tahun, bercerita bahwa ia baru saja membeli ransel baru berwarna merah muda untuk persiapan tahun ajaran baru tahun 2023. Ini merupakan tahun terakhirnya di Sekolah Dasar, sehingga ia sangat bersemangat untuk mendapatkan nilai terbaik. Namun hanya dalam hitungan bulan, Afnan terpaksa mengeluarkan seluruh buku dari tas barunya, lantas mengisinya dengan beberapa potong pakaian, dan melarikan diri dari rumahnya bersama keluarganya di bawah pengeboman Israel.

Afnan kemudian mengungsi bersama keluarganya di sekolah Deir al-Balah di Gaza tengah. Saat ini, artinya sudah nyaris dua tahun ia telah kehilangan akses terhadap pendidikan di tengah genosida Israel yang semakin parah. Gadis kecil itu mengatakan bahwa impiannya saat ini sangatlah sederhana, yaitu ia ingin menggunakan tas sekolahnya untuk tujuan yang seharusnya. Ia ingin tas itu diisi dengan buku-buku pelajaran dan perlengkapan sekolah, bukan diisi dengan beberapa helai pakaian dan barang-barang darurat untuk dibawa ketika mengungsi.

“Saya sudah terjebak di kelas enam selama dua tahun, karena saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk menyelesaikannya,” ujar Afnan. “Di kelas lima, saya memiliki rata-rata tinggi pada akhir tahun, 92 persen, tetapi saya berharap untuk mendapatkan yang lebih tinggi di kelas enam. Tapi di sinilah saya, menghabiskan hidup di sekolah, bukan untuk menempuh pendidikan, tetapi sebagai tempat berlindung dari penembakan.”

Afnan mengatakan bahwa pada 1 Agustus 2023, UNRWA sempat meluncurkan program Back to Learning sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan anak-anak di Gaza. Program ini berisi kegiatan dukungan psikososial, berfokus pada seni, musik dan olahraga, serta meningkatkan kesadaran akan risiko yang ditimbulkan oleh persenjataan eksplosif. Seiring berjalannya waktu, fokus kemudian bergeser ke kegiatan pembelajaran informal, yang meliputi pelajaran membaca, menulis, dan matematika.

Walaupun begitu, Afnan mengatakan bahwa ia sebenarnya berharap masih bisa belajar lebih banyak hal, sebab program tersebut belum bisa memfasilitasi banyak mata pelajaran bagi anak-anak. “Sains adalah subjek favorit saya, tapi saya tidak bisa mengambilnya sekarang. Saya berharap untuk menjadi analis laboratorium medis di masa depan dan dengan demikian saya perlu belajar ilmu pengetahuan alam,” demikian Afnan mengatakan.

Buku-buku Dikorbankan untuk Bertahan Hidup

 

Seorang guru mengajar anak-anak sekolah menengah di Deir al-Balah (The New Arab)

Kerinduan untuk menempuh pendidikan tidak hanya dirasakan oleh anak-anak usia sekolah, tetapi juga mengganggu pikiran orang tua mereka. Mohammed al-Raqab, ayah dari tujuh orang anak, mengakui bahwa tahun ajaran baru merupakan waktu-waktu yang cukup sulit untuk dilalui oleh ia dan keluarganya. Di satu sisi, ia menyadari bahwa situasi di Gaza semakin lama semakin tidak aman, tetapi di sisi lain, ia tidak tega jika tidak memenuhi keinginan anak-anak untuk kembali menempuh pendidikan.

“Banyak rumah hancur, dan kami sebagai keluarga tidak memiliki banyak hal dasar, termasuk seragam sekolah dan perlengkapan pendidikan,” kata al-Raqab. “Terlepas dari segalanya, saya tidak bisa melihat anak-anak saya menyerah pada impian pendidikan mereka, karena mereka menganggap pendidikan sebagai satu-satunya harapan mereka untuk membangun masa depan. Itulah sebabnya, kami mencoba dengan segenap kekuatan kami untuk membantu mereka kembali ke sekolah.”

Sama seperti orang tua lainnya di Gaza, Al-Raqab takut kehilangan anak-anaknya akibat serangan brutal pasukan Israel. Selain itu, ia juga mengkhawatirkan kondisi mental anak-anaknya jika harus belajar di tengah kengerian genosida. “Banyak anak menderita gangguan psikologis, terutama setelah beberapa dari mereka kehilangan keluarga atau rumah mereka hancur. Namun, yang membedakan anak-anak ini adalah bahwa mereka tidak berhenti berharap,” kata Al-Raqab. “Anak-anak saya selalu bertanya kepada saya kapan mereka akan kembali ke sekolah, karena mereka ingin belajar dan menjadi lebih baik untuk masyarakat mereka.”

Hal yang sama juga dirasakan oleh Ahmed al-Hammami, ayah dari dua anak usia sekolah dan dua anak lainnya yang seharusnya menjadi mahasiswa. “Hari ini, musim ajaran baru dimulai di seluruh dunia telah dimulai, tetapi yang bisa kita pikirkan di Gaza adalah, ‘Rudal itu mungkin menghantam kita,’” kata pria berusia 43 tahun itu, yang awalnya merupakan penduduk Kamp Pengungsi Shati, sebelah barat Kota Gaza.

“Putra bungsu saya seharusnya mulai sekolah tahun ini, tetapi sama seperti anak-anak lain, dia sibuk bersama saudara-saudaranya mengambil air dan mencari makanan,” katanya. Hammami mengatakan bahwa kurangnya pendidikan sangat memengaruhi perilaku anak-anak di Gaza, membuat mereka menjadi agresif dan penuh kekerasan. “Hati saya sakit menyaksikan semua anak tidak bisa pergi ke sekolah untuk tahun kedua berturut-turut. Hati saya menangis untuk anak-anak saya, yang dulunya adalah siswa berprestasi di sekolah mereka.”

Hammami meyakini bahwa Israel “sengaja berusaha membuat orang-orang Palestina tidak berpendidikan.” Apa yang dikatakan oleh Hammami tidaklah berlebihan, sebab nyatanya Israel memang dengan sengaja meruntuhkan sektor pendidikan di Gaza. Sebelum genosida, sektor pendidikan di Gaza berkembang pesat. Terlepas dari penjajahan dan blokade, Gaza menjadi salah satu wilayah dengan tingkat melek huruf tertinggi di dunia, mencapai 97 persen. Dulunya, tingkat pendaftaran di pendidikan menengah mencapai 90 persen, dan pendaftaran di pendidikan tinggi sebesar 45 persen.

Salah satu alasan utama keberhasilan ini adalah karena pendidikan di Gaza benar-benar gratis di tahap primer dan sekunder. Sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah dan UNRWA terbuka untuk semua anak Palestina dan memastikan kesempatan yang sama untuk semua orang. Buku teks didistribusikan secara gratis, sementara keluarga menerima dukungan untuk membeli tas, buku catatan, pena, dan seragam sekolah. Sederhananya, sebelum genosida di Gaza, pendidikan dapat diakses oleh semua orang.

Akan tetapi sejak genosida dimulai, tidak adanya pendidikan reguler yang diperparah dengan perintah pemindahan paksa terus-menerus telah membuat akses terhadap pendidikan semakin menantang. Akibatnya, pusat pendidikan berbayar muncul, menawarkan pembelajaran pribadi. Rata-rata, biaya yang ditawarkan berkisar antara $ 25 hingga $ 30 per subjek per bulan, dan dengan delapan mata pelajaran, biaya bulanan mencapai $ 240 – jumlah yang tidak mampu dipenuhi oleh sebagian besar keluarga di Gaza.

Pendidikan online juga menjadi masalah tersendiri karena membutuhkan perangkat seperti laptop atau komputer, internet yang stabil, juga listrik, yang sangat sulit untuk dipenuhi di Gaza. Akibatnya, meski banyak anak masih memiliki semangat untuk bersekolah, mereka tidak punya banyak pilihan karena kemampuan keluarga mereka sangatlah terbatas dalam kondisi ini, terutama bagi keluarga yang telah kehilangan peran pencari nafkah. Saat ini, bertahan hidup telah menjadi prioritas di Gaza, sebelum memenuhi kepentingan-kepentingan lainnya.

Sham Ammar, seorang siswa sekolah menengah tahun kedua yang belajar secara daring dengan Kementerian Pendidikan, berbagi kisahnya: “Di Gaza, kami menghadapi banyak tantangan yang menghambat pendidikan, seperti tidak adanya sekolah dan guru, bersama dengan pemadaman listrik yang sering terjadi. Pada siang hari, kami mengandalkan sinar matahari, sementara pada malam hari, kami mengandalkan senter ponsel. Saya pribadi harus melakukan perjalanan jarak jauh untuk menemukan tempat dengan akses internet untuk mengunduh video pendidikan dari YouTube. Tekanan psikologis yang konstan dari pengeboman yang sedang berlangsung juga sangat memengaruhi saya, terutama karena saya kehilangan sebagian dari keluarga saya. Selain itu, kurangnya nutrisi yang tepat, seperti vitamin, sayuran, dan buah-buahan, membuat saya sulit untuk fokus dan melanjutkan studi saya.”

Kondisi kemanusiaan yang sangat sulit di Gaza telah membuat anak-anak tidak punya pilihan selain membantu keluarga mereka. Di tengah blokade bantuan dan penutupan perbatasan yang terus berlanjut, mereka harus “bertempur” setiap harinya dengan orang-orang dewasa demi mendapatkan jatah makanan dan air bersih agar keluarga mereka dapat bertahan hidup. Mereka masih bersemangat untuk menempuh pendidikan, namun di saat yang sama mereka juga membutuhkan makanan dan air bersih untuk bisa bertahan.

Seorang anak berusia 12 tahun, Rama Abu Seif, mengatakan bahwa ia sangat rindu untuk hadir ke sekolah dan ruang kelas untuk belajar, tetapi bukan untuk berlindung dari serangan bom dan rudal Israel. Sama seperti anak-anak lainnya, kini tas sekolahnya telah berubah fungsi menjadi penampung pakaian dan barang-barang untuk mengungsi. Selain itu, karena bahan bakar semakin lama semakin menipis, buku-bukunya juga telah dikorbankan menjadi bahan bakar untuk menyalakan api.

“Tentu saja kami ingin kembali (ke rumah) dan menghidupkan kembali hari-hari dengan belajar dan bermain di sekolah. Namun semua itu telah hilang dan kami kehilangan dua tahun karena genosida,” katanya. Kenyataan yang sekarang dihadapi, alih-alih berolahraga dan bermain di taman bermain sekolah, Rama menghabiskan waktu bermainnya untuk menunggu dalam antrean panjang agar bisa mendapatkan giliran untuk mengumpulkan air, yang seringkali kotor dan tidak dapat diminum.

Pendidikan: Bentuk Perlawanan untuk Mengakhiri Penjajahan

Sekolah Dar al-Arqam di Kota Gaza yang telah dihancurkan oleh pasukan Israel.
(Al Jazeera)

Ada perasaan yang tidak dapat dideskripsikan ketika menyaksikan anak-anak di Gaza, yang sekitar dua tahun lalu berlarian riang ke sekolah mereka, tertawa dan bermain, sekarang berdiri di bawah teriknya matahari atau bertahan dalam udara dingin. Mereka berdesakan di dalam antrean panjang atau bekerja menjual apa pun yang mereka bisa demi mendapatkan sedikit uang atau makanan dan minuman untuk membantu keluarga mereka. Lebih nahas lagi, tak sedikit dari anak-anak ini yang hanya tertinggal nama dan kisahnya karena telah berpulang. Tetapi di balik seluruh kekacauan tersebut, hati kecil mereka masih sangat haus akan ilmu pengetahuan.

“Kami tidak lagi memiliki seragam sekolah, tetapi itu tidak akan menghentikan kami untuk belajar. Kami ingin membangun masa depan kami, bahkan jika sekolah kami hancur,” kata siswa kelas sepuluh, Mahmoud Bashir. “Pendidikan adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup, tidak hanya dari keadaan, tetapi dari ketidaktahuan bahwa penjajah berusaha memaksakan kondisi ini pada kita,” tambahnya. “Betul, ada kekurangan buku dan fasilitas, tetapi tidak ada yang bisa menghentikan kami untuk bergerak maju.”
Bagi anak-anak Gaza, pendidikan tidak pernah hanya tentang mendapatkan sertifikat akademik atau kertas ijazah resmi. Pendidikan selalu berbicara tentang optimisme dan keberanian, menjadi bentuk perlawanan terhadap pendudukan Israel, serta kesempatan untuk mengangkat keluarga mereka keluar dari kemiskinan dan memperbaiki keadaan mereka. Pendidikan adalah hidup dan harapan bagi mereka. Hari ini, harapan itu telah terkubur di bawah puing-puing oleh bom Israel, akan tetapi dari gedung-gedung sekolah yang hancur, dari buku-buku yang terbakar, dan dari ransel-ransel yang beralih fungsi, mereka akan selalu bisa menemukan harapan baru untuk membangun kembali Gaza.

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.

Sumber:
https://www.aljazeera.com/opinions/2025/4/19/gaza-had-educational-justice-now-the-genocide-has-wiped-that-out-too

https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/verification-damages-schools-based-proximity-damaged-sites-gaza-occupied-palestinian-territory-update-9-may-2025
https://reliefweb.int/report/occupied-palestinian-territory/scholasticide-continues-israels-ongoing-destruction-gazas-education-system-jeopardizes-entire-generations-future-enar
https://www.theguardian.com/commentisfree/2025/may/30/gaza-graduating-class-2025
https://www.unrwa.org/resources/reports/unrwa-situation-report-177-situation-gaza-strip-and-west-bank-including-east-jerusalem
https://theintercept.com/2025/05/17/palestine-gaza-war-education-school/
https://www.aa.com.tr/en/middle-east/new-school-year-begins-in-war-torn-gaza-after-almost-2-year-hiatus/3490696
https://www.newarab.com/news/gazas-children-begin-new-school-year-after-15-months-war
https://www.newarab.com/news/palestinians-gaza-face-bitter-survival-amid-uncertain-future
https://www.middleeasteye.net/news/gaza-children-new-school-year-no-class
https://www.reuters.com/world/middle-east/gaza-schoolgirl-longs-return-class-war-disrupts-new-academic-year-2024-09-03/
https://www.reuters.com/world/middle-east/fear-lost-generation-gaza-school-year-begins-with-all-classes-shut-2024-09-09/
https://www.palestinechronicle.com/some-100000-students-enrolled-in-gaza-schools-as-academic-year-begins-un/

 

ShareTweetSendShare
Previous Post

Temu Kangen DYP: Momen Haru Orang Tua Bertemu Anak Asuh Gaza

Next Post

Palestina dalam Gambar, Juni 2025

Adara Relief International

Related Posts

Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)
Artikel

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

by Adara Relief International
Januari 7, 2026
0
59

“Saya masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kami selamat dari bom hanya agar anak-anak saya meninggal akibat badai,” demikian Mohammed...

Read moreDetails
Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Januari 7, 2026
30
Tawanan Palestina di penjara Sde Teiman (The Guardian)

Dari Tashrifeh Hingga Pembantaian: Penjara Israel Menjelma Neraka Bagi Tawanan Palestina

Desember 15, 2025
57
Seorang ibu di Gaza menunjukkan foto anaknya sebelum kakinya diamputasi karena serangan Israel (The New Arab)

“Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

Desember 5, 2025
59
Anak-anak Palestina melihat matahari terbenam dari reruntuhan di Jabalia, Gaza (Reuters)

Gencatan Senjata Bukan Alasan untuk Lupa: Palestina Masih Butuh Solidaritas Kita

Desember 1, 2025
52
Potret kaki dua bayi di Gaza yang menderita malnutrisi (Reuters)

Dua Tahun Genosida dan Proyek Penghancuran Generasi Melalui Serangan Fisik dan Mental terhadap Anak-Anak Gaza

November 23, 2025
36
Next Post
Palestina dalam Gambar, Juni 2025

Palestina dalam Gambar, Juni 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630