Mengungsi dari rumahnya, seperti sebagian besar penduduk Gaza yang berjumlah 2,3 juta jiwa, Ibrahim Ahmed menghabiskan hari-harinya di pemakaman Tal al-Sultan di kawasan Rafah, menyiapkan deretan kuburan di medan berpasir dan menandainya dengan balok semen karena tidak ada batu nisan.
“Sebagai manusia yang memiliki perasaan, rasanya berat untuk beralih dari membangun hunian yang saya sukai, hingga kini terus membangun kuburan,” kata Ahmed.
“Pekerjaan saya sebagai pekerja bangunan memang sulit, tapi saya akan pulang dengan perasaan berprestasi. Saya membuat hal-hal baru; setiap hari membuat bangunan berbeda dan dekorasi berbeda. Saya pulang ke rumah dengan suasana hati yang baik.”
Kini, setiap hari Ia membawa jenazah dan prosesi sanak saudara yang berduka.
“Saya melihat orang yang berbeda tetapi dengan wajah yang sama, dengan penderitaan yang sama. Ini menyedihkan,” kata Ahmed. Hingga kini setidaknya 30.035 orang telah terbunuh dan 70.457 luka-luka akibat serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober, menurut informasi terkini dari Kementerian Kesehatan Palestina.
“Jumlahnya terus bertambah. Saya berharap saya bisa berhenti melakukan pekerjaan ini,” kata Ahmed. Namun, dengan kepastian akan lebih banyak jenazah yang berdatangan, Ahmed dan relawan lainnya telah mempersiapkan kuburan kosong dalam barisan panjang.
“Saya berharap perang ini berakhir sehingga kami tidak perlu lagi membangun kuburan, melainkan membangun kembali negara ini,” katanya.
Sumber:
https://www.#
https://www.middleeasteye.net
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








