Data dari agresi Israel di Gaza menyoroti korban yang menghancurkan akibat kampanye militer Israel, yang telah menewaskan lebih dari 11.000 anak-anak dan membuat sedikitnya 25.000 anak menjadi yatim piatu.
Analisis gabungan dari Oxfam dan Action on Armed Violence (AOAV) mengungkapkan peningkatan tajam dalam kematian warga sipil di Gaza selama setahun terakhir, yang melampaui angka konflik lainnya dalam dua dekade terakhir.
Menurut laporan tersebut, lebih dari 6.000 perempuan dan 11.000 anak-anak telah terbunuh oleh tindakan militer Israel, yang merupakan rekor mengerikan bagi korban sipil di zona konflik.
Angka-angka tersebut melampaui rekor sebelumnya, termasuk 2.600 perempuan yang terbunuh di Irak pada 2016 dan 4.700 anak-anak yang terbunuh setiap tahunnya selama tahun-tahun awal perang Suriah.
Data tersebut menyoroti jumlah korban yang sangat besar akibat operasi militer Israel di Gaza, yang terus berlanjut tanpa henti. Senjata peledak telah menghantam infrastruktur sipil dengan kecepatan rata-rata setiap tiga jam sejak konflik dimulai.
Temuan AOAV menunjukkan kerusakan yang meluas pada rumah, tempat penampungan, sekolah, rumah sakit, dan pusat distribusi bantuan penting. Serangan yang tak henti-hentinya ini telah membuat ribuan keluarga berduka dan ratusan ribu orang mengungsi, dengan wilayah yang disebut “zona aman” menjadi sasaran serangan militer.
Dr. Iain Overton, direktur eksekutif AOAV, menggambarkan situasi tersebut “mengerikan,” dan mengutuk kurangnya intervensi internasional. “Skala kehancuran di Gaza seharusnya menjadi peringatan. Pengeboman terus-menerus terhadap rumah, sekolah, dan rumah sakit dengan frekuensi seperti itu menunjukkan ketidakpedulian yang jelas terhadap kehidupan manusia dan hukum internasional,” katanya.
Pelanggaran hukum
Konflik yang sedang berlangsung telah memicu kecaman luas atas pelanggaran Hukum Humaniter Internasional (HHI). Warga sipil telah berulang kali mengungsi, sering kali ke daerah yang kemudian dibom.
Data Oxfam menunjukkan jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Menurut sebuah studi yang diterbitkan di The Lancet, korban tak dikenal yang terkubur di bawah reruntuhan, bersama dengan mereka yang meninggal karena kelaparan atau runtuhnya layanan kesehatan, bisa membuat jumlah korban tewas menjadi lebih dari 186.000.
Sementara itu, krisis kemanusiaan terus meningkat. Lebih dari 25.000 anak telah kehilangan orang tua atau menjadi yatim piatu, banyak di antaranya juga menderita cedera dan cacat yang mengubah hidup. Perempuan, yang terkena dampak secara tidak proporsional, kini memimpin rumah tangga di tengah kehancuran, sementara ibu hamil dan menyusui berjuang untuk bertahan hidup di tengah sistem perawatan kesehatan yang hancur.
Umaiyeh Khammash, Direktur Juzoor, mitra Oxfam, menekankan penderitaan yang sangat besar: “Trauma yang dialami oleh anak-anak—banyak di antaranya yang kehilangan anggota tubuh atau menghadapi tekanan emosional yang mendalam—tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.”
Sally Abi Khalil, Direktur Oxfam untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, mendesak tindakan internasional segera: “Kegagalan komunitas internasional untuk meminta pertanggungjawaban Israel, ditambah dengan pasokan senjata yang terus berlanjut, telah memungkinkan terjadinya kekejaman yang kita saksikan.”
Sumber: https://www.trtworld.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini







