Komisi Palestina untuk Tawanan dan Mantan Tawanan mengatakan pada Minggu (9/1) bahwa 33 perempuan tawanan yang berada di Penjara Damon Israel telah menderita akibat kondisi penjara yang keras.
Ini termasuk kelalaian medis, penolakan pendidikan, penolakan kunjungan keluarga, termasuk untuk ibu dengan anak kecil, kurungan isolasi, kondisi sel penuh sesak yang sering dipenuhi serangga dan kotoran, serta kekurangan cahaya alami.
Para perempuan tawanan ini juga telah mengalami beberapa bentuk penyiksaan psikologis dan perlakuan buruk selama proses penangkapan dan penawanan mereka, termasuk pemukulan, penghinaan, ancaman, penggeledahan tubuh, dan pelecehan seksual secara eksplisit.
Teknik penyiksaan dan perlakuan buruk ini digunakan tidak hanya sebagai sarana untuk mengintimidasi tawanan perempuan Palestina tetapi juga sebagai alat untuk mempermalukan perempuan Palestina dan memaksa mereka untuk memberikan pengakuan.
Komisi mengatakan beberapa dari perempuan tawanan tersebut menderita masalah kesehatan yang serius. Penelitian yang dilakukan oleh Addameer pada September 2008 mengungkapkan bahwa sekitar 38% perempuan tawanan Palestina menderita penyakit yang dapat diobati dan tidak diobati. Di antara mereka adalah Israa Jaabis, 37 tahun, yang ditangkap pada 11 Oktober 2015 oleh otoritas pendudukan Israel.
Israa, yang memiliki putra berusia 14 tahun, 65 persen tubuhnya terbakar, termasuk luka parah di wajah dan tangannya. Ia membutuhkan setidaknya delapan operasi, termasuk cangkok kulit di sekitar mata kanannya dan rekonstruksi wajah.
Sumber :
33 Palestinian female prisoners suffer behind Israeli bars, says watchdog







