Pada bulan Juli, otoritas dan pasukan pendudukan Israel menghancurkan, menyita, atau memaksa orang untuk menghancurkan 54 bangunan di Yerusalem Timur dan Area C Tepi Barat. Ini termasuk pelanggaran terhadap 20 rumah, dengan alasan kekurangan izin bangunan yang dikeluarkan Israel, yang hampir tidak mungkin diperoleh. Israel juga menewaskan 10 warga Palestina dalam jangka waktu satu bulan, menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di wilayah Palestina.
Sebagai akibat penghancuran, 66 warga Palestina, termasuk 34 anak-anak, mengungsi, dan mata pencaharian lebih dari 795 orang lainnya terpengaruh. Hal tersebut dicantumkan dalam laporan Perlindungan Warga Sipil yang mencakup periode antara 5 dan 24 Juli.
16 bangunan yang terkena penghancuran merupakan bangunan sumbangan dari donor, yang dibangun akibat adanya penghancuran sebelumnya. Adapun 15 dari 16 bangunan itu dihancurkan dalam satu insiden di al Muntar, di provinsi Al-Quds (Yerusalem), dan bangunan lain dihancurkan di Beit Jala, dekat Bethlehem.
Menurut laporan tersebut, 80 persen dari bangunan yang terkena dampak (43 bangunan) berada di Area C. Sedangkan 11 bangunan yang lainnya yang dihancurkan berada di daerah Yerusalem Timur, termasuk sembilan bangunan tempat tinggal, yang mengakibatkan pemindahan lima keluarga, yang terdiri dari 24 orang, termasuk 12 anak. Delapan dari 11 bangunan yang dihancurkan di Yerusalem Timur dihancurkan oleh pemiliknya untuk menghindari pembayaran denda kepada zionis Israel. Selain itu, otoritas Israel menghancurkan dua bangunan yang berhubungan dengan pertanian di area C Birin dekat Bani Na’im di wilayah Hebron karena dianggap “melanggar tanah negara”.
Pada tanggal 11 Juli, pasukan Israel secara paksa mengusir pasangan lansia Palestina Ghaith-Sub Laban dari rumah mereka di Kota Tua Al-Quds (Yerusalem) setelah perlindungan sewa mereka diakhiri oleh pengadilan Israel. Setelah penggusuran mereka, rumah mereka segera diserahkan kepada pemukim Israel. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia di wilayah Palestina yang dijajah menyatakan bahwa hukum Israel yang digunakan untuk mengusir keluarga tersebut pada dasarnya bersifat diskriminatif dan melanggar kewajiban hak asasi manusia Israel.
Menurut penilaian OCHA, sekitar 1.000 warga Palestina berisiko mengalami pengusiran paksa di Yerusalem Timur, terutama karena kasus pengadilan yang diprakarsai oleh kelompok pemukim. Selain itu, delapan rumah tangga mengungsi dari provinsi Yerusalem dan perbukitan Hebron Selatan, dengan alasan kekerasan pemukim dan hilangnya akses ke lahan penggembalaan, kata laporan OCHA.
Pada tanggal 10 dan 19 Juli 2023, tujuh rumah tangga yang terdiri dari 36 orang, termasuk 20 anak dan delapan wanita (semua pengungsi terdaftar) dari komunitas Badui al-Baqa’a di provinsi Yerusalem, dan satu rumah tangga Palestina yang terdiri dari 13 orang, termasuk sembilan anak dari Komunitas Wedadie Herding di Perbukitan Hebron Selatan (Selatan desa al-Samu’a), membongkar bangunan tempat tinggal dan mata pencaharian mereka dan meninggalkan komunitas mereka dan pindah ke tempat yang lebih aman.
Menurut keluarga itu, mereka pergi setelah meningkatnya kegiatan pemukiman menyusul pendirian pos-pos permukiman penggembalaan dan pertanian baru. Sekitar 300 orang mengungsi dari Ras al Tin, Wadi as Seeq, Ein Samiya, Lifjim dan al-Baqa’a antara tahun 2022 dan 2023, mengutip kekerasan pemukim dan hilangnya akses ke lahan penggembalaan sebagai alasan utama.
Selain penghancuran, penggusuran, dan pemindahan paksa, OCHA mengatakan bahwa pasukan penjajah Israel menembak dan membunuh 10 warga Palestina. Jumlah tersebut termasuk korban anak-anak, antara periode 4 dan 27 Juli dalam insiden terpisah di daerah Nablus, Qalqilya, dan Ramallah.
Juga selama periode pelaporan, 352 warga Palestina, termasuk sedikitnya 56 anak-anak, terluka oleh pasukan zionis Israel di Tepi Barat, termasuk 26 orang oleh peluru tajam. Enam belas warga Palestina, termasuk dua anak, terluka oleh pemukim Israel, yang juga merusak properti Palestina dalam 44 kasus lainnya di Tepi Barat.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








