Setelah Umar bin Khattab wafat, posisi Khalifah digantikan oleh Utsman bin Affan kemudian Ali bin Abi Thalib. Sepeninggal Khalifah Ali, para pemimpin Arab berkumpul pada 660 M di Baitul Maqdis, Palestina, untuk mengikrarkan kesetiaan pada Muawiyah, pendiri Kekhalifahan Umayyah. Peristiwa tersebut menandai peralihan kekuasaan Islam di Palestina dari masa Khulafaur Rasyidin ke masa Kekhalifahan Dinasti Umayyah.
Di Palestina, ciri khas Kekhalifahan Umayyah ditunjukkan melalui pembangunan atau renovasi situs-situs bersejarah, termasuk Masjid Al-Aqsa. Pada masa Kekhalifahan Umayyah, mereka juga memisahkan antara ibu kota keagamaan dan ibu kota administratif. Ibu kota keagamaan tetap terletak di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Al-Quds (Yerusalem), sedangkan ibu kota administratif berada di Al-Ramla. Di kedua kota ini, sejumlah situs yang dibangun pada pada Kekhalifahan Umayyah masih tetap berdiri, menjadi saksi sejarah Palestina pada masa kekuasaaan Islam.
Renovasi Kubah Batu di Masjid Al-Aqsa

Sepeninggal Muawiyah, posisi Khalifah digantikan oleh putranya, Yazid. Setelah wafatnya Yazid bin Muawiyah pada 683 M, Abdul Malik bin Marwan menjabat sebagai Khalifah. Pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, ia membangun kembali Kubah Batu (Dome of the Rock/Qubbah As-Sakhrah) di kompleks Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem) antara tahun 688 dan 691 M.
Masjid Al-Aqsa sendiri diyakini dibangun oleh nabi dan manusia pertama, yaitu Nabi Adam as. Masjid Al-Aqsa kemudian direnovasi dan dibangun oleh Nabi Sulaiman as. Sementara itu, Kubah Batu diyakini dibangun pada 687 H, setengah abad setelah wafatnya Rasulullah saw.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, setelah beliau memasuki Baitul Maqdis pada 637 M, beliau membangun sebuah musala kayu sederhana di atas permukaan tanah Masjid Al-Aqsa yang tertutupi puing-puing. Bangunan awal ini merupakan respons praktis untuk menyediakan tempat salat bagi jemaah di lokasi kiblat pertama umat Islam yang dalam kondisi terbengkalai.
Memasuki era Umayyah, khususnya, musala kayu tersebut digantikan oleh struktur bangunan permanen yang megah dengan pilar-pilar batu dan atap yang luas. Seiring berjalannya waktu dan setelah melewati berbagai fase renovasi akibat gempa bumi, ruang yang dulunya merupakan Musala Umar ini berevolusi dan menyatu ke dalam bentang arsitektur Masjid Al-Qibli. Hingga kini, masjid tersebut menjadi ikon utama di Kompleks Masjid Al-Aqsa, bersama dengan Kubah Batu.
Para sejarawan, arkeolog, kritikus seni, dan arsitek menyebutkan bahwa pembangun, pengrajin, dan pembuat mosaik yang berpartisipasi dalam pembangunan Kubah Batu berasal dari seluruh kekaisaran Arab. Para ahli tersebut membawa serta semua teknik dan metode kerja terbaik yang mereka punya untuk membangun Kubah Batu di Masjid Al-Aqsa.
Ciri khas Kubah Batu adalah bagian kubahnya yang dilapisi oleh emas. Kubah ini dibuat oleh tangan para pengrajin saleh yaitu Raja’ bin Hayya dan Yazid bin Salam. Para peziarah atau pelancong menyamakannya dengan gunung cahaya yang tinggi atau matahari yang cerah. Kubah emas tersebut akan berkilau dan bersinar saat matahari terbit maupun terbenam, menawarkan pemandangan yang indah tak terkira. Hingga kini, orang-orang yang berkunjung ke Masjid Al-Aqsa masih dapat menikmati keindahan kubah emas tersebut, menjadikannya warisan keindahan pembangunan pada masa Kekhalifahan Umayyah.
Istana Hisham, Kastil Umayyah yang Sempat Hilang

Istana Hisham adalah kastil Umayyah yang berasal dari pertengahan abad ke-8 dan merupakan salah satu situs arkeologi terpenting di Tepi Barat. Istana ini dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Umayyah Hisham bin Abdul Malik (724-743 M) di kota Yerikho. Istana ini terkenal karena desain strukturnya yang rumit dan interiornya yang mewah, yang mengambil inspirasi dari penguasa Byzantium di wilayah tersebut. Istana ini, yang memiliki salah satu mosaik lantai terbesar di dunia, digunakan oleh Kekhalifahan Umayyah sebagai tempat peristirahatan selama bulan-bulan musim dingin.
Ketika gempa bumi melanda Lembah Yordania pada 749 M, sebagian besar istana menjadi hancur. Akan tetapi, para pejabat Palestina selama dua dekade terakhir berupaya memulihkan struktur tersebut ke bentuk kejayaannya semula dengan bantuan dari para donor internasional. Istana dua lantai ini dulunya membentang di area seluas sekitar 30.000 meter persegi, terbagi menjadi 22 bagian yang berbeda. Fasilitasnya meliputi hammam (pemandian) yang besar, sebuah masjid, air mancur, dan tembok berpagar.
Tepat di bawah kubah hammam terdapat salah satu mural mosaik terbesar di dunia, yang terbuat dari batu dengan 21 warna berbeda. Desain mural dekoratif tersebut terdiri dari keranjang bunga yang dikelilingi oleh bentuk-bentuk geometris, membentuk mawar yang mengembang ke luar.
Eyad Hamdan, direktur kantor Kementerian Pariwisata di Yerikho, mengatakan bahwa untuk membuat mosaik yang begitu luas, batu-batu dikumpulkan dari seluruh Palestina: “Untuk menyelesaikan satu meter persegi mosaik, Anda membutuhkan 10.000 batu kecil, beberapa di antaranya berukuran satu sentimeter persegi – jadi Anda mungkin bisa membayangkan betapa pentingnya menyelesaikan area yang membentang seluas 827 meter persegi ini,” katanya. “Batu-batu itu berasal dari seluruh Palestina; batu putih berasal dari Hebron, batu kuning dari Birzeit, dan batu hitam dari Nabi Musa, sebuah daerah di dekat Laut Mati. Batu merah berasal dari Al-Quds dan Betlehem.”
Hammam di Istana Hisham merupakan bangunan terbesar kedua di situs tersebut, meliputi area sekitar 30 meter persegi dan terletak di sebelah utara istana. Lengkungan bundar dirancang untuk menopang struktur bangunan dan batu batanya terbuat dari tanah liat yang dibakar. Batu berukir, patung, dan mural digunakan untuk menghiasi hammam dan aula resepsi.



Salah satu fitur istana yang paling menonjol dan dikenal adalah mural Pohon Kehidupan, yang terletak di Diwan Khalifah, tempat Khalifah menerima tamu-tamunya. Mural ini penuh dengan simbolisme filosofis, yang mencerminkan hakikat kehidupan. Di sebelah kanan pohon, seekor singa memangsa kijang, dan di sebelah kiri dua kijang merumput dengan tenang. Gambar-gambar tersebut melambangkan dualitas kehidupan; baik dan jahat, perang dan damai. Diwan tersebut awalnya berisi sejumlah patung, yang kemudian dipindahkan ke Museum Palestina di Al-Quds, yang kemudian dikenal sebagai “Museum Arkeologi Rockefeller”.
Ukiran plester banyak digunakan di seluruh situs, terutama untuk menghiasi dinding, lengkungan, langit-langit, ceruk, jendela, dan balkon. Beberapa desain dan ukiran yang paling mengesankan ditemukan di ruang diwan dan aula resepsi. Ukiran tersebut menggambarkan manusia, hewan, dan tumbuhan serta desain geometris. Aula resepsi dan pintu masuknya juga memuat patung-patung manusia, yang dibuat dengan skala yang hampir sesuai. Banyak dari patung-patung ini masih dapat dilihat hingga saat ini di Museum Palestina di Al-Quds.
Selama bertahun-tahun, banyak upaya telah dilakukan untuk memulihkan dan merestorasi bagian-bagian istana, namun beberapa di antaranya gagal. Kementerian Pariwisata Palestina juga telah mendirikan kanopi untuk melindungi mosaik di istana, dengan pendanaan dari Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA). Meliputi area seluas 2.500 meter persegi, kanopi tersebut juga menutupi aula resepsi dan hammam.
Menurut Hamdan, upaya restorasi terhambat akibat pembatasan yang diberlakukan oleh otoritas pendudukan Israel, yang mempersulit pemindahan peralatan ke area tersebut. “Pendudukan Israel menghentikan banyak material dan peralatan yang dibutuhkan untuk kanopi yang disumbangkan oleh Jepang. Namun, sebagian besar kemudian diizinkan setelah adanya tekanan dari pemerintah Jepang,” kata Hamdan. “Kanopi yang berbentuk seperti tenda ini menutupi lantai mosaik dan melindunginya dari suhu ekstrem, kelembapan, dan hujan. Ini memungkinkan orang untuk datang dan melihatnya tanpa khawatir terinjak-injak dan rusak. Hal ini membuat proses kunjungan wisatawan menjadi jauh lebih teratur.”
Al-Ramla, Ibu Kota Administratif Palestina

Salah satu ciri khas dari pemerintahan pada masa Kekhalifahan Umayyah adalah mereka membuat perbedaan yang jelas antara ranah ‘sekuler’ (politik, duniawi) dan ‘religius’ yang terlihat dari adanya pemisahan antara ibu kota politik (sekuler/administratif/militer) dan ibu kota suci di Palestina. Ibu kota keagamaan masih terletak di Al-Quds (Yerusalem), sedangkan ibu kota administratif pada saat itu berada di Al-Ramla.
Nama Al-Ramla diyakini berasal dari bahasa arab yaitu raml yang berarti pasir. Namun, ibu kota baru ini dinamai bukan karena pasirnya, melainkan untuk mengenang Ramla, putri Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, pendiri Kekhalifahan Umayyah. Reputasi Ramla di kalangan elit penguasa Umayyah meningkat karena ia menikah dengan putra Utsman bin Affan, sahabat Rasulullah SAW yang menjadi Khalifah ketiga setelah Rasulullah wafat.
Al-Ramla merupakan ibu kota administratif Palestina yang didirikan oleh Suleiman bin Abdul Malik, Gubernur Palestina pada 705–715 M. Disebutkan bahwa setelah menjadi Khalifah, Suleiman bin Abdul Malik terus tinggal di Al-Ramla dan memilih untuk tidak pindah ke Damaskus, ibu kota Umayyah saat itu.
Suleiman bin Abdul Malik merupakan Khalifah yang berjasa atas pembangunan istana, masjid, serta sistem penyediaan dan penyimpanan air yang luas. Selama beberapa abad, Al-Ramla berkembang menjadi kota yang berbenteng dengan banyak waduk dan sistem penampungan air hujan yang sangat maju. Al-Ramla juga menjadi terkenal di antara negara-negara Islam karena Masjid Putihnya yang sangat indah—yang menaranya masih berdiri hingga kini—dan karena kesuburan tanah di distrik tersebut, serta pohon buah yang melimpah .
Al-Ramla dipilih sebagai pusat administrasi Palestina karena lokasinya yang strategis di sepanjang jalur perdagangan bersejarah Via Maris (‘jalan laut’ atau ‘jalan Filistin’) melalui Gaza ke Mesir. Posisi Al-Ramla juga menguntungkan karena terletak di pedalaman, jauh dari potensi serangan laut Byzantium dan medan pertempuran Mediterania antara Byzantium dan Arab.
Di bawah kekuasaan Islam, dan selama beberapa abad antara awal abad ke-8 dan akhir abad ke-11, al-Ramla menjadi pusat ekonomi dan politik Palestina dan kota perdagangan terbesar, terkaya, dan terkuat di negara tersebut. Al-Ramla berada di pusat jalur perdagangan utara-selatan dan barat-timur. Sejumlah besar karavanserai (tempat istirahat di jalur perdagangan) yang tersebar di seluruh negeri, dengan jarak sekitar 20 hingga 30 kilometer di antaranya, memungkinkan para pedagang dan peziarah untuk beristirahat semalaman.
Selama berabad-abad pada masa Kekhalifahan Islam, nama ibu kota Palestina, Al-Ramla, menjadi identik dengan nama negara secara keseluruhan, Palestina, dan ibu kota tersebut sering disebut dengan nama Al-Ramla-Filastin pada masa Abad Pertengahan. Al-Ramla digambarkan pada akhir abad ke-10 oleh sejarawan dan ahli geografi kelahiran Al-Quds (Yerusalem), Al-Maqdisi, sebagai salah satu kota ‘terbaik’ di seluruh wilayah Islam. Namun, setelah umat Islam, di bawah pimpinan Salahuddin al-Ayyubi, merebut kembali Baitul Maqdis dari Tentara Salib Latin pada 1187, ibu kota administratif Palestina dikembalikan ke Al-Quds.
Salsabila Safitri, S.Hum.
Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.
Sumber:
Garaudy, R. (2024). Filisthin Ardh ar-Risalat as-Samawiyah (M. Husnil, Ed.; M. Munir, Trans.). Dar Thalas.
Hitti, P. K. (2002). History of The Arabs. Palgrave Macmillan.
Masalha, N. (2023). Palestine: A Four Thousand Year History. Bloomsbury Academic.
https://www.middleeasteye.net/discover/palestine-hisham-palace-umayyad-lost-castle








